Liputan BERITA

Dinkes Lambat, Penderita Leptopirosis Di Pacitan Meningkat

Ditulis oleh Liputan68 pada 4 Maret 2023 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan – Kurang dari sepekan, Angka kasus penderita leptospirosis di Kabupaten Pacitan tembus diangka 114 orang.
Wabah bakteri leptospira yang ada di wilayah Kabupaten Pacitan adalah wabah tahunan yang setiap waktu musim hujan dapat dipastikan muncul, namun usaha pencegahan tampaknya tidak dilakukan.
Terbukti pada saat ini, kurang dari sepekan penderita leptospirosis meningkat 60% dibanding tahun 2022 kemarin.
Data yang berhasil diterima awak media, Angka penderita leptospirosis bulan februari 2022 berjumlah 89 kasus, sementara di awal bulan Maret 2023, jumlah penderita tembus diangka 114 orang.

Menanggapi peristiwa tersebut, Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji merasa prihatin dengan kondisi yang di alami masyarakat Pacitan saat ini.

Rasa keprihatinan ini menjadi bentuk penegasan utamanya terhadap Dinas Kesehatan untuk bagaimana memaksimalkan kinerjanya demi mengatasi permasalahan kesehatan yang saat ini tengah di rasakan masyarakat.

Dinkes dinilai lambat dalam penanganan kasus leptospirosis, sehingga penyebaran bakteri yang berasal dari kencing tikus ini terus mengganas di 12 Kecamatan di Kabupaten Pacitan.

“Ya jelas saya merasakan apa yang dialami masyarakat Pacitan. Sebenarnya jauh-jauh hari saya sudah meng intruksikan untuk lebih peka, promkes ditingkatkan dan deteksi dini di kedepankan, kita harus banyak belajar dari kasus covid 19.” kata Indrata Nur Bayuaji, Bupati Pacitan, Sabtu ( 04/03/2023).

Mas aji, sapaan akrab bupati, sedikit geram, Saat dihubungi beberapa awak media terkait kinerja Dinas kesehatan.

” Sebenarnya dinkes ini kerja atau tidak !. dengar atau tidak, Sebelum bakteri ini merebak, harusnya Dinkes sudah berada di garda terdepan dalam rangka penanggulangan penyakit yang tengah
mewabah ini,” kata bupati saat dihubungi melalui ponsel disela menghadiri acara peningkatan kinerja pegawai Rumah Sakit di Semarang, jumat (03/03/2023).

Dinas Kesehatan merupakan tenaga profesional yang bertanggung-jawab dan akuntabel dalam memberikan pelayanan dibidang kesehatan masyarakat. Termasuk memfasilitasi serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Secara nyata mewujudkan kesehatan masyarakat semakin baik, peran dan fungsi Dinkes sangatlah penting sehingga harus ditingkatkan lagi.

Tak hanya itu, Dinas Kesehatan juga harus sanggup mengatasi berbagai masalah kesehatan yang terjadi di tengah masyarakat luas.

” Saya tegaskan sekali lagi Dinas Kesehatan menjadi garda terdepan dalam percepatan penurunan angka dengan dimulai melalui proses pencegahan, pendekatan dan pendampingan masyarakat. Dengan kasus seperti ini berarti promkes di dinkes tidak berjalan. Masih banyak orang yang mau bekerja untuk melayani masyarakat di pacitan,” Tegasnya.

Terima kasih juga disampaikan Mas Aji kepada seluruh tenaga kesehatan di daerahnya yang telah bekerja keras dan berupaya dalam menekan laju angka penyebaran Leptospiosis yang secara akumulatif meningkat dratis bahkan hingga sebabkan sejumlah penderita telah meninggal dunia.

Bahkan tambah Mas Aji, dalam pencegahan dan penanganan leptospirosis, Dinkes di harapkan mengedepankan semangat kolaborasi dengan melibatkan masyarakat, Pemerintah Desa, Forkompincam, dan berbagai OPD yang ada.

” Jangan merasa mampu bekerja sendiri, libatkan semua perangkat daerah. Publish Data Perkembangan Kasus. Informasi itu penting ,”

Terkait Status Kejadian Luar Biasa ( KLB) Leptospirosis. Pemerintah Daerah masih menunggu sesuai dengan tingkat kasus. (yul)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian