Buka Festival Film Horor Pacitan 2026, Bupati Aji Dorong Cerita Lokal Menjadi Kekuatan Perfilman Nasional
Pacitan,Liputan68.com-Festival Film Horor Pacitan 2026 kembali digelar sebagai ruang pertemuan kreativitas, budaya, dan perfilman yang berakar pada kekayaan lokal.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, festival ini diharapkan tidak sekadar menjadi ajang apresiasi karya sinema, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan identitas dan potensi Kabupaten Pacitan melalui kekuatan cerita.
Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro, menyampaikan hal tersebut saat membuka Festival Film Horor Pacitan 2026, di Pantai Pancer Door, Rabu (14/10).
Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Mas Aji itu menegaskan, keberlanjutan festival merupakan bukti bahwa sebuah gagasan kreatif dapat tumbuh menjadi gerakan yang memberikan ruang bagi perkembangan seni, budaya, dan ekonomi kreatif di daerah.
Menurutnya, penyelenggaraan perdana pada 2025 telah menorehkan sejarah baru bagi Pacitan. Festival tersebut membuka peluang bagi tumbuhnya ekosistem perfilman sekaligus mempertemukan para sineas, seniman, budayawan, akademisi, dan komunitas kreatif dalam satu ruang kolaborasi.
“Ini bukan sekadar pengulangan sebuah acara, melainkan bukti bahwa sebuah gagasan dapat tumbuh menjadi gerakan, bahwa sebuah kreativitas dapat berkembang menjadi kekuatan, dan bahwa sebuah daerah memiliki kesempatan untuk membangun identitasnya melalui karya seni dan budaya,” ujar Bupati Aji.
Memperluas Cara Dunia Mengenal Pacitan
Lebih dari sekadar destinasi wisata dengan bentang alam yang memesona, Pacitan menyimpan kekayaan cerita yang berakar pada kehidupan masyarakat, tradisi, sejarah, serta relasi manusia dengan alam.
Selama ini, Pacitan dikenal melalui identitas Pacitan 70-Mile Sea Paradise, yang merepresentasikan pesona wisata bahari dan keindahan alamnya. Melalui Festival Film Horor, pemerintah daerah ingin memperluas cara masyarakat mengenal Pacitan, yakni melalui kekuatan narasi, ekspresi seni, dan kreativitas anak bangsa.
Bupati Aji memandang film sebagai medium yang mampu menghadirkan wajah lain sebuah daerah. Layar lebar tidak hanya menjadi tempat untuk menyaksikan keindahan alam, tetapi juga ruang untuk menuturkan kisah, merawat ingatan kolektif, dan memperkenalkan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, Pacitan diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai tujuan wisata, tetapi juga menjadi ruang pertemuan para kreator, ruang dialog bagi para pemikir, serta ruang ekspresi bagi seniman dan generasi muda untuk melahirkan karya-karya bermakna.
Horor Bukan Semata tentang Ketakutan
Di balik genre yang identik dengan misteri dan ketegangan, Bupati Aji melihat film horor memiliki kedalaman makna yang layak digali. Horor, menurutnya, dapat menjadi medium untuk membaca kehidupan sekaligus merefleksikan realitas sosial dan kebudayaan masyarakat.
Di dalam cerita horor, terdapat ingatan kolektif, legenda, cerita rakyat, sejarah, hingga hubungan manusia dengan lingkungan yang membentuk cara pandang suatu masyarakat terhadap dunia.
“Horor, dalam pengertian yang lebih luas, dapat menjadi cara untuk membaca kehidupan. Ia dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan, menggugah kesadaran, mempertanyakan realitas, sekaligus mengangkat kearifan lokal yang selama ini hidup di tengah masyarakat,” tuturnya.
Pandangan tersebut membuka peluang bagi Pacitan untuk menggali kekayaan kisah lokal sebagai sumber inspirasi perfilman. Cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir, tradisi dan kepercayaan setempat, serta kisah-kisah yang diwariskan lintas generasi dapat diolah menjadi karya sinema yang memiliki karakter kuat.
Bupati Aji berharap para sineas mampu menerjemahkan kekayaan tersebut ke dalam film yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman makna, kekuatan narasi, dan karakter keindonesiaan.
Ia juga menekankan pentingnya festival sebagai ruang yang menghargai keberagaman perspektif, mendorong lahirnya karya orisinal, serta memberikan kesempatan kepada sineas, terutama generasi muda, untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya.
Merawat Kolaborasi, Menumbuhkan Ekosistem Kreatif
Keberhasilan festival, lanjut Bupati Aji, tidak dapat dilepaskan dari semangat kolaborasi berbagai pihak. Ia menyampaikan apresiasi kepada Garin Nugroho selaku inisiator Festival Film Horor Pacitan, Forum Komunitas JAFF, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta seluruh sineas dan komunitas yang telah mendukung penyelenggaraan festival.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada dewan juri, komunitas seni dan budaya, para mitra, pelaku usaha, serta masyarakat Pacitan yang terus memberikan dukungan terhadap tumbuhnya kegiatan kreatif di daerah.
Sinergi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi penyelenggaraan festival yang semakin berkualitas, berdaya saing, dan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Bagi Pacitan, Festival Film Horor bukan hanya perayaan karya sinema, melainkan juga kesempatan untuk mempertemukan potensi lokal dengan gagasan-gagasan baru. Dari cerita yang tumbuh di tengah masyarakat, terbuka jalan bagi lahirnya karya yang dapat menjangkau penonton lebih luas sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Menutup sambutannya, Bupati Aji secara resmi membuka Festival Film Horor Pacitan 2026 dengan harapan agar kegiatan ini terus berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan kreatif Pacitan.
Melalui festival ini, Pacitan berupaya membuktikan bahwa kekayaan sebuah daerah tidak hanya terletak pada bentang alamnya, tetapi juga pada cerita yang diwariskan, budaya yang dirawat, dan kreativitas masyarakat yang terus menemukan cara untuk bersuara melalui layar sinema.(Red/yun).

Tinggalkan Balasan