Liputan BERITA

Ketulusan Cinta Sang Wabup Gagarin, di Balik Perayaan Hari Ibu di Pacitan

Ditulis oleh Liputan68 pada 20 Desember 2025 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com-Di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Ibu ke-97 yang digelar di Aula Pendopo Mas Tumenggung Djogokarjo, Jumat (19/12/2025), ada sebuah momen sederhana namun sarat makna.

Sebuah gestur kecil yang menjadi simbol cinta dan penghormatan seorang pemimpin daerah kepada perempuan yang selalu berada di balik langkahnya.

Acara resmi itu berubah syahdu ketika Wakil Bupati Pacitan, Gagarin, berdiri dari kursinya. Ia membawa setangkai mawar merah berbalut bungkus plastik.

Senyum tipisnya mengembang menuju sang istri, perempuan yang ia sebut sebagai “penyejuk sekaligus pendorong dalam perjalanan hidup.”

Di hadapan peserta peringatan Hari Ibu, Gagarin menyerahkan mawar itu. Bukan sekadar bunga, tetapi rangkaian rasa cinta yang telah ia rajut selama bertahun-tahun bersama belahan jiwanya. Sambil menggenggam tangan sang istri, ia kemudian mengecup lembut kedua pipinya.

Hening seketika memenuhi ruangan. Mata para hadirin tampak berkaca-kaca. Beberapa ibu, yang hadir sebagai undangan, saling tersenyum haru melihat ketulusan yang terpancar dari pasangan tersebut.

Ketua panitia peringatan Hari Ibu, yang menyaksikan dari barisan depan, mengatakan bahwa momen itu mengingatkan pada makna dasar peringatan Hari Ibu, yaitu penghormatan pada ketulusan kasih sayang perempuan dalam keluarga.

“Biasanya kita lihat pemimpin memberi sambutan formal. Tapi hari ini kita belajar bahwa cinta dan penghargaan kadang tak butuh pidato panjang,” ujarnya lirih.

Gestur kecil itu menjadi penanda, bahwa cinta bukan hanya milik rumah pribadi. Ia pantas dipupuk dan ditunjukkan, bahkan dalam ruang publik, selama tetap dalam batas kesantunan dan makna.

Di balik tugas sebagai pejabat daerah, Gagarin telah menghadirkan contoh bahwa Hari Ibu bukan sekadar seremonial, melainkan ruang refleksi tentang perempuan yang menjadi pilar keluarga, penopang kehidupan, serta sumber kekuatan penuh keikhlasan.

Di ujung acara, suasana tetap hangat. Namun jejak keharuan masih terasa. Setangkai mawar itu kini menjadi saksi bahwa cinta selalu menemukan bahasa, bahkan dalam peringatan resmi pemerintahan.

Karena pada akhirnya, Hari Ibu bukan hanya tentang memperingati sejarah. Ia tentang merawat cinta yang menghidupkan keluarga, masyarakat, hingga suatu daerah.(Red/yun)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian