Pakaian dan Gaya Rambut Ala Barat Bisa Terkena Razia
Liputan68.com | Rezim Kim Jong-un mulai melakukan razia kepada warganya yang pakaian dan potongan rambutnya bergaya Barat.
Celana yang ketat dan potongan rambut trendi dianggap negara sebagai pengaruh berbahaya dari budaya pop asing.
Saat ini pemerintah Korea Utara telah menggencarkan upaya untuk memastikan bahwa tidak ada warga yang menggunakan gaya Barat di Korea Utara.
Organisasi Liga Pemuda Patriotik Sosialis mengadakan kampanye dengan yang menyatakan bahwa gaya rambut dan pakaian tradisional Korea Utara merupakan elemen penting dari kehidupan sosialis.
Organisasi tersebut melakukan patroli dengan mengambil tindakan terhadap anak muda berambut panjang yang mencapai pinggang.
Dan untuk para wanita yang mewarnai rambutnya dan memakai pakaian dengan huruf asing serta celana ketat juga turut terkena razia.
Pihak berwenang telah merekam video yang menunjukkan beberapa wanita yang berusia antara 20 sampai 30 tahun ditahan karena berbusana menggunakan legging ketat dan juga mengecat rambutnya.
Dalam narasi video itu menyebutkan bahwa para wanita tersebut mengenakan pakaian tidak senonoh dan menjadi seorang yang ‘nakal kapitalis’.
Setiap warga Korea Utara yang melanggar aturan mode akan menghadapi penahanan, bahkan hingga dipukuli atau dipenjarakan.
Mereka bisa dibebaskan dengan cara menulis surat permintaan maaf atas apa yang telah dilakukan dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi mengenakan model pakaian yang dianggap salah.
Merek-merek ‘Barat’ dilarang digunakan, salah satunya adalah celana ketat, rambut yang dicat, atau wajah yang ditindik.
Tidak hanya ditangkap, anak-anak muda yang diberhentikan secara acak di jalan tersebut akan diperiksa ponselnya untuk menelusuri hal yang dianggap sebagai sumber masalah dalam pengaruh gaya berpakaian Barat.
Seorang mahasiswa Universitas Kedokteran Pyongyang terjaring razia dan dihentikan oleh tim inspeksi di jalan. Ponselnya diperiksa selama lebih dari 30 menit dan ditemukan lagu Korea Selatan.
Mahasiswa tersebut akhirnya dilarang untuk menghadiri kuliah dan ia juga dipaksa menulis surat pengakuan salah setiap hari.
Kasus mahasiswa tersebut saat ini telah diserahkan ke pengadilan dan akan diselidiki tentang cara ia bisa mendapatkan video dengan lagu Korea Selatan.(SS)

Tinggalkan Balasan