Problematika KBM Di Pondok Pesantren Ditengah Pandemi

Ponorogo, liputan68.com – Situasi wabah pandemi tidak menentu kapan ujungnya membuat kalangan pondok pesantren berpikir keras untuk tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM). Seperti yang diungkapkan Rudi Purwanto, M.Pd, Mudarris atau Guru senior Pondok Pesantren Tahfidz Al-Muqaddasah, Ponorogo dalam webinar zoom Ahmarian Bicara Sesi 2 Pendidikan, Jum’at 13/08/2021.

Rudi Purwanto, M.Pd mengatakan bahwa sejak pertengahan bulan Maret tahun 2020, sekolah mulai dari TK/PAUD, SD, SMP, SMA, Universitas Tinggi hingga Pondok Pesantren banyak menghentikan sementara aktivitas pembelajarannya. Hal ini membuat wajah dan masa depan pendidikan kita semakin tak menentu, karena Pandemi Covid-19.

“ Sekitar pertengahan Juni 2020, khususnya PP Al Muqaddasah mulai diberi izin untuk melakukan aktivitas pembelajaran kembali. Namun dengan menyesuaikan protokol kesehatan yang super ketat ” Ucap Ustadz Rudi Purwanto. M.Pd

Menurut Rudi Purwanto, akrab disebut Pulung, pembukaan aktivitas pembelajaran di pesantren di masa pandemi Covid-19 menarik untuk dikaji, mengingat lembaga pendidikan pesantren merupakan pendidikan keagamaan berasrama di mana para santri hidup dalam proses interaksi yang berlangsung secara terus menerus. Daya tampung asrama pesantren pada umumnya terbatas, sarana mandi, cuci, dan kakus yang digunakan secara bersama, dan sanitasi lingkungan pesantren secara kuantitas juga terbatas. Dengan segala keterbatasan itu dikhawatirkan pesantren akan menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“ Kendala pembelajaran di pesantren waktu normal saja banyak apalagi saat pandemi. Seperti pembatasan sosia menjaga jarak yang nyaris menghilangkan interaksi langsung antara pendidik dan anak didik. Tidak semua kebijakan pemerintah bisa di laksanakan di pesantren, banyaknya materi yang tidak selesai karena beban jam pelaharan yang di kurangi. Selain itu sulitnya mendisiplinkan santri dengan protokol kesehatan, bahkan kesulitan guru dalam beradaptasi maupun mengembangkan metodologi pembelajaran agar substansi mata pelajaran yg diberikan dapat dipahami oleh anak didik. “ Ungkap Rudi Purwanto.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *