Liputan POLITIK

Merawat dan Menjaga Politik Suci di PDI-P

Ditulis oleh Liputan68 pada 16 Januari 2024 ⏱️ 2 Menit Baca

Keputusan Maruarar Sirait (Ara) hengkang dari PDI-P tidak mengejutkan. Pilihan tersebut sebagai tindakan kesatria, gentlemen atas sikap politik yang “berbeda” dengan PDI-P. Keputusan Ara mengikuti langkah Jokowi adalah hak pribadi yang harus dihormati. Langkah Ara menjadi menarik saat dilakukan bersamaan dengan momentum HUT ke-51 fusi Partai Katolik, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

Penguasa Orde Baru mantan mertua Prabowo Subianto, Presiden RI kedua, H M Soeharto memaksa kelima partai tersebut melebur menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang lewat perjuangan para aktivis prodemokrasi, dengan darah, nyawa, dan airmata menjadi PDI Perjuangan.

Sabam Sirait, ayah dari Ara Sirait adalah salah tokoh sentral deklarasi fusi. Sabam Sirait merupakan Sekretaris Jenderal (Sekjend) DPP Parkindo saat deklarasi fusi, dan kemudian menjadi Sekjend pertama PDI. Maka karier politik Ara Sirait tidak pernah dapat dipisahkan dengan peran dan kontribusi Sabam kepada PDI. Ara mendapat “privilege” sebagai putra dari deklarator, hingga menjadi salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan.

Ara pernah menikmati berbagai kemudahan sebagai “anak biologis” Sabam Sirait di PDI-P, hingga akhirnya memiliki akses kepada Jokowi. PDI-P menjadi tempat bertemu Ara dan Jokowi, dan menjadi tempat keduanya lahir dan bertumbuh hingga menjadi politisi ulung. Namun jika akhirnya tidak lagi sejalan dengan rumah yang membesarkannya, maka langkah politik Ara mengikuti Jokowi, sudah tepat. Bagi PDI-P itu biasa, seperti PDI-P sebelumnya pernah ditinggalkan orang- orang besar.

Berbagai dinamika politik yang dihadapi PDI-P saat ini harus dijadikan pelajaran untuk mengoreksi perjalanan sejarahnya. Memeringati HUT ke-51 PDI-P adalah memeringati deklarasi fusi kelima partai. PDI-P itu bukan hanya kelanjutan dari PNI, namun kelanjutan dari PNI, Murba, IPKI, Parkindo, dan Partai Katolik. Maka PDIP harus proporsional dalam memberi penghargaan kepada semua deklarator fusi, termasuk memerjuangkan semua deklarator fusi sebagai pahlawan nasional di bidang politik dan demokrasi. PDI-P oleh Orde Baru dipaksa menjadi rumah politik kaum nasionalis, maka PDI-P harus konsisten dengan latar belakang sejarah itu.

Selamat mengikuti langkah politik Jokowi Bung Ara, kami masih akan tetap dan terus di sini, di PDI-P melanjutkan perjuangan yang dirintis pendahulu kami, Sabam Sirait yang telah membawa aspirasi politik umat Kristen lewat Parkindo melebur dan menyatu di PDI-P.

PDI-P selalu terbuka sebagai tempat pulang para kaum nasionalis. Dan PDI-P juga selalu siap berhadapan dengan siapapun yang ingin merubah arah dan tujuan bangsa ini. Kesucian politik yang digagas oleh Sabam Sirait senior kami, akan kami jaga dan rawat di PDI-P, sebab hanya PDIP satu-satunya tempat perjuangan dan perwujudan politik yang suci. ***

*Penulis: Sutrisno Pangaribuan (Kader PDI-P, Kader Perjuangan Politik Parkindo)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian