Nasionalisme Sultan Serdang Dalam Kenanganku

Oleh: Ir H Soekirman

(Bupati Kabupaten Serdang Bedagai)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. Bangsa yang menghargai jasa pejuang dan pahlawan. Di depan pintu kuburan di sebuah desa di Tanjung Morawa pernah ku baca tulisan “Turut sedih kehilanganmu, merasa bangga atas jasamu”.

Sebagai generasi penerus bangsa, aku yang lahir 1955 hanya bisa mengenang Sultan Sulaiman Syaiful Alamsyah lewat kenangan itu aku mencintainya. Lewat kenangan itu pula aku mendoakannya. Al-fatiha, semoga arwah beliau husnul khotimah, dan diganjar Allah dengan syurga jannah.

Kenangan adalah perasaan yang tidak bisa dihapus dari hati seseorang. Kenangan jua yang tidak mati. Jadi, jika mencintai seseorang, kenang-kenanglah dia kapan saja, dimana saja. Mungkin itu yang mengilhami penyair Chairil Anwar dalam sajaknya Karawang Bekasi dimana didalamnya ada kata “kenang-kenanglah kami yang berserak antara Karawang Bekasi”.

Emakku Hj. Sanikem alm, lahir dan tumbuh di Bendang, di daerah persawahan di seputar Istana Kota Galuh Perbaungan. Dia yang sering bercerita saat aku masih kecil. Betapa indah, rukun dan damai rakyat kesultanan Serdang. Bumi yang telah gemah ripah loh jinawi tergambar dan menjadi sarana budi pekerti rakyat.

Alm emakku yang selalu bercerita betapa baik Tuanku Sultan. Ceria rakyat dihati besar, atau jelang hari raya. Kakek yang terlibat mengurus ternak di Pantai Cermin. Mbah Godek saudara sepupu kakek nenek yang ahli jagal untuk potong kerbau tanpa bantuan orang lain. Kakek Godek sendiri mampu menjatuhkan kerbau dan menyembelih.

Ada lagi kakek Sajiman yang khusus mengurus Kuda Sultan. Kakek buyut kami ini diundang saudaranya yang sudah lebih dahulu datang ke Deli. Asal kakek di Parakan Jawa Tengah Kabupaten Wonosobo. Buyut Sajiman inilah urusan Kuda dan depan kerajaan Sultan Serdang.

Dibayangkan, Istana Sultan Serdang yang megah sesekali dikunjungi oleh keturunan keluarga kami. Mengunjungi kebun binatang istana Kota Galuh. Taman hewan terlengkap yang pernah ada di Sumatera saat itu.

Timbul rasa bangga, bahwa leluhur kami ikut dalam telenovela perjalanan Sultan Serdang. Meski secuil, hanya sebagai “abdi dalem”, tapi kenangan betapa baik dan agungnya Sultan Serdang dalam memori emakku cukup bagiku untuk memberi penghargaan, penghormatan, dan doa ikhlas untuknya dan para zuriatnya.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *