Kekayaan Karst Gunung Sewu, Mahasiswa IPB University Telusuri Potensi Karbon, Biodiversitas, dan Sosio-Ekologi di Desa Bomo
Pacitan,Liputan68.com-Bentang alam karst Gunung Sewu bukan sekadar menyimpan keindahan geologi yang memesona, tetapi juga menyimpan potensi ekologis dan sosial yang penting bagi masa depan lingkungan.
Kekayaan tersebut menjadi fokus kegiatan EKSFLORASI (Eksplorasi Potensi Karbon, Biodiversitas dan Sosio-Ekologi pada Sistem Karst Gunung Sewu untuk Mendukung FOLU Net Sink 2030) yang dilaksanakan oleh mahasiswa IPB University pada Agustus 2026 di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam menggali lebih dalam potensi alam sekaligus memahami hubungan antara ekosistem karst dan kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya. Melalui pendekatan eksplorasi, mahasiswa berupaya mengidentifikasi potensi karbon, keanekaragaman hayati, serta dinamika sosial-ekologi yang membentuk karakter khas kawasan karst Gunung Sewu.
Kawasan karst memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Bentang alamnya yang unik, dengan perbukitan kapur, sistem hidrologi khas, serta beragam habitat alami, menjadikan kawasan ini memiliki nilai strategis dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
EKSFLORASI tidak hanya menjadi ruang pembelajaran lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkaya basis pengetahuan mengenai potensi ekologis kawasan Gunung Sewu. Identifikasi potensi karbon dan biodiversitas diharapkan dapat memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai kontribusi ekosistem karst terhadap upaya mitigasi perubahan iklim, sejalan dengan agenda Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Kepala Bagian Pemerintahan dan Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan, Hesti Suteki, menyampaikan bahwa kegiatan eksplorasi semacam ini memiliki arti penting dalam memperluas informasi dan literasi mengenai kekayaan alam Pacitan, khususnya kawasan Geopark Gunung Sewu.
Menurutnya, penggalian informasi melalui kegiatan akademik dan penelitian lapangan dapat menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan upaya pelestarian kawasan.
“Kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta kehidupan sosial masyarakat dapat dipahami sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan dan perlu dijaga keberlanjutannya,” kata Hesti, Senin (19/10).
Lebih dari sekadar kegiatan identifikasi, EKSFLORASI juga membuka ruang bagi tumbuhnya kesadaran bahwa pelestarian alam tidak dapat dipisahkan dari pemahaman terhadap masyarakat yang hidup berdampingan dengannya. Pengetahuan mengenai kondisi sosial-ekologi menjadi bagian penting dalam merumuskan arah pengelolaan kawasan yang tidak hanya berpijak pada perlindungan lingkungan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan kehidupan masyarakat setempat.
“Kehadiran mahasiswa IPB University di Desa Bomo diharapkan turut memperkaya khazanah informasi mengenai Geopark Gunung Sewu, sekaligus mendorong tumbuhnya kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga warisan alam Pacitan,”jelas pejabat alumni Sekolah Tinggi Kepamongprajaan ini pada wartawan.
Setiap jejak eksplorasi, sambung Hesti, bukan hanya tentang menemukan potensi yang tersembunyi, melainkan juga tentang membangun pemahaman dan tanggung jawab bersama. Dari bentang karst Desa Bomo, tersimpan pelajaran bahwa kekayaan alam bukan semata warisan untuk dinikmati hari ini, tetapi amanah yang perlu dirawat agar tetap lestari bagi generasi mendatang.
Melalui kegiatan EKSFLORASI, Gunung Sewu kembali menegaskan nilainya bukan hanya sebagai lanskap geologi yang istimewa, melainkan juga sebagai ruang kehidupan, sumber pengetahuan, dan bagian penting dari ikhtiar menjaga keseimbangan alam menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.(Red/yun).

Tinggalkan Balasan