Liputan DAERAH

SMK Negeri 5 Kupang Menyatukan Doa Tiga Iman: Rekoleksi, Ekaristi, dan Pesantren Kilat untuk Menjaga Langkah Generasi

Ditulis oleh Editor NTT pada 6 Maret 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

NTT, Liputan68.com- Di tengah kesibukan mempersiapkan Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) dan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025–2026, SMK Negeri 5 Kupang memilih untuk memulai langkah para siswa kelas XII dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar belajar: menata hati dan iman.

Pada Jumat (6/3/2026), sekolah ini menggelar Ibadah Rekoleksi bagi siswa Kristen Protestan serta Perayaan Ekaristi bagi siswa Katolik sebagai bagian dari pembinaan rohani menjelang ujian.

Suasana khidmat menyelimuti lingkungan sekolah, menghadirkan ruang perenungan bagi para siswa yang sedang berada di gerbang masa depan.

Rekoleksi bagi umat Kristen Protestan mengusung tema “Setia dalam Proses, Berhasil dalam Rencana Tuhan.” Ibadah ini dipimpin oleh Pdt. Leonardo Duil, S.Th., M.Pd., yang mengajak para siswa untuk memahami bahwa setiap perjalanan menuju keberhasilan membutuhkan kesetiaan dalam proses dan ketekunan dalam iman.

Sementara itu, para siswa Katolik mengikuti Perayaan Ekaristi dengan tema “Melangkah dengan Iman, Berkarya dan Kompeten.” Perayaan suci tersebut dipimpin oleh Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi BTN Kolhua, RD. Dus Bone.

Dalam perayaan itu, para siswa diajak menyeimbangkan antara usaha manusia melalui belajar dengan penyertaan Tuhan dalam setiap pekerjaan dan langkah kehidupan.

Di sekolah ini, doa dan usaha berjalan beriringan.

Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin di SMK Negeri 5 Kupang yang mencerminkan tingginya nilai toleransi yang tumbuh di lingkungan pendidikan ini.

Pekan rohani di SMK Negeri 5 Kupang tidak hanya diikuti oleh dua agama saja. Setelah rekoleksi dan Ekaristi pada hari ini, kegiatan akan dilanjutkan dengan pesantren kilat bagi siswa Muslim pada Sabtu besok.

Pelaksana Tugas Kepala SMK Negeri 5 Kupang, Hebner Dakabesy, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan lintas iman ini merupakan upaya bersama untuk membentengi para siswa di tengah tantangan zaman.

“Hari ini kita melaksanakan rekoleksi bagi siswa Kristen dan perayaan Ekaristi bagi siswa Katolik. Besok kita lanjutkan dengan kegiatan pesantren kilat bagi siswa Muslim. Semua ini adalah bagian dari upaya bersama antara sekolah, tokoh agama, dan masyarakat untuk membentengi anak-anak kita,” ungkapnya.

Menurutnya, generasi muda saat ini hidup di era yang sangat terbuka. Informasi datang dari berbagai arah dengan begitu cepat. Tanpa penyaring yang kuat, hal tersebut dapat membawa anak-anak pada perilaku yang menyimpang.

Karena itu, sekolah terus mengedukasi para siswa agar mampu membangun pergaulan yang sehat dan produktif.

Para siswa Kristen diarahkan untuk aktif dalam kegiatan vocal group dan paduan suara, siswa Katolik didorong bergabung dalam Mudika (Muda-Mudi Katolik), sementara siswa Muslim diarahkan untuk terlibat dalam kelompok pengajian dan kegiatan keagamaan lainnya.

Namun bagi pihak sekolah, pembinaan karakter tidak bisa berjalan sendiri. Kehadiran para tokoh agama menjadi bagian penting dalam memberikan pencerahan serta penguatan moral bagi para siswa.

“Kami melihat bahwa pendidikan karakter adalah peran bersama. Sekolah, tokoh agama, dan masyarakat harus berjalan bersama untuk mendampingi anak-anak kita,” jelas Hebner.

Lebih jauh ia menegaskan bahwa kegiatan rekoleksi, Ekaristi, dan pesantren kilat menjadi wujud nyata bagaimana kebersamaan dirawat di tengah keberagaman.

“Perbedaan ras, suku, dan agama adalah kehendak Tuhan. Bagi kami, perbedaan adalah kekuatan yang menyatukan energi positif untuk membangun kehidupan yang harmonis,” katanya.

Di SMK Negeri 5 Kupang, para guru agama dari berbagai keyakinan juga berjalan bersama. Mereka tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi berkolaborasi dalam merancang kegiatan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan.

Dari sinilah lahir sebuah ekosistem pendidikan yang harmonis, tempat kebersamaan, toleransi, dan persaudaraan terus dirajut dari hari ke hari.

Dalam kesempatan itu, Hebner juga menyampaikan pesan penuh makna kepada para siswa kelas XII yang akan menghadapi ujian.

“Kalian adalah berkat Tuhan yang dititipkan kepada kami sebagai Bapak dan Ibu Guru. Fokuslah belajar dan berjuang sampai akhir,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada tokoh agama yang telah memberikan penguatan iman bagi para siswa serta berharap kolaborasi dengan para tokoh agama terus terbangun dengan kuat.

Bagi pihak sekolah, para siswa bukan sekadar peserta ujian yang mengejar nilai kelulusan. Mereka adalah harapan masa depan yang sedang dipersiapkan hari ini.***

Ditulis oleh Editor NTT

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian