Liputan BERITA

Pameran Literasi Peradaban Dunia Pacitanian 2026 Resmi Ditutup, Jejak Leluhur Disambungkan ke Generasi Masa Depan

Ditulis oleh Yuyun Abdhi pada 14 September 2026 ā±ļø 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan68.com-Pameran Literasi Peradaban Dunia Pacitanian 2026 resmi ditutup pada Sabtu, 12 September 2026. Pameran yang berlangsung dengan menghadirkan beragam jejak peradaban Pacitan dari masa lampau hingga kehidupan masa kini tersebut mendapat sambutan antusias masyarakat.

Ribuan pengunjung, khususnya pelajar dari berbagai sekolah, datang untuk melihat, mengenal sekaligus belajar tentang perjalanan panjang peradaban Pacitan. Mereka tidak sekadar disuguhi benda-benda bersejarah, tetapi diajak menyusuri potongan kehidupan leluhur Pacitan yang terekam melalui berbagai artefak, karya seni, permainan, makanan hingga perkembangan teknologi.

Pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini dan masa depan.

Berbagai koleksi dan karya yang ditampilkan antara lain pernak-pernik makanan ringan tempo dulu, peralatan dan alat perang, lukisan anak-anak, permainan tradisional, hingga berbagai gambaran perkembangan teknologi perkantoran. Ada pula lomba marmut dan beragam aktivitas yang membuat generasi muda dapat mengenal sejarah dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan dan kontekstual.

Keberhasilan pameran tersebut tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Pacitan bersinergi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kimpraswil, pelaku UMKM kelautan, Komunitas Perupa Sanggar Lemah Teles, Komunitas Pusaka, Komunitas Bonsai, komunitas anak serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, menilai kegiatan semacam ini penting karena sejarah dan kebudayaan tidak cukup hanya disimpan sebagai catatan masa lalu.

Peradaban, menurutnya, harus terus dikenalkan dan diwariskan kepada generasi penerus agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan berkembang.

Pameran Literasi Peradaban Dunia Pacitanian 2026 pun menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana kekayaan sejarah dan budaya lokal dapat dihadirkan dalam ruang edukasi yang terbuka bagi masyarakat.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Pacitan, Amad Topan, menegaskan pentingnya menjadikan literasi bukan hanya sebagai aktivitas membaca, tetapi juga sebagai proses mengenali perjalanan peradaban.

Melalui pameran tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa Pacitan memiliki perjalanan sejarah dan kebudayaan yang panjang, unik serta memiliki nilai penting untuk terus dirawat.

Jejak peradaban itu hadir dalam bentuk yang beragam. Dari kehidupan manusia purbakala, tradisi masyarakat, benda-benda keseharian, permainan anak-anak, karya seni, hingga berbagai bentuk pengetahuan dan teknologi yang berkembang dari waktu ke waktu.

Semua itu menunjukkan bahwa peradaban selalu bergerak.

Apa yang diciptakan leluhur pada zamannya menjadi pengetahuan bagi generasi berikutnya. Pengetahuan tersebut kemudian mengalami transformasi, dikembangkan dan melahirkan berbagai bentuk kehidupan baru.

Karena itu, Pameran Literasi Peradaban Dunia Pacitanian 2026 tidak semata-mata menjadi ajang menampilkan benda-benda bersejarah. Lebih jauh, kegiatan ini merupakan refleksi tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang diwariskan leluhur dapat menjadi pijakan untuk membangun masa depan.

Pameran juga menjadi wujud kepedulian Pemerintah Kabupaten Pacitan bersama masyarakat dalam mengamankan dan merawat aset sejarah serta budaya lokal agar tetap lestari dan pada saat yang sama mampu dikenal lebih luas hingga dunia.

Di tengah derasnya perubahan zaman, generasi muda membutuhkan ruang untuk mengenali akar sejarahnya. Sebab, kemajuan tanpa pengetahuan tentang asal-usul dapat membuat sebuah generasi kehilangan arah dan jati dirinya.

Dari ruang pamer itulah pesan tersebut menemukan bentuknya: bahwa masa lalu bukan sesuatu yang harus ditinggalkan, melainkan sumber pengetahuan untuk menapaki masa depan.

Pameran Pacitanian 2026 pada akhirnya menjadi jembatan yang menghubungkan peradaban lama dengan generasi penerus. Jejak leluhur tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi diharapkan terus menjadi inspirasi untuk melahirkan karya, pengetahuan dan peradaban baru.

Sebab, merawat peradaban bukan hanya tentang menjaga apa yang telah diwariskan. Lebih dari itu, merawat peradaban adalah memastikan nilai-nilai baik dari masa lalu tetap hidup, diteruskan dan dikembangkan untuk membangun masa depan.

Dari Pacitan, jejak itu terus disambungkan—dari leluhur kepada generasi hari ini, dan dari generasi hari ini menuju masa depan.

Pada titik itulah pelestarian sejarah dan budaya menemukan maknanya: menjaga harkat dan martabat, memperkuat jati diri bangsa, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan Pacitan yang semakin sejahtera dan bahagia.(Red/yun).

Ditulis oleh Yuyun Abdhi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian