Kampanye Pileg dan Pilpres, Pengusaha Rokok Lokal Di Pacitan Sepi Omset. Banjir Amplop, Rokok Branded Yang Banyak Menangguk Untung
Pacitan,Liputan 68.com- Pesta demokrasi yang mestinya disambut gegap-gempita oleh seluruh elemen masyarakat, namun hal tersebut tak berlaku bagi pengusaha pabrik rokok lokal di Pacitan.
Mereka yang seharusnya menangguk untung besar saat masa kampanye, akan tetapi justru sebaliknya. Mereka banyak mengeluh lantaran omset penjualan yang mestinya ada lonjakan, namun masih datar-datar saja. Bahkan malah sedikit menurun.
Justru rokok-rokok branded yang laris manis, seiring berjalannya masa kampanye pemilu legislatif maupun pemilu presiden.
Widarto, owner salah satu pabrik rokok lintingan terkemuka di Kabupaten Pacitan mengatakan, di periode-periode pemilu sebelumnya, omset penjualan produksi rokok lintingan dari pabrik yang dia punya memang sempat melejit saat masa kampanye berlangsung.
Namun begitu, di masa kampanye Pileg dan Pilpres 2024, justru sepi. Malah kadang mengalami penurunan. “Apanya yang naik. Omset masih sama seperti hari-hari biasa. Malah rokok-rokok branded yang naik omset,” kata pengusaha pabrik rokok yang akrab disapa Wiwit ini, Kamis (1/2).
Pria kelahiran Tulungagung, Jatim ini mengungkapkan, sekarang ini pola pikir pelaku politik ataupun jiwa pilih mungkin sudah banyak bergeser.
Sebelumnya, kenapa omset rokok lokal bisa melejit, itu dikarenakan para pelaku politik kebanyakan memanfaatkan waktu bertemu bersama masyarakat pemilih dengan ditemani sebungkus rokok lokal yang dilihat dari harganya relatif sangat murah. “Dengan biaya ringan (berbekal rokok lokal), namun bisa tepat sasaran. Karena itu dulunya mereka banyak memborong rokok-rokok lokal untuk dibagi-bagikan,” terang Wiwit.
Akan tetapi saat ini, pola atau tradisi semacam itu sepertinya sudah banyak ditinggalkan. Pelaku politik lebih memilih cara instan. Rokok diganti dengan “amunisi” dengan jumlah lumayan.
Pemilih pun demikian. Mereka sepertinya lebih untung diberi sesuatu dengan jumlah lumayan, daripada diberi sebungkus rokok amatiran, sekalipun juga ada isi amplop dengan nominal kecil.
Bagi perokok aktif, bisa dibilang aji mumpung. Mereka, lanjut Wiwit, yang kesehariannya cukup dengan rokok lokalan, namun karena mendapatkan sesuatu dari tim sukses dengan nilai lumayan, akhirnya beralih membeli rokok-rokok branded.
“Mungkin fenomena tersebut yang akhirnya berimbas pada pengusaha lokal. Dan menguntungkan bagi pabrik rokok branded,” tukasnya. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan