oleh

Sejarah Ratu Kalinyamat Pendiri Kabupaten Jepara

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp 087864404347)

A. Pendekar Putri Jepara

Kabupaten Jepara memiliki teladan utama dalam bidang kepemimpinan kekuasaan dan pemerintahan. Salah seorang raja yang memerintah Kerajaan Kalingga dengan adil adalah seorang wanita yaitu Dewi Sima. Ratu Sima merupakan raja kraton Kalingga yang selalu menjunjung tinggi nilai kebenaran dan keadilan. Ratu Sima memang hambeg adil paramarta.

Dalam memerintah kerajaannya Ratu Sima dapat berla-ku adil kepada siapa saja, tanpa pandang bulu. Kerajaan Kalingga terletak di daerah Keling Jepara. Secara geografis daerah ini termasuk kawasan pesisir. Keling adalah keluarga sing eling.

Raja Kalingga menjadi teladan bagi sekalian perjuangan gerakan kaum wanita. Peranan wanita sangat penting kedudu-kannya dalam masyarakat. Sejarah telah membuktikan arti penting kedudukan wanita baik dalam keluarga, masyarakat, maupun negara.

Di bawah ini disebutkan tokoh-tokoh wanita yang mendukung adanya eksistensi dan legitimasi kekuasaan. Di dalam negara wanita mempunyai kedudukan sederajat dengan pria. Wanita wani ditata. Tapa tapak telapak. Pada hakekatnya kaum wanita mempunyai hak yang sama dengan kaum pria dalam ikut serta melaksanakan tugas-tugas negara.

Di dalam masa pemerintahannya negara mengalami kemakmuran dan kebesaran atau dengan kata lain mengalami ja-man keemasan. Pencuri dan penjahat dihukum mati atau dihu-kum berat, karena itu masyarakat merasa tenteram tidak ada gangguan suatu apapun.

Tokoh lain yang meniru perjuangan ratu Sima adalah Roro Jonggrang. Di dalam pemerintahan raja Baka di Mataram Kuna ada peristiwa yang kemudian lalu bernama ceritera Roro Jonggrang. Ia adalah puteri raja yang dipinang oleh seorang satria yaitu Bandung Bandawasa. Meskipun raja mempunyai kekuasaan yang sangat besar namun Roro Jonggrang tidak dipaksa menerima lamaran tersebut, akan tetapi diberi kebebasan untuk menjawab dan menentukan sikap sendiri.

Kebijakan Ratu Sima jadi inspirasi. Setelah raja Erlangga mengundurkan diri sebagai raja, sebenarnya yang berhak menggantikannya sebagai raja adalah Dewi Kilisuci. Akan tetapi ia tidak bersedia menjadi raja dan lebih suka menjadi pertapa di gunung Penanggungan. Ia dapat menentukan sikap dan menja-lankan perbuatan sesuai dengan kehendak hati nuraninya sendiri. Ini berarti bahwa ia juga memberi kesempatan kepada kedua saudaranya untuk menggantikan ayahnya sebagai raja Daha dan Jenggala.

Ada samubarang gawe yang perlu perhatian. Meskipun Calon Arang melakukan perbuatan melawan negara, namun ia saya kemukakan sebagai contoh karena dengan segala kete-kunannya ia menjadi orang yang sakti. Hal ini menunjukkan bah-wa pada waktu itu wanita juga mendapat kesempatan mengem-bangkan kepandaiannya sesuai dengan kemampuannya.

Liputan JUGA  Mas Kaesang Pengarep Bercita Sejauh Aliran Bengawan Solo

Kecakapan dan kepandaian bukan menjadi monopoli kaum pria saja.Ratu Sima tetap jadi suri tauladan. Sejarah Jenggala dan Daha penuh dibiasi dengan ceritera romantik antara Panji dengan Dewi Sekartaji. Dalam hal ini nampak sekali bahwa wanita dalam hal ini Dewi Sekartaji mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri demi kebahagiaannya.

Kehebatan Ratu Sima tetap berlanjut. Ceritera-ceritera roman tersebut misalnya berbentuk ceritera Dewi Kleting Ku-ning dan ceritera tentang Cinde Laras. Dari ceritera ini nampak bahwa ketenteraman negara sebagian juga tergantung kepada ketenteraman keluarga raja.

Di dalam pemerintahan Majapahit tercatat adanya bebe-rapa wanita yang menduduki jabatan tertinggi yaitu raja Tribu-wana Tungga Dewi Jayawisnu wardhani sebagai raja puteri yang sangat terkenal karena memerintah dengan baik dan merintis kebesaran kerajaan Majapahit.

Di samping itu ada lagi raja puteri yaitu Dewi Suhita yang semasa tampuk pemerintahannya diwarnai oleh terjadinya Perang saudara yaitu perang Paregreg. Setelah perang ini dapat diatasi oleh ayahnya yang bertahta kembali, akhirnya Dewi Suhita menjadi raja lagi untuk kedua kalinya mengganti ayahnya.

B. Pendiri Kabupaten Jepara

Masyarakat Jepara memang sadar sejarah. Setelah Sultan Trenggana wafat, terjadi pelanggaran terhadap Sunan Kalinya-mat dan Sunan Prawata. Pelanggaran hak ini dilakukan oleh Ariya Penangsang yang menjadi Adipati Jipang. Ia adalah putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Pangeran Sekar Seda Lepen adalah putera Sultan Demak dan kakak Sultan Trenggana.

Pangeran Sekar Seda Lepen wafat di sungai karena itu namanya terkenal dengan Pangeran Sekar Seda Lepen artinya yang meninggal di sungai. Karena ia wafat maka yang meng-gantikan menjadi raja ialah Sultan Trenggana. Karena itu sewafat Sultan Trenggana, Arya Penangsang merasa bahwa sebenarnya yang berhak menjadi raja adalah dia.

Untuk mencapai maksud-nya itu karena merasa bahwa ayahnya dahulu redup oleh Sunan Prawata, maka ia lalu membalas tidak hanya Sunan Prawata tetapi juga Sunan Kalinyamat. Iapun mencoba kontra dengan Adipati Pengging akan tetapi tidak berhasil. Untuk membalas hak suaminya, maka Nyai Kalinyamat pergi bertapa tanpa berpakai-an, sampai merasa mendapat petunjuk bahwa pelanggar terse-but akan mendapat balasan setimpal.

Dalam hal ini sedikit banyak ia ikut serta menentukan harah dan nasib kerajaan selanjutnya. Walaupun perbuatannya hanyalah suatu protes terhadap ketidakadilan dan perbuatan sewenang-wenang terhadap suami-nya, tetapi hal ini mengundang simpati dan rasa kasihan masya-rakat untuk membantu menghancurkan sumber kejahatan itu. Keadilan harus ditegakkan.

Pada waktu Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senapati menghadapi Utan melawan Ki Ageng Mangir, salah satu cara untuk mengalahkan musuh tersebut adalah menjadikan putera puterinya sendiri sebagai istri Ki Ageng Mangir. Di-ceriterakan bahwa Ki Ageng Mangir orang yang sakti dan mem-punyai senjata tombak bernama Kyai Baruklinting.

Liputan JUGA  Sejarah Sultan Agung Hanyarka Kusuma

Dengan kekuatan senjata Mataram tidak berhasil mengalahkan musuh-nya. Karena itu lalu dicari jalan yang sebaik-baiknya untuk mengalahkan Ki Ageng Mangir. Puteri raja Dewi Sekar Pembayun dijadikan pemain teledek bersama sama dengan rombongan penabuh gamelan yang telah diatur.

Ki Ageng Mangir berkenan menanggap dan setelah melihat kecantikan pemain puteri tersebut ia jatuh cinta. Kemudian teledek tersebut dijadikan istrinya. Sejarah sebagai kaca benggala. Setelah selang beberapa lama tahulah Ki Ageng Mangir bahwa istrinya adalah putera musuhnya yaitu raja Mataram. Nasi telah menjadi bubur. Ia bersama istrinya menghadap raja dengan maksud menunjukkan kesetiaannya kepada raja. Sesampainya di istana, ia menghadap dan menyembah raja.

Ratu Sima bisa dijadikan sebagai suri tauladan. Akan tetapi, masih ada juga kerajaan-kerajaan yang meneruskan corak kehinduan Majapahit misalnya, Pajajaran yang akhirnya lenyap setelah ditundukkan oleh Sultan Yusuf dari Banten di tahun 1579, juga Balambangan yang di tahun 1639 baru bisa ditundukkan oleh Sultan Agung dari Mataram.

Disamping masyarakat di Pegunungan Tengger yang sampai saat ini masih mempertahan-kan corak Hindunya dengan memuja Brahma, dan Bali yang masih tetap dapat mempertahankan kebudayaan lamanya. Penerus Majapahit yang tetap di Majapahit (selain Purbawisesa yang berkeraton di Kahuripan adalah Kertabumi/ Brawijaya, yang memerintah di tahun 1453-1478. Lantas diketa-hui mengenai perjalanan kerajaan nya yang makin moncer.

Jaman berjalan owah gingsir. Namun ia mempunyai salah satu putra yang bernama raden Patah atau Jin Bun, yang diberi kedudukan sebagi Bupati Demak. Hanya saja yang menarik, ia mengundurkan diri dan pindah ke gunung Lawu, lalu masuk agama Islam. Pada tahun 1437 terjadi peristiwa unik Bre Daha diangkat menjadi ratu Majapahit.

Keadaan ini menunjuk-kan adanya ketegangan yang memuncak, sementara Dewi Suhita tidak berdaya mengatasi kekacauan tersebut. Tokoh wanita yang menjadi inspirasi adalah Ratu Mas Balitar. Kanjeng Ratu Mas Balitar adalah garwa dalem sinuwun Paku Buwana I. Gelar Ratu Balitar lainnya adalah Kanjeng Ratu Ibu atau Sang Aprabu Nini.

Pelaku sejarah Jepara hebat sekali. Berhubung nyata kepribadiannya yang luhur dan agung, Ratu Balitar dihormati sebagai Putri amardika jimate wong nusa Jawa. Sikap Ratu Balitar yang bijak bestari ini mampu meredakan krisis politik yang selalu bergolak pada masa awal kerajaan Kartasura dan Surakarta. Hal ini bukan suatu kebetulan, karena beliau adalah seorang tokoh putri yang gemar akan ilmu pengetahuan.

Liputan JUGA  Sejarah Kabupaten Magelang

Ratu Balitar terlibat dalam pembuatan karya sastra yang berjudul Serat Iskandar, Serat Menak, dan Serat Yusuf. Serat Iskandar masih berkaitan dengan Hikayat Iskandar Zulkarnain berbahasa Melayu. Serat Menak dan Serat Jusuf ini dibuat oleh Ratu Balitar di samping untuk syiar Islam juga demi kemajuan pendidikan masyarakat saat itu yang selalu menghadapi pergo-lakan politik.

Bagi kebanyakan para putri sekarang, kiranya patut apabila mau meniru kebijaksanaan dan kepandaian Kanjeng Ratu Mas Balitar dalam menyikapi perubahan dan pergolakan di pentas kenegaraan. Keberadaan Ratu Sima menjadi inspirasi bagi Raden Ajeng Kartini dalam memajukan emansipasi wanita. Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879.

Untuk mengetahui kehidupan Raden Ajeng Kartini, bisa ditelusuri lewat museum Kartini. Museum RA Kartini berada dilingkungan rumah dinas Bupati Rembang di Jl. Gatot Subroto 8 Rembang, merupa-kan bangunan asli yang dulu dihuni RA Kartini beserta suaminya Djojodiningrat, Bupati Rembang (1889-1912). Sampai sekarang bangunan tersebut masih dipergunakan sebagai rumah dinas Bupati Rembang.

Museum RA Kartini menempati salah satu kamar yang dulu di tempati RA Kartini untuk melakukan aktivitas, menulis buah pikiran dan ide-ide beliau, juga sebagai tempat beliau melahirkan putera satu satunya yang bernama RM Susalit, dan sebagai kamar pribadi sampai beliau wafat.

Disini pengunjung dapat melihat beberapa perabot yang dulu dipergunakan RA Kartini; seperti bak mandi, bothekan tempat jamu, kotak jahitan, meja makan, meja merawat bayi, lukisan karya RA Kartini berupa tiga ekor angsa, naskah tulisan tangan, sepasang rono penyekat ruangan dari kayu berukir hadiah dari ayahandanya, foto-foto kenangan semasa hidupnya di sekitar museum, disebelah timur gapura komplek Rumah Dinas Bupati, masih berdiri dengan kokoh, bangunan kuno yang dahulu digunakan RA Kartini untuk mengajar anak-anak bumi putera.

Beliau dimakamkan di desa Bulu, 17,5 Km dari kota Rembang ke arah selatan jurusan Blora. Di tempat ini pada tanggal 17 September 1904 dimakamkan pahlawan Pergerakan Wanita Indonesia. Areal makam tersebut merupakan makam keluarga Bupati Rembang RMAA Djojodiningrat dan putera RA Kartini, RM Soesalit.

Pada bulan April tepatnya tanggal 21 April untuk memperingati hari kelahiran RA Kartini, puluhan ribu pengunjung berziarah ke makam tersebut. Pendekar kaum wanita sejati. Hubungan Jepara dan Rembang menjadi semakin erat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar

  1. mau nanya sumber tulisan ini darimana dan siapa penulisnya, aku rian lahir di kalinyamatan ..chat ke aku 081390747747 terima kasih.