Liputan BERITA

Rawan Longsor Di Jalur Pacitan-Ponorogo, Pemudik Diimbau Lebih Waspada. Ini Langkah-Langkah Yang Telah Disiapkan Dishub Pacitan

Ditulis oleh Liputan68 pada 12 April 2023 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan – Sepuluh hari menjelang hari raya Idul Fitri 1444 Hijiriah, Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan telah melakukan pemetaan titik lokasi rawan bencana dan kemacetan arus lalu-lintas.

Hal tersebut diharapkan, agar pemudik nyaman dan lancar ketika menuju kampung halamannya di Pacitan.

Kabid Lalu-Lintas dan Angkutan, Dinas Perhubungan setempat, Agus Winarno mengatakan, ada beberapa lokasi khususnya jalur yang menghubungkan Kabupaten Pacitan dan Ponorogo yang harus menjadi perhatian para pemudik.

Mengingat kawasan tersebut kerap kali terjadi bencana alam tanah longsor. Seperti halnya di Desa Pucangombo, Gedangan, Kecamatan Tegalombo. “Itu jalur rawan longsor di kawasan Utara. Sehingga pemudik diimbau untuk tetap waspada ketika melintas di jalur tersebut,” kata Agus, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Rabu (12-04-2023).

Kemudian di jalur lintas Selatan (JLS), seperti halnya di Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo. “Yang jalur Utara tepatnya di Desa Cokrokembang. Kawasan tersebut juga rawan terjadi bencana alam tanah longsor,” jelasnya.

Selain kewaspadaan terhadap ancaman tanah longsor, juga pasar tumpah yang acap kali menghambat kelancaran arus lalu-lintas. Seperti misalnya, sambung Agus, Pasar Tegalombo, Kebondalem, dan Arjosari.

Kemudian di wilayah Barat seperti di Pasar Punung. Dan untuk kawasan Utara seperti di Pasar Ketro dan Pasar Tulakan. “Kemudian untuk kawasan wisata, kemacetan juga sering berlangsung di jalur masuk Pantai Klayar dan pantai Watukarung. Mengingat sempitnya badan jalan,” sebut dia.

Lebih lanjut pejabat eselon IIIB ini mengungkapkan, sebagai langkah antisipasi seandainya terjadi tanah longsor hingga membutuhkan waktu lebih dari tiga jam untuk dilakukan proses evakuasi, Dinas Perhubungan bekerjasama dengan institusi terkait lainnya, telah melakukan survey terhadap jalur-jalur alternatif yang bisa dilalui pemudik.

Terkecuali apabila proses evakuasi memakan waktu kurang dari tiga jam, akan dilakukan buka -tutup jalan.

Jalur alternatif tersebut, seperti misalnya di Desa Gemaharjo. Pemudik akan dialihkan menuju Desa Tahunan dan Bandar, Kecamatan Bandar. “Pengalihan jalur alternatif ini hanya untuk kendaraan roda empat. Kendaraan roda enam, mau tidak mau harus menunggu sampai evakuasi selesai,” tegas dia.

Masih dikesempatan yang sama, Agus juga menegaskan, untuk kendaraan besar atau roda enam lebih, akan diberhentikan beroperasi, mulai H-7. Terkecuali kendaraan pengangkut BBM/BBG, sembako dan truk pengangkut motor pemudik.

“Untuk truk angkutan tambang maupun material bangunan, harus berhenti beroperasi,” tukasnya. (Red/yun)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian