Dikutip dari: http://sorotdaerah.com/
“Tulang, boa ma annon borukkon. Tokkin nari nama au –Paman, entah bagaimana nasib putriku ini, nanti. Hidupku tidak lama lagi,” tangis Maria Marlina Manurung (45), penderita kanker payudara stadium empat, warga Sempakata, Medan Selayang, Kota Medan, Senin (14/9).
Tidak cuma kanker yang menggerogoti tubuhnya. Ada juga penyakit lainnya, yang diduga disantet orang. Secara fisik, tampak kedua kaki Maria bengkak seperti melepuh. Sedangkan tangan kanannya mengecil dan tidak bisa digerakkan lagi.
“Sude dagingkon posi, sahera na itusuki jarum. Haccit. Posi. Molo margeser otik pe, haccit hian. Hera na diseati, diiris-iris piso. –Seluruh tubuhku ini, seperti ditancapi jarum. Kalau bergeser atau tersentuh sedikit saja, rasanya sakit sekali. Seperti disayat-sayat, diiris-iris pisau,” ungkapnya saat ditemui di Warung Ginsu No 4, Gang Merpati, Jalan Besar Tanjung Selamat, Sunggal, Deli Serdang.
Maria dan keluarganya baru dua hari pindah dari Sempakata ke Tanjung Selamat, lantaran mereka telah jatuh miskin. Di warung Ginsu ini, mereka mengontrak rumah agar lebih murah. Sebelum jatuh sakit, Maria rajin memulung barang bekas di kawasan Jalan Ayahanda maupun kompleks perumahan Tasbih.
Maria telah menggeluti aktivitas memulung sejak 2019. Ia nekat memulung karena tidak mau bergantung pada suaminya Selamat H Ginting Suka (40) karena sana sekali tidak memperhatikan keluarganya sendiri.
“Au marbotot di kompleks Tasbih. Anggo ripekku ndang tarpakke. So disarihon au dohot borukkon. Boa baenon. Boru Batak do au, ikkon do mula-ulaon.–Aku memulung di perumahan Tasbih. Suamiku tak bisa kuandalkan. Dia tidak pernah menafkahi kami. Mau gimana lagi. Perempuan Batak mesti kerja keras,” ujarnya.
Maria memilih memulung karena perlu uang cepat setiap hari. Ada biaya yang harus ia tanggung yakni menafkahi dua putrinya, Mutiara (10) dan Permata (8). Keduanya masih pelajar setingkat sekolah dasar.
“Lokma hera gembel au na marbotot on asalma hasea haduan gellengkon. Molo ndang marbotot au, aha ma allangon ni gellengkon. Boama nasida marsikkola. Alai parbotot pe ikkon tigor marroha jala tikkos ngoluna. –Tak mengapa aku seperti gembel memulung, asalkan anakku ini kelak berhasil di masa depan. Kalau aku enggak memulung, makan apa nanti anakku dan bagaimana mereka bisa bersekolah. Tetapi jadi pemulung pun mesti hidup jujur, berintegritas dan belaku baik,” kata dia.
Prinsip itu yang selalu dia ajarkan kepada dua anak perempuannya. Agar kelak, kedua buah hatinya itu tumbuh menjadi anak yang jujur dan berintegritas. Didikan kejujuran itu, kata Maria, dia peroleh dari orangtuanya. Ibunya adalah guru, sedangkan bapaknya jaksa. “Najolo, denggan do ngolukku. Mewah. Gok holong. Ala ni do muse denggan hudalani ngolukkon. Saonari pe, akka nadenggan ido huajarhon tu gellengkon. –Dulu, kehidupanku sangat baik dan mewah, penuh kasih sayang. Karena itu, aku hidup dengan baik. Sekarang, kebaikan dan kejujuran itu yang kuwariskan kepada kedua anakku ini,” sambungnya.

Maria menangis karena ia kini sekarat. Setiap hari hanya bisa tergeletak di sofa, di ruang tamu rumahnya. Ia hanya bisa bergantung pada kedua anaknya. Kedua putrinya itulah yang setia setiap hari merawatnya, walau masih bocah. Mereka berusaha membopong Maria kalau harus ke toilet untuk urusan hajat atau buang air kecil. Kedua bocah ini pula yang memasak, mencuci dan jualan di warung mereka.
