Kukuhkan Empat TKPSDA, Gubsu Singgung Ketersediaan Air dan Rusaknya Bantaran Sungai
MEDAN—LIPUTAN68.COM—Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) harus bekerja sungguh-sungguh dalam mengatasi persoalan sungai yang ada di Provinsi Sumatera Utara.
Demikian ditegaskan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, saat mengukuhkan empat TKPSDA di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jalan Jenderal Sudirman Medan, Kamis (2/12). Keempat TKPSDA tersebut yakni; TKPSDA Wilayah Sungai (WS) Wampu-Besitang, WS Nias, WS Bah Bolon, dan WS Batang Angkola -Batang Gadis. Masing-masing TKPSDA memiliki 30 anggota yang terdiri dari 15 orang dari unsur pemerintah dan 15 orang unsur nonpemerintah.
“Kita ini paling jago pengukuhan-pengukuhan. Saya mau serius ini. Kalian percaya bahwa sungai-sungai kita ini dalam kondisi rusak?” katanya.
Edy meminta TKPSDA segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi terkini sungai yang ada. Seperti banyaknya bangunan berdiri di bantaran sungai, kerusakan sungai hingga kelanjutan pengelolaan air sungai untuk kebutuhan hidup generasi mendatang.
“Di Besitang udah banyak orang-orang yang membangun di pinggir-pinggir sungai. Itu datangi. Kalau ngotot dia ajak berkelahi. Bawa Satpol PP,” tegasnya. Menurutnya, jika nanti sudah ditembok-tembok atau ada bangunan seperti yang terjadi di Sungai Deli, permasalahan tentu kian lebih kompleks.
“Mau kita gusur minta gantinya mahal. Tak digusur merusak sungai. Berapa banyak septi tank yang langsung ke sungai itu. Percaya kalian?” katanya.
Mantan Pangkostrad juga singgung masalah kekurangan air bersih sekitar 4.000 liter/detik di Sumut. Bahwa sebelumnya telah ada 1.100 liter/detik di Kota Binjai, tetapi malah tak bisa digunakan.
“Kenapa? Karena bangunnya ‘cincai-cincai’. Sungainya punya Tuhan, bukan sungai kalian. Lima sungai ini melimpah di Kota Medan, bisa pula kita 4.000 liter/detik kekurangan air,” tegas Edy.
Karenanya ia ingin TKPSDA setelah dilantik agar segera bekerja mengingat sungai sangat besar manfaatnya buat kelangsungan hidup umat manusia. Gubernur juga mau secara bergantian kelompok yang dilantik langsung turun ke lapangan.
“Ayolah setelah ini kalian langsung inventarisir DAS ini, benar-benar kau lihat. Saya berharap kalian serius, saya mau bertahap selesai persoalan ini,” tegasnya.
Terlebih sebut Edy, selain air, makanan dan energi menjadi persoalan utama saat ini yang mesti diurai oleh pemerintah serta stakeholder.
“Food (makanan) sudah kita pakai pupuk kimia dan segala macam, tanaman-tanaman itu yang kita makan ini. Air kita rusak seperti ini. Energi! ‘Wualah’ makanya surplus kita ini,” ujarnya.
Menjawab tantangan Gubsu, Kepala Bidang Pengembangan Jaringan Sumber Air Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Sumut, Malik Assalih Harahap mengatakan TKPSDA segera mengidentifikasi sungai-sungai yang memiliki daya rusak air yang sudah parah. Termasuk tebing kritis, tanggul rusak dan sebagainya.
“Nantinya akan kita tabulasi semuanya dan akan kita sampaikan kepada bapak gubernur untuk dianggarkan pada 2022 atau 2023,” ujarnya.
Pada setiap wilayah sungai, TKPSDA diketuai kepala Bappeda Provinsi Sumut.
Pengukuhan ditandai dengan penyerahan pataka oleh Gubernur Edy kepada Plt Bappeda Sumut, Hasmirizal Lubis. Adapun sebelumnya sudah dikukuhkan anggota TKPSDA WS Kualuh Barumun dan WS Sibandang Batang Toru. Dengan begitu, Provinsi Sumut memiliki enam TKPSDA yang membuat Sumut berada di posisi tiga terbaik di Indonesia, lantaran telah membentuk seluruh TKPSDA. (Rel)

Tinggalkan Balasan