JAKARTA – LIPUTAN68.COM – Nizam menjelaskan dengan menghadapi dunia yang terus berubah, sudah sepatutnya kampus ikut menyesuaikan perubahan tersebut. “Pada esensinya jika kita menghadapi dunia yang berubah maka kampus harus berubah, tidak bisa diam. Saat ini kita dapat melihat bahwa sumber ilmu yang kita rancang masih sepenuhnya bersumber dari dosen, padahal alangkah lebih baiknya mahasiswa mendapat sumber ilmu lain dari sumber manapun,” tuturnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, pada webinar bertema “Menyongsong Kampus Merdeka bagi Universitas Swasta di Indonesia, Best Practice Telkom University dan Universitas Islam Indonesia” yang diselenggarakan oleh Telkom University, Rabu (19/8).
Nizam turut memaparkan dampak perkembangan zaman yang membuat berbagai pekerjaan manusia kian tergantikan oleh otomasi yang cerdas dan canggih. “Setiap revolusi selalu menghapus banyak sekali pekerjaan manusia, digantikan oleh mesin. Di era ini pun pekerjaan mapan yang saat ini menjadi aktivitas manusia untuk bekerja digantikan oleh teknologi. Sehingga tidak heran McKinsey memprediksikan 23 juta pekerjaan akan hilang digantikan oleh otomasi dan sistem cerdas,” jelas Nizam.
Nizam katakan selama ini masih terjadi broken link antara industri dengan perguruan tinggi. Oleh karena itu diperlukan adanya revolusi pendidikan yang cocok dengan kebutuhan industri. “Jangan sampai terjadi broken link, Perguruan Tinggi dinilai tidak fit dengan dunia kerja, link and match tidak terjadi, karena dunia kerja berjalan dengan jalurnya sendiri mengutamakan efisiensi dan persaingan yang tinggi dengan melahirkan teknologi terbaik dan harga termurah. Sedangkan kampus mempersiapkan kompetensi saat ini. Untuk itu perlu dilakukan revolusi pendidikan, jika biasanya fit to industry dengan mempersiapkan sekrup-sekrup butuhan industri, kini mahasiswa punya jalan tangannya berbeda, dengan istilah student centered learning. Dosen tidak menjadi satu satunya ilmu tapi jadi co-creator bersama mahasiswa,” ujar Nizam.
Nizam turut berpesan bahwa gotong royong menjadi hal yang sangat penting, layaknya semangat lomba seperti panjat pinang pada acara 17 agustusan. “Gotong royong bersama memajukan bangsa, seperti semangat panjat pinang, senang melihat temannya sukses, sedih melihat temannya sengsara,” pesan Nizam.
