Oleh: Dr. Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA)
A. Warisan Kraton Majapahit.
Kerajaan Majapahit terkenal sebagai negara yang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Rakyat berkecukupan sandang pangan papan, makmur lahir batin.
Pembangunan di segala bidang gencar dilakukan. Kejayaan Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Kanjeng Sinuwun Prabu Hayamwuruk sejak tahun 1350. Perdana Menteri dijabat oleh mahapatih Gajah Mada. Demi persatuan dan kesatuan nusantara, Patih Gajah Mada melaksanakan ikrar suci sumpah palapa.
Pujangga Majapahit kenamaan yaitu Empu Prapanca dan Empu Tantular. Atas petunjuk kedua Empu minulya itu, pada tahun 1354 dibangun tempat pemujaan. Sanggar pamujan ini berbentuk sebuah candi. Terbuat dari batu bata berkualitas prima. Candi dibangun segi empat. Puncaknya berhias wajah arca balaupata. Wajah raksasa ini berseri seri, optimis, terang, cerah, indah. Mirip raksasa penjaga Sela matangkep alun Alun kayangan Junggring Salaka.
Candi sakral itu berada di bawah kaki gunung Wilis. Pada jaman awalnya bernama Petri Pujastuti. Terletak di daerah Ngetos Nganjuk. Masyarakat lantas menyebut Petri Pujastuti sebagai Candi Ngetos.
Kegiatan spiritual Majapahit kerap dilakukan di kawasan Petri Pujihastuti. Pada tahun 1361 Empu Tantular memimpin pujamantra. Terlebih dahulu Empu Tantular siram jamas di Grojogan Sedudo. Pembacaan kidung Kakawin Sutasoma bertujuan untuk memohon keselamatan bagi sekalian warga Kerajaan Majapahit. Acara doa ini atas dhawuh Sri Baginda Raja.
Sosialisasi visi misi Kerajaan Majapahit berlangsung di Candi Ngetos pada tahun 1363. Empu Prapanca menjelaskan isi kitab Negara kertagama. Tata praja dan sistem hukum Majapahit diharapkan dapat dimengerti oleh segenap aparat. Birokrasi dianjurkan untuk menjadi pelayan masyarakat. Hadir menyertai Empu Prapanca segenap pembesar Kerajaan.
Kanjeng Sinuwun Prabu Hayamwuruk manjing ing tepet suci, kondur ing kasedan jati. Pada tahun 1386 raja Majapahit ini mangkat. Rakyat merasa kehilangan pengayom agung. Para pengrawit Istana segera nabuh gangsa Kyai Tawang Rujit. Tanda berduka cita. Lamat Lamat suara gamelan bernada sedih menyayat hati. Di bawah rintik rintik hujan gerimis, rakyat antri layat.
Atur puji pangastuti. Saat yang bersamaan, Kawula dalem yang berdomisili di desa Kuncir mengadakan ritual pujasastra. Mereka membaca kidung bhagawat gita bagian doa arwah pahlawan. Pembacaan doa ini berlangsung tujuh hari tujuh malam. Mereka berdoa dengan sukarela, demi ngalap berkah pada arwah Prabu Hayamwuruk.
Kerajaan Majapahit adalah payung besar untuk berteduh. Bagi warga sekitar gunung Wilis, Prabu Hayamwuruk adalah narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.
B. Aura Magis Candi Ngetos.
Perjalanan menuju Candi Ngetos dari Kota Nganjuk ditempuh sekitar 40 menit. Kendaraan melintasi terminal, stasiun, alun alun, stadion, pertigaan loceret, Berbek, Kuncir. Terus berjalan dengan pemandangan elok menawan.
Hari besar nasional. Siang itu tepat dengan peringatan hari Sumpah Pemuda, hari Rabu tannggal 28 Oktober 2020. Rombongan PAKASA, Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat, cabang Nganjuk mengadakan penelitian budaya. Nguri nguri budaya Jawi murih basuki lestari.

