Remaja Putus Sekolah di Medan ini Makin Terpuruk


MEDAN – LIPUTAN68.COM – Raul remaja berumur 16 tahun nyaris menderita kelumpuhan. Ia mengeluhkan seluruh tulangnya yang terasa ngilu. Rasa sakit itu telah ia derita beberapa tahun belakangan ini, lantaran pernah terjatuh saat memulung. “Tiga tahun lalu, aku jatuh. Sejak itu aku sakit tulang, Bang,” kata Rahul saat ditemui kediaman orangtuanya di Dusun IV Jalan Karya VII Ujung Gang Prasejahtera II, Desa Helvetia, Medan Sunggal, Minggu (13/9).

Saat ditemui, Rahul terduduk di dalam rumahnya, di atas selembar spanduk. Di rumah mereka tidak ada tikar, meja bahkan kursi. Hanya ada dua bohlam sebagai penerangan. Bahkan dinding rumahnya hanya sulaman spanduk-spanduk sisa perhelatan pemilu atau banner-banner produk makanan, yang dipilah dari tempat-tempat pembuangan sampah.

Rahul menuturkan, semakin hari tubuhnya melemah. Ia sekarang mulai tidak tahan duduk berlama-lama, karena tulang punggungnya terasa ngilu. Kulitnya tampak menguning dan pucat pasi. Ia kerap mengeluhkan kesakitan setiap kali berusaha bergerak, termasuk saat mencoba berdiri atau duduk. “Kayak mau berpatahan tulang-tulangku ini, Bang,” imbuhnya.

Raul adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Ia anak dari pasangan Jonsiun Hutagalung (45) dan Lamria Situmeang (46). Keluarga ini membangun rumah sekadarnya di atas parit, karena tidak memiliki tanah.

Lamria, Ibunya menuturkan, mereka tidak pernah membawa Raul berobat ke rumah sakit, lantaran ketiadaan uang. Mereka hanya mengandalkan obat generik yang dibeli dari apotek. “Mau gimanalah, Amang, orang susahnya kami. Bisa makan pun syukur. Enggak sanggup kami bawa anak kami ini berobat ke rumah sakit,” ungkapnya.

Lamria menjelaskan, baik dia maupun suaminya bekerja sebagai pemulung. Setiap hari, harus ke luar rumah untuk mengutip barang-barang bekas. Suami istri ini berbagi tugas. Ibunya memulung di aliran sungai, sedangkan ayahnya memulung di darat, mengutip barang bekas di seputaran kawasan Helvetia dengan berjalan kaki membawa goni.

Lamria mengatakan, penghasilan dari memulung tidaklah seberapa. Sering sekali, penghasilan dari memulung tidak cukup untuk menafkahi 10 anak mereka. Sehingga ia pun rela mengerjakan banyak pekerjaan kasar lainnya.

Pandemi Covid-19 ini semakin memperburuk kondisi perekonomian keluarga ini. Dengan adanya anjuran menerapkan protokol kesehatan dan “berdiam di rumah”, kata Lamria, sempat mengganggu aktivitas mereka dalam memulung. Tetapi agar tetap bisa memulung, ia dan suaminya kini lebih berhati-hati, salah-satunya senantiasa menghindari kerumunan orang.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *