Liputan BERITA

Usir Pagebluk, Warga Nitikan Gelar Upacara Tetek Melek

Ditulis oleh Liputan68 pada 13 Agustus 2022 ⏱️ 2 Menit Baca

PACITAN – Bencana alam, wabah  penyakit, seakan  tiada henti hentinya melanda negeri ini. Tak terkecuali juga di kabupaten Pacitan.

Berturut-turut mulai bencana alam banjir longsor pada 2017 – 2018 silam, wabah hepatitis A, dan terakhir pandemi covid -19, seolah Tiada henti menerpa masyarakat.

Berangkat dari peristiwa tersebut, sekelompok penggiat budaya dari padepokan Song Meri Pacitan , mencoba merunut persoalan melalui akar tradisi, mereka mencoba kembali melakukan serangkaian upacara adat yang berakar pada muatan lokal. Karena diakui atau tidak,muatan lokal yang bersumber pada kearifan masyarakat dapat dijadikan pertanda atau peringatan Dini tentang akan munculnya kejadian tidak terduga atau bencana.

” Bicara bencana alam sama dengan bicara kebiasaan masyarakat atau kearifan lokal. ngilmu titen atau mengingat tanda alam saat ini sudah lama kita tinggalkan ” kata mustakin tetua padepokan Song meri, Sabtu (13/08/2022).

Menanggapi segala kejadian itu. kemudian padepokan Song meri bersama warga masyarakat desa Sukoharjo sepakat melakukan kembali upacara adat usir pagebluk yang selama ini sedikit terabaikan yaitu upacara Tetek Melek .

” Bersama pemuda dan sesepuh kami persiapan tetek melek. Jangan diartikan macam macam. Ini untuk usir pagebluk. Yang telah menjadi keyakinan warga.” Jelas Aminudin budayawan Nitikan désa Sukoharjo .

Persiapan upacara yang diikuti oleh pemuda desa ini bisa dikatakan cukup meriah, pasalnya mereka dengan sadar melakukannya semata demi menjaga kampung agar tetap aman, terhindar dari bencana.

” Tetek melek selain sebagai upacara usir pagebluk adalah juga sebagai sarana silahturahmi. Utamanya generasi muda yang hari ini keblinger gadget. Maka ketika berkumpul untuk persiapan. Mau tidak mau mereka akan saling berinteraksi langsung.” Ungkap Yudho Trikuncoro,warga desa Sukoharjo.

Meriahnya latihan, cerianya masyakarat dan pemuda seolah menjadi obat lupa bahwa selama ini kita telah dalam kondisi pandemi.

” Saya cukup senang, bisa ikut menjaga tradisi. Dan bisa kumpul ramai ramai dengan teman teman .” Pungkas Dirgan Galaputra, siswa Sanggar kelompok bersama kelas 9, pada pewarta.(Yul)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian