Sistem Pemilu Akan Dirubah Menjadi Proporsional Tertutup, Beberapa Kades Di Pacitan Sepertinya Ogah-Ogahan Mundur Untuk Keperluan Pencalegan Di Pemilu 2024?
Pacitan- Kabar akan adanya perubahan sistem pemilu dari proporsional terbuka menjadi proporsional tertutup, cukup mengagetkan parpol dan juga bakal caleg, yang akan dipersiapkan sebagai kontestan pemilu 2024.
Terlebih mereka yang berangkat dari kepala desa aktif dan telah menerima SK Pemberhentian. Sementara dalam daftar caleg sementara, para kades itu berada di nomor urut sandal jepit. Tentu ini bakal menjadikan persoalan sangat krusial bagi parpol pengusung serta para bakal calegnya.
Sementara itu di Pacitan, dari sembilan kades yang mengajukan pengunduran diri baru enam kades yang telah menerima SK pemberhentian. Sementara tiga kades lainnya, ditargetkan pekan ini sudah bisa melepas jabatannya sebagai kepala desa.
“Masih ada tiga kades yang dalam proses,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Pacitan, Heri Setijono, Senin (29/5).
Ketiga kades tersebut masing-masing yaitu, Kades Borang, Kecamatan Arjosari, Kades Sembowo, Kecamatan Sudimoro dan Kades Ketro, Kecamatan Kebonagung. “Yang dua kades Insha Allah pekan ini sudah clear. Yaitu Kades Borang dan Sembowo. Termasuk kesiapan desa untuk segera dilaksanakan pelantikan penjabat kades. Sedangkan yang masih dalam proses yaitu Kades Ketro,” jelas Heri.
Pejabat jebolan sekolah kedinasan ini mengatakan, sejatinya pemkab tidak akan mempersulit proses pengunduran diri kepala desa. Sepanjang kelengkapan administrasi mereka terpenuhi. “Kalau belum lengkap, ya tidak akan bisa di proses. Seperti misalnya usulan dari BPD ke camat. Kalau persyaratan ini belum lengkap, camat tidak akan bisa menindaklanjuti,” terang dia.
Heri juga mengakui kades yang belum menerima SK pemberhentian, secara de jure mereka tetap masih definitif menjabat sebagai kades. Meskipun pada tahapan pencalonan lalu, mereka sudah mendaftarkan sebagai bakal caleg yang diusung oleh masing-masing parpol peserta pemilu.
“Kami tidak bisa menekan. Yang kami lakukan hanya sebatas imbauan dan berkomunikasi kepada mereka. Tentu sebagai wakil pemkab, kami harus memahami kondisi masing-masing desa,” tutur mantan camat dibeberapa wilayah ini.
Masih menurut Heri, kabar adanya perubahan sistem pemilu dari terbuka menjadi tertutup, kemungkinan juga menjadi pertimbangkan bagi kades yang sampai saat ini masih menunda-nuda proses pengunduran dirinya. “Yang paling siap ya hanya Kades Arjowinangun. Sebab sejak awal lalu yang bersangkutan sudah fixed mengundurkan diri untuk keperluan pencalonan anggota legislatif,” tukas Heri.(Red/yun).

Tinggalkan Balasan