oleh

Ini Pesan Pengusaha Muda Pacitan, Imam Wahyudi: Filosofi Tanah, Yang Rela Diinjak, Namun Tetap Memiliki Nilai Ekonomis Tinggi

Pacitan, liputan68.com- Kebersamaan yang tak pernah lekang. Begitulah aktivitas pengusaha muda Pacitan, Imam Wahyudi, yang nampak bersahaja.

Hampir saban hari, pria kelahiran 1970 silam ini, selalu berbaur dengan masyarakat disemua tingkatan. Tak kenal rakyat jelata ataupun kaum elite. Bagi Imam Wahyudi, semua adalah saudara yang harus dimuliakan.

“Mereka semua adalah saudara, yang harus kita muliakan. Kami tak pernah mengenal si kaya dan si papa. Kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” ujar bapak dua putri ini, saat melakukan anjang sana dan bersilaturahmi bersama anggota MTB 1001 Goa Pacitan, disalah satu rumah makan sederhana yang berlokasi di Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Wonogiri, Kamis (14/1).

Liputan JUGA  Emak-Emak Di Pacitan, Siap Menangkan Jago Yang Direstui SBY Di Pilbup 2020

Tidak ada niat apapun, kecuali hanya ingin selalu bersama. Sebab dengan kebersamaan, lanjut pria yang akrab disapa Yudi ini, akan menambah rejeki dan juga umur panjang. “Bersama, bersilaturahmi, itu akan menambah ilmu, rejeki dan Insyaallah akan diberikan umur panjang,” tuturnya.

Yudi berpesan, setinggi apapun derajat kehidupan manusia, pada akhirnya nanti akan kembali bersatu dengan yang namanya tanah. Karena itu, milikilah ilmu atau filosofi seperti tanah. “Ia (tanah) setiap hari selalu di injak-injak, namun tetaplah merendah. Seiring waktu berjalan, nilai ekonomis tanah justru semakin melonjak, dan tak akan pernah jatuh. Itulah filosofi yang maha luhur dan patut untuk ditiru,” pesan dia. (yun).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.