Liputan DAERAH

Sungai Tak Lagi Halangi Mimpi: SMP Manek Mesak Hadir di Tengah Keterpencilan

Ditulis oleh Liputan68 pada 15 Juli 2025 • ⏱️ 2 Menit Baca

NTT, Liputan68.com- Harapan baru bagi dunia pendidikan kembali menyala di Desa Takarai, Kecamatan Botin Leobele.

Sebuah langkah besar diambil untuk menjawab tantangan akses pendidikan akibat kondisi geografis yang ekstrem: SMP Manek Mesak resmi dibentuk, menjadi oase pendidikan di tengah keterpencilan.

Berlokasi di SDI Manubonu, acara pembentukan sekolah ini berlangsung khidmat namun sarat makna.

Hadir dalam kesempatan bersejarah ini, berbagai pemangku kepentingan dari unsur pendidikan, pemerintah, tokoh masyarakat hingga para orang tua siswa. Beberapa di antaranya: Kepala Sekolah Induk SMPN Babotin, Pius Lotu, S.Pd, Camat Botin Leobele, Gregorius Mau, SH, Kepala Desa Takarai, Yeremias Nana, S.AP, Tokoh masyarakat: Herman Oeleke, S.Fil, Paulus Nana, Brigita Eno Mau, A.Md, Gabriel F. H. Manek Mau, Bonefasius Beatus Seran, S.Pd, Nofrianus Nana, S.Pd, dan Blasius Bria, S.Pd.Gr, Kepala SDI Manubonu, Melkianis Joni Luan beserta Orang tua siswa dan 12 siswa-siswi angkatan pertama.

Pendirian SMP Manek Mesak merupakan jawaban atas realitas pahit yang dihadapi anak-anak di sekitar wilayah Manubonu, yang dikelilingi Sungai Motabaen.

Saat musim hujan datang, sungai ini menjadi penghalang besar yang membuat anak-anak tak bisa menyeberang ke sekolah terdekat. Pendidikan pun menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.

Melihat kondisi ini, sinergi luar biasa lahir antara pemerintah desa, kecamatan, tokoh masyarakat, dan sekolah induk.

Mereka bersepakat membentuk SMP Manek Mesak sebagai solusi jangka panjang demi masa depan anak-anak desa.

Untuk tahap awal, dua ruang kosong di SDI Manubonu disulap menjadi ruang kelas darurat.

Mulai besok, siswa-siswi baru akan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) akan dimulai penuh pada hari Senin mendatang.

Kehadiran SMP Manek Mesak tidak hanya soal bangunan sekolah, melainkan simbol perjuangan dan harapan.

Bahwa anak-anak pelosok pun berhak atas akses pendidikan yang aman, layak, dan manusiawi.

Lebih dari itu, sekolah ini adalah bukti bahwa ketika masyarakat bersatu, perubahan besar bisa terjadi, bahkan di tempat yang paling terpinggirkan sekalipun.*** (Eki Luan) 

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian