Peringati 25 Tahun Reformasi, BEM PM dan BEM FH Universitas Udayana Gelar Diskusi Publik Hadirkan Aktivis PENA 98 Bali 

LIPUTAN68.COM, Denpasar – Memperingati Hari Reformasi sebagai tonggak sejarah penting dalam sejarah bangsa, BEM PM Universitas Udayana dan BEM FH Universitas Udayana menggelar Diskusi Publik bertajuk “Refleksi 25 tahun Reformasi: Bebas eh Bablas”.

Diskusi dengan format talk show ini, menghadirkan narasumber, diantaranya Jatmiko Wiwoho (simpul PENA 98, eksponen gerakan mahasiswa Bali 1990-an), Efatha Filemeno Booromeo, S,IP., M.Sos. (dosen FISIP Unud) dan Bima Kumara Dwi Atmaja, S.H.,M.H. (dosen Fakultas Hukum Unud) di Ruang Terbuka Hijau Universitas Udayana, Minggu, 21 Mei 2023.

Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan antara lain mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, aktivis dan masyarakat umum. Talk show kemudian dilanjutkan dengan stand up comedy “Tema: Kritik Pemerintah”, dan sesi interaktif untuk mendorong percakapan bermakna tentang berbagai topik terkait reformasi.

Diskusi berformat Talk Show dilaksanakan, mengingatkan atas 25 tahun pasca tumbangnya rezim otoriter Orde Baru, namun, proses demokratisasi masih terus mengalami ujian dan hambatan. Demokrasi Indonesia bahkan semakin dipukul mundur dengan berkuasanya kekuatan-kekuatan neoliberal, kasus-kasus mega korupsi dan tentu saja fundamentalisme agama.

“Kami menolak lupa dan kami tahu siapa pelakunya, bila kita menilik serta mengingat kembali pada agenda-agenda reformasi yang digaungkan pada tahun 1998, maka harus jujur diakui bahwa tidak satu pun agenda itu dapat dilaksanakan secara konsisten oleh rezim-rezim orde reformasi,” sebut mahasiswa.

Agenda reformasi seperti adili Soeharto dan kroni-kroninya, semakin jauh dari harapan. Bahkan, suara-suara desakan untuk menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional, masih acapkali terdengar. Demikian pula kroni-kroninya. Sementara kasus-kasus korupsi keluarga Cendana dan kroninya serta kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu masih banyak yang tak kunjung mendapat penyelesaian yang berkeadilan.

Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sebagai salah satu agenda reformasi pun juga mengalami stagnasi. Khususnya, dalam pemberantasan korupsi, ada kecenderungan perlawanan yang semakin massif. Perilaku korupsi juga semakin beregenerasi. Hal ini tampak dari banyaknya kepala daerah yang berusia muda yang juga ikut terlibat dalam proses reformasi, justru kini terjerat kasus korupsi.

Refleksi 25 tahun Reformasi ini, bertujuan untuk mengenang kembali perjuangan reformasi 1998, mengenang gugurnya para pejuang reformasi, mengambil pelajaran dari peristiwa tumbangnya Orde Baru dan menemukan konteks kekinian dari tuntutan-tuntutan Gerakan Reformasi 1998 yang belum terpenuhi.

Disebutkan, reformasi menandai peristiwa bersejarah untuk menghasilkan transformasi politik dan sosial yang signifikan di negara kita. Acara ini merupakan pengingat akan kekuatan aksi kolektif dan pentingnya kemajuan yang berkelanjutan.

Dalam diskusi ini, muncul beberapa gagasan kunci terutama berkaitan dengan konteks keadaan saat ini, antara lain: bagaimana Orde Baru bisa sedemikian lama berkuasa, pelanggaran HAM selama rezim Orde Baru dan paska Reformasi 1998, supremasi hukum, monopoli kekerasan oleh negara, diskriminasi sosial, dan bahaya penggunaan politik identitas dalam meraih dan melanggengkan kekuasaan.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *