Pacitan,Liputan 68.com-Trauma panjang pandemi Covid-19 belum sepenuhnya sirna dari ingatan masyarakat. Kini, ancaman penyakit baru kembali mengintai. Kali ini, super flu, varian influenza dengan gejala lebih berat dan daya tular tinggi, mulai terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia dan memicu kewaspadaan dunia kesehatan.
Direktur RSUD dr. Darsono Pacitan, dr. Johan Tri Putranto, mengungkapkan bahwa hingga awal tahun 2026, virus influenza A (H3N2) subclade K telah ditemukan dengan kecenderungan menyerang kelompok anak-anak dan perempuan. Meski bukan istilah medis resmi, super flu menjadi sebutan yang digunakan untuk menggambarkan influenza dengan karakteristik lebih agresif.
“Gejalanya memang mirip flu biasa, seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Namun pada beberapa kasus, keluhannya jauh lebih berat dan berlangsung lebih lama,” ujar Johan, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan, super flu kerap ditandai dengan demam tinggi hingga 39–40 derajat celsius, batuk kering berkepanjangan, sakit kepala hebat, nyeri otot, menggigil, serta kelelahan ekstrem yang membuat penderita sulit beraktivitas.
Pada anak-anak, gejala dapat muncul lebih beragam, mulai dari rewel, nyeri telinga, sakit perut, muntah, hingga diare. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama jika keluhan tidak membaik dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari, karena berisiko mengarah pada infeksi lanjutan.
“Yang membedakan super flu dengan flu biasa adalah tingkat penularan dan beratnya gejala. Varian ini lebih mudah menyebar, satu orang bisa menularkan ke dua orang atau lebih,” jelas Johan.
