Hai Fest 2025 “Resepsi Patah Hati” Pecah di Kupang, Kolaborasi dengan ICW Angkat Isu Lingkungan NTT di Tengah Panggung Musik
NTT, Liputan68.com- Festival musik Hai Fest 2025 kembali mengguncang Kota Kupang. Mengusung tema “Resepsi Patah Hati”, acara yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2025 di Lanud El Tari ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan hiburan, tetapi juga menorehkan warna baru melalui kolaborasi berani bersama Indonesia Corruption Watch (ICW).
Kolaborasi tersebut mengangkat isu krusial terkait minimnya transparansi proyek geothermal di Mataloko dan Poco Leo, sebuah langkah yang jarang dilakukan festival musik di Tanah Air.
Mengemas kampanye bertajuk “Ternyata Ada yang Lebih Penting dari Festival Musik”, Hai Fest menyatukan musik, edukasi publik, dan advokasi lingkungan ke dalam satu panggung besar.
Sejumlah musisi nasional seperti Hindia, .Feast, Last Child, HIVI!, Kunto Aji, Juicy Luicy, The Changcuters, hingga sederet musisi lokal NTT, tampil sambil memperlihatkan visual khusus berisi pesan lingkungan, testimoni warga terdampak, serta temuan kelompok masyarakat sipil.
Visual tersebut membuka mata penonton mengenai dampak nyata yang dialami masyarakat adat: mulai dari potensi kehilangan tanah ulayat, kerusakan kebun akibat luapan lumpur panas, hingga kekhawatiran terhadap risiko kesehatan jangka panjang.
Program Director Hai Fest 2025, Musa Tenggaratimur, menyampaikan bahwa tahun ini pihaknya secara sadar memperluas peran festival dari sekadar ruang hiburan menjadi ruang solidaritas.
“Hai Fest bukan hanya tempat untuk merayakan lagu-lagu patah hati, tetapi juga untuk merayakan keberpihakan,” ujar Musa.
“Kolaborasi dengan ICW adalah bukti bahwa anak muda NTT mampu merayakan musik sambil tetap memikirkan masa depan ruang hidupnya. Musik punya daya untuk menghubungkan pesan penting dengan cara yang emosional, dekat, dan membumi.”
Ia menambahkan, keterlibatan musisi nasional serta lokal memperkuat jangkauan pesan tersebut.
“Ketika ribuan orang berkumpul, ada kekuatan besar yang bisa diarahkan untuk sesuatu yang lebih bermakna. Kami berharap langkah ini menjadi pemantik bagi gerakan yang lebih luas,” tutur Musa.
Gelaran yang berlangsung selama tiga hari ini memadukan penampilan musisi nasional, lokal, dan regional dengan atmosfer emosional khas NTT.
Hari pertama dibuka meriah oleh Juicy Luicy, Muria, Raim Laode, The Changcuters, serta kolaborasi unik Ucup Pop x Ari Lesmana.
Deretan musisi lokal seperti Ave the Artist, Benicias, DJ Dheblis, DJ Jhoox, DJ Ray D, J Sunset, H2K, Samaria, Troasek, hingga Yusten Kaesmetan & Friends turut menghidupkan malam pembuka.
Hari kedua menggema lebih kuat dengan penampilan energik dari Feast, Hindia, K3BI, dan Last Child, disempurnakan oleh musisi lokal dan regional seperti Aresis, BhuRam Dan Rekanan, Bisugema, Cepupus, DJ Adhe Adrianus, DJ Heleyne, DJ Jhansen, Infinity Band, Lukes Project x Risal Maae x King Dae Panie, Rumput Tetangga, dan SVL.
Hari ketiga, yang menjadi puncak festival, ditutup menggelegar melalui penampilan Hipotday!, bersama Ayeline, BestiuA, DJ RRMX, DJ Whiskayuba, Faisal Resi, Heavy Line, Hendra feat. DJ Yosua Laiel, K24 Band, Party Creep, The Linkers, This is Gospel, Tiba Tiba Berkaroae, dan Veins of Betrayal.
Tim Hai Fest menyatakan bahwa musik menjadi medium efektif untuk menyampaikan pesan sosial secara lebih dekat dan emosional.
“Musik punya kekuatan besar. Kami mengapresiasi para musisi yang berani menyuarakan isu ini di panggung. Semoga semakin banyak anak muda sadar bahwa hiburan juga bisa menjadi ruang solidaritas.”
Perwakilan ICW menilai kolaborasi ini sebagai pendekatan kreatif untuk memperluas jangkauan advokasi.
“Transisi energi bukan hanya soal teknis, tetapi menyangkut hak hidup masyarakat. Keterlibatan musisi membuat pesan ini lebih mudah menjangkau publik luas.”
Selain kampanye panggung, Hai Fest dan ICW juga menghadirkan pameran edukatif, rangkaian informasi, dan sesi diskusi mengenai dampak sosial-lingkungan dari proyek geothermal di Flores.
Melalui kampanye lintas sektor ini, Hai Fest dan ICW bertujuan untuk:
Menguatkan suara masyarakat lokal yang terdampak proyek.
Mendorong transparansi dan partisipasi publik dalam pembangunan.
Mengajak anak muda peduli pada isu lingkungan dan kebijakan energi.
Membangun solidaritas nasional bagi warga NTT yang terancam kehilangan ruang hidup.
Dengan antusiasme besar yang tercipta pada penyelenggaraan tahun ini, Hai Fest kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu festival musik paling berpengaruh di Kupang, sekaligus platform yang mampu menjembatani hiburan, edukasi, dan aksi sosial dalam satu panggung yang sama.***

Tinggalkan Balasan