NTT, Liputan68.com- Anggota DPRD Kota Kupang dari Fraksi Golkar, Randy Daud, menegaskan perlunya penerapan sistem digitalisasi retribusi untuk meningkatkan transparansi dan mencegah kebocoran pendapatan daerah.
Menurut Randy, beberapa sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum dikelola maksimal, bahkan rawan manipulasi.
Ia menyoroti retribusi di Taman Nostalgia, khususnya saat penyelenggaraan Saboak.
“Saya berharap ada revisi retribusi di Taman Nostalgia supaya pegelaran Saboak benar-benar berdampak pada peningkatan PAD. Parkir meningkat, jadi harus ada penyesuaian,” ujarnya, (29/9/2025).
Randy mengingatkan bahwa hingga triwulan ketiga 2025, realisasi PAD Kota Kupang baru mencapai 49 persen, masih jauh dari target.
Karena itu, Komisi II DPRD mendorong adanya insentif khusus bagi petugas pajak agar lebih bersemangat mengejar target di sisa tiga bulan tahun ini.
“Kita ingin realisasi minimal tembus 90 persen di akhir tahun,” tegasnya.
Selain sektor pajak, ia menilai pariwisata masih dikelola setengah hati. Kawasan Nunhila dan Lasiana, kata Randy, seharusnya dikelola langsung Pemkot Kupang.
“Lasiana itu ikon wisata Kota Kupang. Kalau dikelola Pemkot, potensi retribusinya bisa besar. Selama ini yang kelihatan hanya wisata kuliner,” jelasnya.
Lebih jauh, Randy menekankan pentingnya digitalisasi retribusi sebagai solusi kebocoran. Ia menyebut kasus terbesar terjadi pada retribusi pemotongan hewan di Bimoku.
“Informasi yang saya dapat, kebocoran paling besar ada di retribusi potong hewan. Karena itu, digitalisasi harus segera diterapkan supaya lebih tertib dan transparan,” tandasnya.***








