Liputan BERITA

Remaja Putus Sekolah di Medan ini Makin Terpuruk

Ditulis oleh Liputan68 pada 13 September 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

MEDAN – LIPUTAN68.COM – Raul remaja berumur 16 tahun nyaris menderita kelumpuhan. Ia mengeluhkan seluruh tulangnya yang terasa ngilu. Rasa sakit itu telah ia derita beberapa tahun belakangan ini, lantaran pernah terjatuh saat memulung. “Tiga tahun lalu, aku jatuh. Sejak itu aku sakit tulang, Bang,” kata Rahul saat ditemui kediaman orangtuanya di Dusun IV Jalan Karya VII Ujung Gang Prasejahtera II, Desa Helvetia, Medan Sunggal, Minggu (13/9).

Saat ditemui, Rahul terduduk di dalam rumahnya, di atas selembar spanduk. Di rumah mereka tidak ada tikar, meja bahkan kursi. Hanya ada dua bohlam sebagai penerangan. Bahkan dinding rumahnya hanya sulaman spanduk-spanduk sisa perhelatan pemilu atau banner-banner produk makanan, yang dipilah dari tempat-tempat pembuangan sampah.

Rahul menuturkan, semakin hari tubuhnya melemah. Ia sekarang mulai tidak tahan duduk berlama-lama, karena tulang punggungnya terasa ngilu. Kulitnya tampak menguning dan pucat pasi. Ia kerap mengeluhkan kesakitan setiap kali berusaha bergerak, termasuk saat mencoba berdiri atau duduk. “Kayak mau berpatahan tulang-tulangku ini, Bang,” imbuhnya.

Raul adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Ia anak dari pasangan Jonsiun Hutagalung (45) dan Lamria Situmeang (46). Keluarga ini membangun rumah sekadarnya di atas parit, karena tidak memiliki tanah.

Lamria, Ibunya menuturkan, mereka tidak pernah membawa Raul berobat ke rumah sakit, lantaran ketiadaan uang. Mereka hanya mengandalkan obat generik yang dibeli dari apotek. “Mau gimanalah, Amang, orang susahnya kami. Bisa makan pun syukur. Enggak sanggup kami bawa anak kami ini berobat ke rumah sakit,” ungkapnya.

Lamria menjelaskan, baik dia maupun suaminya bekerja sebagai pemulung. Setiap hari, harus ke luar rumah untuk mengutip barang-barang bekas. Suami istri ini berbagi tugas. Ibunya memulung di aliran sungai, sedangkan ayahnya memulung di darat, mengutip barang bekas di seputaran kawasan Helvetia dengan berjalan kaki membawa goni.

Lamria mengatakan, penghasilan dari memulung tidaklah seberapa. Sering sekali, penghasilan dari memulung tidak cukup untuk menafkahi 10 anak mereka. Sehingga ia pun rela mengerjakan banyak pekerjaan kasar lainnya.

Pandemi Covid-19 ini semakin memperburuk kondisi perekonomian keluarga ini. Dengan adanya anjuran menerapkan protokol kesehatan dan “berdiam di rumah”, kata Lamria, sempat mengganggu aktivitas mereka dalam memulung. Tetapi agar tetap bisa memulung, ia dan suaminya kini lebih berhati-hati, salah-satunya senantiasa menghindari kerumunan orang.

Selain memusingkan kondisi kesehatan anaknya, Lamria dan Jonsiun pun harus berjuang keras agar anak-anaknya yang lain bisa melanjutkan pendidikan. Saat ini ada lima anak lagi yang masih bersekolah. Sedangkan lainnya, telah putus sekolah.

“Kami sangat berharap, anak-anak kami ini bisa bersekolah, supaya hidup mereka tidak sesusah kami. Cukuplah kami yang menderita. Tetapi anak kami, janganlah hidup susah begini,” harapnya.

Anak-anak ini tinggal di rumah yang kondisi fisik bangunan rumahnya tidak layak untuk dihuni. Sama sekali tidak ada sumber air bersih. Mereka menggali tanah sebagai kubangan untuk menampung air hujan untuk dipakai mencuci kain dan mandi. Untuk air minum, mereka mengonsumsi air minum isi ulang.

Tak hanya masalah sandang pangan dan papan, keluarga ini pun 20 tahun tinggal di sana, tetapi sama sekali tidak memiliki identitas kependudukan. Barulah awal September 2020 lalu, mereka mendapatkan identitas kependudukan setelah dibantu oleh Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera (YPPS).

Uba Pasaribu, menuturkan, kondisi rumah Lamria yang berdinding spanduk ini sangat memprihatinkan. Saat musim hujan, sering sekali keluarga ini kedinginan. Tempias air hujan selalu membasahi mereka. “Kami sedang mengupayakan agar minimal dinding rumah mereka diganti dengan yang lebih baik. Perlu rumah yang layak agar anak-anak ini sehat sembari memikirkan bagaimana mendukung agar mereka bisa bersekolah,” ujarnya.

Uba Pasaribu meminta aparat desa termasuk aparat kecamatan sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Kota Medan agar selektif mendata keluarga yang dirundung kemalangan, seperti keluarganya Lamria ini. Perlu sekali Pemko Medan meninjau langsung warga miskin yang kian terpuruk akibat pandemi Covid-19 ini dan melihat apa yang bisa dibantu.

“Pemko Medan perlu menjaring warga-warga miskin dari laporan-laporan masyarakat, jangan hanya dari laporan anak buahnya. Banyak sekali warga miskin yang butuh dibantu saat ini,” pungkas aktivis pemulung itu.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian