Liputan BERITA

Aji Dikenal Memiliki Rekam Jejak Bersih, Selama Menjadi Anggota DPRD Pacitan

Ditulis oleh Liputan68 pada 23 September 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan, liputan 68.com- Apresiasi tinggi kepada calon Bupati Pacitan dari Partai Demokrat (PD), Indrata Nur Bayuaji, terus mengalir. Selain dikenal tekun dalam menjalankan kewajiban beribadah, sepupu dari Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PD tersebut, juga memiliki rekam jejak yang bersih selama menjadi anggota DPRD Pacitan, tiga periode.

“Mas Aji (Indrata Nur Bayuaji) dikenal paling bersih rekam jejaknya selama menjabat sebagai anggota DPRD. Bukannya saya menilai bakal calon lainnya jelek, tidak,” kata Iwan Arsyad, Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Pacitan, Rabu (23/9).

Berangkat dari latar belakang itulah, sehingga Partai Hanura kala itu, menyatakan untuk ikut mengusung Aji sebagai calon bupati dan Gagarin sebagai calon wakil bupati dari Partai Golkar. “Awalnya kami ini masuk dalam koalisi sembilan parpol. Saat itu kami belum memiliki nama calon. Namun begitu melihat lebih jauh tentang rekam jejak dan kepribadian seorang Aji, akhirnya kami Partai Hanura bersama mitra koalisi lainnya, sepakat untuk mengusung dan mendukung Mas Aji,” jelasnya.

Selain memiliki track record yang bersih, lanjut politikus yang akrab disapa Iwan ini, Indrata Nur Bayuaji, juga sangat tekun dalam menjalankan ibadah sesuai perintah dan ajaran agama yang dianutnya. “Saya pernah berkemah sama beliau. Saat waktu Subuh, saya belum bangun, tapi Mas Aji bangun lebih dulu dan langsung mengambil air wudhu untuk salat Subuh. Itu pengalaman yang saya saksikan sendiri,” tutur Iwan.

Lebih lanjut, Iwan mengatakan, perihal penampilan dari seorang Aji yang kadang terbilang modis, itu tidak serta merta mencerminkan amal ibadahnya.

Perlu dicatat, amal ibadah itu urusan umat dengan Tuhannya masing-masing. Kadang tak sedikit, orang berpenampilan layaknya seorang muslim ataupun muslimah, namun kenyataan yang ada, semua itu tidak mencerminkan kualitas ibadahnya. “Ya mungkin lebih baik mambu kyai, dari pada kyai mambu. Jadi bukan sebuah ukuran penampilan seseorang itu. Kadang terlihat norak, namun ibadahnya justru lebih khusyuk. Dan sebaliknya, kadang berpenampilan layaknya seorang alim, tapi kenyataannya ibadahnya tak seperti apa yang ditampilkan di khalayak luas,” tutur Iwan. (yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian