Sunhaji: Hak Angket Kecurangan Pilpres 2024 Bergulir, Jokowi Bakal Dihempas Krisis Elektroral?
Pacitan,Liputan 68.com- Meski sejumlah petinggi partai koalisi dari pasangan Capres dan Cawapres 01, Anis Baswedan-Muhaimin Iskandar, sudah mulai melakukan komunikasi dengan Presiden Jokowi maupun Capres terpilih Prabowo Subianto Joyo Hadi Kusumo, namun belum sepenuhnya situasi paska pemilu semakin kondusif.
Riak-riak kecil dibawah masih terus bergolak. Hal tersebut seiring mencuatnya wacana hak angket yang di lontarkan Ketum DPP PDI-P, Megawati Seokarno Putri yang menuding banyaknya kecurangan dibalik pelaksanaan Pilpres 2024.
Salah seorang relawan tim pemenangan Anis-Muhaimin, Achmad Sunhaji menegaskan, jangan anggap Pilpres sudah usai. Masih ada persoalan-persoalan krusial yang berpotensi menjadi bom waktu.
Mantan legislator dua periode itu juga linier dengan pendapat Megawati, bahwa Pilpres 2024 ditengarai kuat, banyak terjadi kecurangan-kecurangan yang begitu terstruktur, masif dan sistemik (TMS).
Awal kali indikasi kecurangan tersebut sudah terlihat saat mencuatnya wacana tiga periode hingga berujung di Mahkamah Konstitusi (MK) yang akhirnya meloloskan putra mahkota Gibran Raka Bumingraka sebagai Cawapres Prabowo.
Demikian juga semangat satu putaran, yang disepanjang pelaksanaan Pilpres langsung dengan tiga pasangan calon, baru terjadi di era pemerintah Presiden Jokowi. “Dulu pernah terjadi di periode kedua SBY. Dimana saat itu ada tiga pasangan calon dan SBY sendiri masuk sebagai kandidat. Namun SBY berhasil memenangi Pilpres di satu putaran.
Kalau Pilpres ini, Jokowi bukan sebagai kandidat namun meneriakan satu putaran dan benar terjadi. “Ini yang saya katakan sebagai indikasi kecurangan yang TMS.
Sejak awal indikasi kecurangan sudah terlihat. Mulai desakan tiga periode yang akhirnya gagal. Sampai menabrak MK soal batas usia Capres dan Cawapres yang akhirnya meloloskan Gibran sebagai cawapres,” kata Sunhaji, Rabu (21/2).
Mantan kader Golkar ini juga menuding, Jokowi’lah sebagai aktor intelektual dibalik drama demokrasi tersebut. Belum lagi dugaan kecurangan-kecurangan pada sistem IT yang diduga menjadi penyumbang ketimpangan pada input data Sirekap hingga mengakibatkan hilangnya suara dari kubu paslon lain.
“Kalau prosentase turun itu hal wajar. Tapi kalau sampai suara hilang hampir 1 juta lebih, ini yang tak biasa. Bagi masyarakat yang punya kewarasan akal, tentu akan tetap mendukung Anis.
Mereka yang dulunya sebagai pembenci Prabowo sekarang menjadi penjilatnya,” ujarnya.

Masih di kesempatan yang sama, Sunhaji juga mengatakan, inilah saatnya Jokowi mengalami badai krisis elektroral ketika nanti hak angket benar-benar akan di lempar di Senayan. “Kalau kita hitung suara partai koalisi pendukung pasangan calon 1 dan 3 di Senayan, sudah lebih dari 50 persen. Tentu hak angket akan bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan,” tandas Sunhaji. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan