Philips Mengumumkan Implementasi Philips ICCA dan IGS Pertama di Indonesia di Rumah Sakit Kasih Ibu, Bali

Jakarta, Indonesia – Royal Philips (NYSE:PHG, AEX:PHIA), pemimpin global di bidang teknologi kesehatan, hari ini mengumumkan perkembangan signifikan dalam digitalisasi perawatan pasien di Rumah Sakit Kasih Ibu, Denpasar, Bali. Untuk pertama kalinya di Indonesia, Philips memperkenalkan sistem IntelliSpace Critical Care and Anesthesia (ICCA) dan Philips IntelliVue Guardian Software (IGS), sebagai bagian dari solusi perawatan terkoneksi (connected care) Philips yang bertujuan untuk memastikan kelancaran perawatan dan alur Informasi yang lebih tepat waktu antara pasien dan tenaga profesional kesehatan sebagai pihak yang menyediakan perawatan. Kedua solusi yang diterapkan bersama ini akan membentuk tulang punggung digital bagi Rumah Sakit Kasih Ibu dan membantunya meningkatkan hasil akhir dan pengalaman pasien dengan biaya lebih rendah dan kepuasan tenaga profesional kesehatan.

Ket foto : Presiden Direktur Philips Indonesi Pim Preesman

Memanfaatkan teknologi digital untuk membantu perawatan kritis akut tingkat lanjut
Alur kerja pada Unit Perawatan Intensif (ICU) cukup rumit, meliputi pendaftaran masuk/keluar, rutinitas perawatan sehari-hari, gawat darurat dan kejadian tak terduga, di samping memberikan perawatan akhir hidup. Jumlah obat-obatan, pindaian, perawatan dan pengujian yang diberikan atau dilakukan untuk pasien memberi beban besar pada pasien dan keluarganya. Alur kerja rumit ini membutuhkan upaya besar dari seluruh tim medis yang terlibat. Diperkirakan ada 178 proses yang dilakukan di sebuah ICU setiap harinya, dengan 1,7 di antaranya mengalami kesalahan. Bagi tim yang terlibat, pengambilan keputusan merupakan sebuah proses yang rumit tetapi harus dilakukan dengan cepat. Hal ini masih dipersulit lagi dengan banyaknya data yang berasal dari berbagai peralatan berbeda, rekam medis dan sumber-sumber data lainnya.

Digitalisasi layanan kesehatan, terutama di rumah sakit yang merawat pasien gawat darurat dan paska-operasi, merupakan kebutuhan yang mendesak sejalan dengan upaya rumah sakit dalam memenuhi peningkatan permintaan layanan kesehatan tanpa mengorbankan kualitas perawatan dan keselamatan pasien. Di Indonesia pun demikian. Perawatan akut paling banyak diasosiasikan dengan jumlah kesalahan medis tertinggi. Hampir semua pasien ICU berpotensi terancam keselamatan jiwanya selama masa perawatan mencapai 78% akibat kesalahan medis yang serius. Pengambilan keputusan dan diagnosis juga lebih sulit dalam perawatan kritis karena kerentanan pasien yang dapat memiliki komorbiditas dan kondisinya dapat memburuk dengan cepat.

Ket foto : Salah seorang Clinical Aplication Budi Rismawan saat menjelaskan Early Warning Systems pada sistem IntelliSpace Critical Care and Anesthesia (ICCA) dan Philips IntelliVue Guardian Software (IGS).

“Kami senang menandai perkembangan signifikan dalam digitalisasi pengobatan pasien di Indonesia bersama Rumah Sakit Kasih Ibu di Bali. Dengan solusi IntelliSpace Critical Care and Anesthesia (ICCA) dan IntelliVue Guardian Software (IGS) milik Philips, kami memadukan sistem pemantauan pasien dengan teknologi terhubung untuk memberi konsistensi dalam perawatan pasien, transisi pasien yang mulus dan hasil yang lebih baik. Kami berkomitmen untuk membantu rumah sakit di seluruh Indonesia menerapkan teknologi connected care sebagai upaya membantu pasien dan tenaga medis,” ujar Pim Preesman, Presiden Direktur Philips Indonesia.

“Rumah Sakit Kasih Ibu, bercita-cita untuk menjadi rumah sakit pintar (smart hospital), kini menjadi paling depan dalam pemanfaatan inovasi teknologi kesehatan, terutama dalam digitalisasi perawatan pasien untuk memenuhi harapan – baik pasien domestik mau pun asing,” komentar Krishnawenda Duarsa, Presiden Kasih Ibu Hospital Group. “Kami percaya bahwa investasi pada solusi kesehatan ini akan meningkatkan kualitas jasa dan perawatan pasien, memungkinkan tim medis kami untuk lebih fokus menyediakan perawatan yang benar pada saat yang tepat, demi mendorong peningkatan hasil perawatan pasien yang lebih baik dan operasional rumah sakit yang lebih efisien.”

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *