Liputan BERITA

Menguak Sekilas Terbentuknya Kawasan Kars Di Pacitan Versus LSM PCC

Ditulis oleh Liputan68 pada 29 Maret 2023 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan- Hampir sebagian besar wilayah Kabupaten Pacitan merupakan kawasan pegunungan kapur (kars).

Oleh karena itu wajar, jika kota kelahiran Presiden ke enam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut, dikenal dengan sebutan “Kota 1001 Goa” yang cenderung kering dan gersang.

Namun demikian, tak banyak warga masyarakat yang secara alami mendiami wilayah tersebut, yang memahami bagaimana sebenarnya karakteristik dan proses terjadinya kawasan pegunungan kapur itu.

Pegiat LSM PCC, Bandung Edi Suseno mengatakan, pegunungan kapur (kars) terbentuk dari penguraian batuan yang terlarut seperti batu gamping (limestone), dolomit, dan gypsum.

“Hal ini dicirikan oleh adanya system drainase bawah tanah seperti luweng (goa vertikal) dan sungai bawah tanah (Goa).

Keadaan ini juga disebabkan oleh terjadinya proses pelapukan batuan,” kata Bandung, Rabu (29-03-2023).

Drainase dibawah tanah/batuan ini mengakibatkan permukaan tanah nampak seakan kering, jarang ditemukan bahkan tidak nampak adanya sungai maupun danau.

“Jadi kawasan pegunungan kapur dapat dianalogikan dengan ‘spon’ yang menyerap air.

Penampakan kawasan pegunungan kapur yang terlihat kering, sebenarnya terkandung cadangan air
bawah permukaan yang melimpah,” jelasnya.

Lebih lanjut Bandung mengungkapkan, Karakter adanya luweng, gowa dan sungai bawah tanah tersebut, tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi juga terjadi di kawasan kars yang ada dibawah permukaan air.

“Oleh karena itu sering terjadi peristiwa adanya arus ‘bawah permukaan’ yang menelan korban nyawa. Untuk memudahkan memahami kawasan pegunungan kapur, berikut beberapa ilustrasi tentang bagaimana morfologi gunung kapur,” tukasnya. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian