Budayawan Bambang Trenggono, Dukung Penuh Langkah Bupati Aji Gelorakan Festival Budaya Lokal Pacitan
Pacitan,Liputan 68.com- Pendapat positif dan visioner terus mengalir seiring langkah Bupati Pacitan Raden Mas Tumenggung Indrata Nurbayuaji dalam mengkampanyekan budaya lokal melalui berbagai event festival.
Diawali dari Ruwat Jagat dan Rawat Jagat, hingga sekarang festival senada terus merambah sampai ke pelosok desa hingga dusun.
Salah seorang budayawan Pacitan, Bambang Trenggono menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas langkah Bupati Aji, yang berani mengambil beleid untuk kembali menggelorakan seni budaya sebagai salah satu pilar membangun daerah.
Purna bakti pejabait lingkup Pemkab Pacitan ini juga terus memberi dorongan kepada keponakan Presiden ke enam RI, Susilo Bambaang Yudhoyono (SBY) tersebut, agar tidak lelah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat luas mengenai budaya yang dilandasi semangat kearifan lokal.
“Pesan kami, kultur Jawa yang didasari kearifan lokal agar selalu di junjung tinggi. Tetap lanjutkan dengan festival-festival lain yang mencerminkan keragaman budaya yang dimiliki Pacitan,” kata Bambang yang saat itu tengah bertandang ke posko media, Timur Pendopo Pemkab Pacitan, Rabu (9/8).
Menurut Bambang, dengan terselenggaranya beragam festival budaya tersebut, akan semakin menciptakan harmonisasi antara Pemkab, khususnya bupati dengan masyarakat akar rumput.
Termasuk tradisi Tetaken yang biasanya dihelat di perbukitan Gunung Limo, Bambang juga berharap akan terus dilestarikan. Sebab selain mengandung unsur sejarah, juga menjadi wahana edukasi bagi anak cucu kelak.
“Sekali lagi sebagai pemerhati budaya serta seni bela diri pencak silat, saya sangat setuju ksbijakan Mas Aji itu. Terus kembangkan namun tetap pada koridor sejarah. Jangan sampai ada yang menyimpang dari sejarah yang ada,” pesan sesepuh sebuah perguruan pencak silat ternama di Pacitan ini.
Demikian juga bagi masyarakat atau para pemuka agama , diharapkan untuk tidak berpandangan negatif atas prosesi sebuah budaya. Suatu misal dalam sebuah prosesi dibarengi dengan bakar menyan atau dupa.
Bakar menyan jangan diartikan syirik atau hal-hal mistik untuk mendatangkan makhluk halus. Ini sebuah budaya atau tradisi agar suasana menjadi semakin harum tanpa terkontaminasi bau-bau tak sedap lainnya. “Bakar menyan itu untuk mengharumkan suasana. Atau membuat suasana baru yang lebih nyaman. Jangan diartikan ngundang setan.
Kalau sudah harum, akan tercipta keheningan yang membuat prosesi budaya menjadi lebih sakral. Nggak ada hubungannya dengan mistik, klenik atau lainnya,” jelas Bambang. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan