Jelang Pilpres, Tribalisme Atau Politik Kesukuan Tengah Dilancarkan. Ini Pesan Ketua Projo Pacitan

Pacitan- Tribalisme politik atau jamak disebut sebagai politik kesukuan, belakangan disinyalir mulai dilancarkan sekelompok pihak. Hal tersebut berbarengan dengan kemunculan tokoh-tokoh nasional yang hendak berkontestasi di Pilpres 2024.

Tak ayal, bila sistem politik yang dikhawatirkan bisa mengancam kohesi sosial itu mulai dijalankan.

Tribalisme memang lebih mengedepankan kesukuan atau etnis, yang menjadi polarisasi atau “bahan bakar politik”untuk mengacaukan semangat kebhinekaan. Hal ini pernah berlangsung di era pencapresan Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014 dan 2019 dengan mengusung narasi ” Jokowi etnis China “.

Demikian juga di era Pilpres 2024, ketika Anis Baswedan mencuat sebagai bakal calon presiden yang diusung tiga partai politik yaitu Demokrat, PKS dan NasDem dengan gerbong Koalisi Perubahan untuk Persatuan, isu yang mengusung keetnizan banter menyeruak. Kalau Anis di klaim masih ke Arab-Arab’an.

Demikian juga kemunculan Ganjar Pranowo, yang banyak diklaim sebagai “Jawa tulen”.

Menyikapi hal tersebut, Ketua DPC Ormas Projo Pacitan, John Vera Tampubolon mengingatkan kepada seluruh anak bangsa untuk kembali mengingat pesan-pesan Bung Karno, yang kekeh menyuarakan kebhinekaan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

” Dulu ada Yong Java, Yong Ambon, tapi mereka tetaplah satu, yaitu bangsa Indonesia. Janganlah kita terpecah hanya karena latar belakang kesukuan. Mari sama-sama kita jaga kohesi (hubungan) sosial dengan sesama anak bangsa,” kata mantan anggota DPRD Pacitan dari PDI-P ini, Senin (22/05).

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *