Terkait Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi, Kemendikbud Gelar Webminar Mengelola Pembelajaran Adaftif, Fleksibel dan Akomodatif


JAKARTA – LIPUTAN68.COM – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Karakter kembali menggelar webinar yang ke delapan kalinya. Masih dalam rangka penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Pusat Penguatan Karakter menggelar webinar untuk mempersiapkan seluruh pemangku kepentingan menerapkan kebijakan kurikulum dalam kondisi khusus serta memaksimalkan pengelolaan pembelajaran yang adaftif, fleksibel, dan akomodatif.

Pusat Penguatan Karakter merupakan pusat baru di Kemendikbud yang mempunyai mandat menyampaikan dan mengedukasi kebijakan Kemendikbud serta nilai-nilai Pancasila dalam wadah penguatan karakter.

Kepala Pusat Penguatan Karakter, Hendarman menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua narasumber, moderator dan penerjemah bahasa. Hendarman juga berharap seluruh peserta yang telah daftar webinar ini yaitu sekitar 4000 orang mengikuti acara sampai selesai karena akan ada kuis berhadiah serta sertifikat yang dibuktikan oleh pengisian presensi di akhir acara. “Semoga para peserta webinar ini bisa mengikutinya sampai acara selesai,”tutur Hendarman saat membuka acara pada Jumat (21/08/2020).

Hadir beberapa narasumber diantaranya Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Susanti Sufyadi yang dalam hal ini mewakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan; Psikolog Klinis Anak, Remaja dan Keluarga, Roslina Verauli; Ketua Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud dan Pendiri Yayasan Litara, Sofie Dewayani dan guru berkebutuhan khusus berprestasi dari Papua, Fandy Dawenan, serta Hilbram Dunar sebagai moderator dan Erna Husaena sebagai penerjemah bahasa isyarat dari SLB Negeri 7 Jakarta.

Sebagai narasumber pertama, Sofie menyampaikan beberapa praktik baik dalam mengelola pembelajaran yang adaptif, fleksibel dan akomodatif melalui kegiatan literasi bagi siswa. “Sesuai dengan pengalaman saya sebagai pegiat literasi, Pembelajaran literasi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kompetensi siswa secara esensial”, tutur Sofie yang memiliki prestasi internasional sejak 2010.

Sofie juga menjelaskan apa itu kecapakan literasi dan tantangannya selama pandemic. “Kecakapan literasi pada masa pandemi menjadi penting sekali karena kecapakan literasi ini merupakan kecakapan untuk memilih, menganalisis informasi secara kritis serta menggunakannya untuk mengambil keputusan” ujar Sofie yang juga aktif dalam mengkampanyekan ilterasi membaca dan literasi virtual.

Pada kesempatan ini, Sofie memaparkan juga bahwa media bergambar mempunyai banyak manfaat, salah satunya dapat menumbuhkan minat siswa untuk memahami bacaan melalui media. “Melalui buku bergambar kemampuan literasi anak terbangun dengan mencoba membantu merefleksi cerita pada gambar tersebut,” jelas Sofie yang juga membantu menulis untuk perpustakaan digital yang didirikan bersama lembaga-lembaga yang bergerak di bidang sosial.

Sebagai informasi tambahan, Sofie bersama tim telah mendirikan 18 Taman Baca Masyarakat (TBM) di daerah perbatasan Kalimantan utara.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *