Agustinus Nahak: “Di Era Digital, Mencatat dengan HP Itu Hal Biasa, Jangan Semua Dipandang Negatif”
NTT, Liputan68.com- Video yang memperlihatkan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, memegang handphone saat mendampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka di Kabupaten Kupang beberapa hari terakhir viral di media sosial.
Dalam potongan video tersebut, Gubernur Melki terlihat beberapa kali menekan layar handphone ketika mengikuti dialog bersama masyarakat dalam agenda peninjauan jembatan di wilayah Amfoang.
Video singkat itu kemudian memunculkan beragam komentar dari netizen yang menilai dirinya sedang bermain handphone saat warga menyampaikan aspirasi.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT sekaligus Bendahara Fraksi Golkar DPRD NTT, Agustinus Nahak, meminta publik untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif terhadap seseorang hanya dari potongan video singkat.
Menurut Agustinus, di era digital saat ini penggunaan handphone untuk mencatat berbagai hal dalam kegiatan resmi merupakan sesuatu yang lumrah dan sudah menjadi kebiasaan banyak pejabat maupun masyarakat.
“Sekarang ini zaman sudah berubah ke dunia digital. Orang mencatat tidak lagi harus selalu menggunakan buku dan pena. Banyak orang, termasuk kami ketika kunjungan kerja atau rapat, menggunakan handphone untuk mencatat poin-poin penting karena lebih praktis dan cepat,” ujarnya, (23/5/2026).
Politisi Partai Golkar itu mengatakan, dirinya mengenal kebiasaan Gubernur Melki sejak lama, termasuk saat mengikuti rapat maupun kegiatan pemerintahan. Ia menilai apa yang dilakukan Gubernur Melki bukan sesuatu yang aneh ataupun tidak menghargai masyarakat.
“Pak Melki dari dulu memang kalau rapat sering mencatat menggunakan HP. Jadi menurut saya itu hal biasa. Jangan langsung diasumsikan negatif. Kadang memang tergantung cara pandang orang saja. Kalau sejak awal sudah berpikir negatif terhadap seseorang, maka hal positif pun bisa dianggap negatif,” katanya.
Agustinus juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi potongan video yang beredar di media sosial.
Menurutnya, konteks sebuah kegiatan sering kali tidak terlihat utuh hanya dari video berdurasi singkat.
Ia berharap ruang digital dapat digunakan untuk membangun budaya diskusi yang sehat dan saling menghargai, terutama terhadap pemimpin daerah yang sedang bekerja melayani masyarakat.
“Yang paling penting adalah substansi kehadiran pemerintah di tengah masyarakat dan bagaimana aspirasi warga ditindaklanjuti. Teknologi hari ini justru membantu pekerjaan menjadi lebih efektif,” tutupnya.***

Tinggalkan Balasan