Usman Husin Soroti Krisis Elpiji di Kupang–Rote: Dari Langka hingga Harga Melonjak
NTT, Liputan68.com- Persoalan gas elpiji di Kota Kupang belum menemukan titik terang. Setelah sempat menghilang dari peredaran, kini tabung gas kembali tersedia. Namun, kondisi itu justru memunculkan masalah baru: harga yang melonjak tinggi dan kian memberatkan masyarakat.
Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKB, Usman Husin, mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima laporan kelangkaan sejak 7 Maret 2026.
Saat itu, warga mengeluhkan gas elpiji yang biasanya mudah ditemukan, tiba-tiba lenyap dari pasaran.
“Keluhan masyarakat masuk terus, baik melalui telepon maupun pesan singkat. Mereka menyampaikan gas benar-benar sulit didapat,” ujar Usman.
Kelangkaan tersebut memicu keresahan luas, terutama karena terjadi menjelang rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Nyepi, Idul Fitri 1447 Hijriah, dan Paskah.
Di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga, hilangnya pasokan gas menjadi pukulan berat bagi warga.
Tak hanya rumah tangga, pelaku usaha kecil juga ikut terdampak. Sejumlah warung makan dilaporkan terpaksa menutup sementara aktivitasnya karena kehabisan gas untuk memasak.
“Ada warung yang terpaksa tutup karena tidak ada gas. Artinya sudah ada yang menjadi korban dari kondisi ini,” tegas Usman.
Memasuki Rabu, 18 Maret 2026, situasi di lapangan mulai berubah. Gas elpiji kembali tersedia di sejumlah titik. Namun, ketersediaan tersebut tidak diiringi dengan harga yang wajar.
Usman kembali menerima aspirasi dari masyarakat yang mengeluhkan harga gas elpiji 12 kilogram di Kota Kupang yang kini berkisar antara Rp320 ribu hingga Rp350 ribu per tabung.
“Gas memang sudah ada, tetapi harganya sangat tinggi. Ini harus menjadi perhatian bersama karena jelas memberatkan masyarakat,” ungkapnya (19/3/2026).
Keluhan serupa juga datang dari wilayah lain di Nusa Tenggara Timur. Dari Kabupaten Rote, warga melaporkan harga gas elpiji ukuran 5,5 kilogram mencapai Rp195 ribu per tabung.
Menanggapi kondisi tersebut, Usman menegaskan pentingnya langkah cepat dari pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan distribusi berjalan normal serta harga tetap terkendali.
“Negara harus hadir, memastikan pasokan lancar dan harga terjangkau. Jangan sampai masyarakat kecil terus menjadi korban, apalagi di momen hari besar keagamaan,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan