Liputan BERITA

Hari Air Sedunia, Dinas PUPR Pacitan Mengajak Masyarakat Bijak menggunakan air

Ditulis oleh Liputan68 pada 22 Maret 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan- Air merupakan hal mendasar bagi kehidupan manusia. Meski disisi lain, air bisa juga menjadi sumber bencana.

Namun demikian, negara dengan amanah konstitusinya, menegaskan bahwa air merupakan kebendaan yang wajib untuk dilestarikan, sebagai penunjang hajat hidup manusia dimuka bumi.

Seiring peringatan Hari Air Sedunia (Wolrd Water Day) yang jatuh pada Senin, 22 Maret 2021, perlunya bagi masyarakat di seluruh belahan dunia untuk menghargai akan pentingnya air.

“Hari ini, 22 Maret, dunia memperingati Hari Air Sedunia (World Water Day). Tema dari peringatan Hari Air Sedunia tahun ini adalah, Valuing Water, ajakan agar masyarakat menghargai air,” kata Kabid Sumber Daya Air, Dinas PUPR Kabupaten Pacitan, Yudo Tri Kuncoro, Senin (22/3).

Dia mengungkapkan, bahwa setiap individu dapat berperan dalam mengelola air, dengan tiga hal. Yaitu tampung, gunakan, dan resapkan.

“Tampung, ini sangat berkaitan dengan air hujan. Artinya untuk digunakan memenuhi keperluan sehari-hari. Sisanya resapkan ke dalam tanah. Dengan demikian, kita masih bisa menjaga agar tetap bersahabat dengan air,” tutur pejabat eselon III B ini, saat dikonfirmasi.

Menurut Yudo, upayakan agar air hujan yang jatuh ke atap rumah, tidak melimpas dari halaman kediaman. Dari hal tersebut setidaknya sudah ikut memberi andil mengurangi limpasan permukaan (run off). “Dengan run off mangecil, maka banjir akan mengecil pula.

Perlu diketahui, dengan langsung mengalirkan air hujan ke saluran drainase permukinan, rumah kita mungkin aman, tapi kita akan memberikan andil dalam menyumbang banjir di lingkungan sekitar kita,” sambungnya.

Lebih lanjut Yudo mengatakan, proses infiltrasi dan perkolasi air ke dalam tanah perlu waktu yang lama. Sementara apabila eksploitasi air dilakukan terus menerus sedangkan tidak ada langkah meresapkan air ke dalam tanah, mèlainkan selalu membuang air langsung ke selokan, ke sungai selanjutnya ke laut, maka kesempatan air meresap ke dalam bumi makin berkurang.

“Dampaknya air tanah akan semakin turun. Dalam jangka panjang, jika kemarau, air akan makin sulit didapatkan, sedangkan pada saat musim hujan banjir akan makin besar,” jlentreh pejabat yang memiliki basic skill keilmuan dibidang pengairan ini.

Terkait rain water harvestng (pemanenan air hujan), yang saat ini sedang booming dikampanyekan oleh Kementerian PUPR, Yudo menegaskan bahwa prinsipnya adalah bagaimama menciptakan zero run off di tempat-tempat hunian, perkantoran, dengan membangun penampungan air hujan dalam skala rumahan, ataupun bendungan, embung dalam skala lebih besar.

Air hujan juga mempunyai potensi yang besar untuk mewujudkan ketahanan air, terutama untuk memenuhi kebutuhan air pada saat musim kemarau pada daerah-daerah rawan kekeringan. Apalagi di Pacitan ini ada 45 titik kawasan rawan bencana kekeringan.

“Kita harus bisa mengolah air hujan menjadi air minum sehat dengan metode elektrolisa air.

Jadikan air sahabat kita. Cintai, manfaatkan, resapkan, kelola, dan jaga dengan bijak dan cerdas. Kita hidup di jaman modern, maka berpikirlah modern juga dalam mengelola air dengan berpikir jauh ke depan, tidak hanya memikirkan kebutuhan sekarang tapi juga masa depan generasi penerus kita,” pesan Yudo. (yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian