Liputan DAERAH

Dirut PT. BPRS Lampung Timur Gelar Rapat Intern, Usai Dilaporkan LSM KAMPUD Ke Kejati Lampung Terkait Dugaan Korupsi

Ditulis oleh Liputan68 pada 16 Oktober 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

LAMPUNG, WWW.LIPUTAN68.com-Direktur Utama (Dirut) PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Lampung Timur, Tony Adryansyah, S.P, belum memberikan keterangan kepada awak media terkait sejumlah dugaan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam pengelolaan di PT. BPRS Lamtim (BUMD).

Saat awak media melakukan konfirmasi kepada Dirut PT. BPRS Lamtim, Tony Adryansyah menjawab pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu.

BACA JUGADPD Partai Nasdem Pacitan, Sampaikan Ucapan Selamat Kepada Ormas Projo Yang Telah Mendukung Aji-Gagarin Di Pilbup

“Kami bahas di intern terlebih dahulu”, kata Tony, Jum’at (16/10/2020).

Sebelumnya, LSM KAMPUD Provinsi Lampung mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyampaikan laporan pengaduan kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung terkait sejumlah temuan dan kajian yakni, dugaan upaya praktik KKN terhadap pengelolaan PT. BPRS Lamtim dengan potensi merugikan PAD Pemkab Lamtim, sejak Tahun buku 2017, 2018 dan 2019.

BACA JUGASyarat Sertifikasi PPNS, Sebabkan Selter Calon Kepala Satpol-pp Pemkab Pacitan Sepi Pendaftar?

“Dengan diundangkannya Permendagri Nomor 94 Tahun 2017 Tentang BPR milik Daerah, seharusnya menjadi acuan pihak PT. BPRS Lamtim dalam menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), namun kenyataannya PT. BPRS Lamtim melakukan RUPS mengacu kepada peraturan yang sudah tidak berlaku lagi, tentunya keputusan RUPS tersebut berpotensi merugikan keuangan Negara dalam sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD), ungkap Seno, (11/10/2020).

Lebih jauh LSM KAMPUD Provinsi Lampung mensinyalir ada unsur kesengajaan dalam menetapkan acuan peraturan yang sudah dicabut atau tidak berlaku sebagai dasar pedoman pengambilan keputusan RUPS PT. BPRS Lamtim bersama Pemkab Lamtim.

BACA JUGATinjau Posko Covid-19 Tinokkah, Delpin Barus Salurkan APD Bantuan PMS

“Seharusnya dasar RUPS PT. BPRS Lamtim bersama Pemkab Lamtim pada tahun Buku 2017, 2018, dan 2019 mengacu kepada Permendagri Nomor 94 Tahun 2017, bukan Peraturan yang sudah dicabut, kemudian setelah mengacu baru mereka (Direksi PT. BPRS Lamtim-red) melakukan penyesuaian terhadap peraturan tersebut, sekarang bagaimana Direksi mau menjalankan roda Perusahaan dnegan baik, dan menyesuaikan sesuai aturan hukum, jika dasar acuan mereka saja mengacu kepada aturan yang sudah tidak berlaku, jelas ini bertentangan”, tandas Seno.

“Kami sudah melaporkan persoalan ini kepada aparat penegak hukum yaitu Kejaksaan Tinggi Lampung sebab kami menafsir Pemkab Lamtim dari sektor PAD dirugikan sebesar Rp. 1,4 Miliyar, selain itu dampaknya tidak dilaksanakannya CSR sebagai tanggungjawab sosial PT. BPRS Lamtim yang dihitung sebesar 3% dari laba setiap tahunnya”, kata Seno.

BACA JUGATerkait Proyek Jalan Dadapan-Watukarung, Ketua ProJo Pacitan: Sahabat Ali, Bupati dan Dinas PUPR Itu Kepanjangan Tangan Pemerintah Pusat

Masih lanjut Seno, “kemudian Laporan juga kami, tembuskan kepada lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) sebab ada rangkap jabatan oleh Komisaris utama yang juga menjabat sebagai kepala Dinas di lingkungan Pemkab Lamtim, sehingga tidak sesuai dengan Perda Nomor 07 Tahun 2016 Tentang Pembentukan BPRS Lamtim”, imbuh Seno.

Selain mempersoalkan dasar pengelolaan PT. BPRS Lamtim yang mengacu pada peraturan yang sudah tidak berlaku, LSM KAMPUD juga menyoroti adanya pengurangan atau pemotongan jasa produksi yang seharusnya sebesar 8% dan dana kesejahteraan 10% dari laba kepada seluruh pegawai PT. BPRS Lampung Timur, disinyalir dilakukan pihak direksi Perusahaan BUMD tersebut.

BACA JUGAJoroknya Toilet di Rest Area Tol Medan-Tebing Tinggi, Kang Hadian: Banyak Sekali Tinja tak Disiram

“Pemberian penghasilan dan fasilitas berupa honorarium dan gaji pegawai terindikasi telah terjadi pengurangan, hal ini bertentangan dengan ketentuan yang berlaku yaitu, Permeendagri 94 Tahun 2017″, tegas Seno.

Selain itu, pada jabatan dewan komisaris seharusnya dijabat oleh Komisaris utama dan minimal 2 anggota komisaris, namun pada kenyataan dewan komisaris hanya dijabat oleh Komisaris utama tanpa anggota, parahnya lagi, komisaris utama merangkap sebagai Kepala Dinas di Pemkab Lampung Timur. Dengan kondisi tersebut bagaimana dewan komisaris menjalankan tupoksinya”, tandas Seno Aji.

BACA JUGARicuh Penetapan 7 Komisioner Terpilih, Sejumlah Calon Komisioner KPID Sumut 2021-2024 Desak Audiensi dengan Komisi A DPRD Sumut

Sementara, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Lampung melalui Deputi Direktur Pengawasan, Aprianus Jhon Risnad dan Humas OJK, Dwi Krisno Yudi, belum menjawab konfirmasi awak media, hingga berita ini diterbitkan. /Sn

Redaksi

BACA JUGABupati Eddy Sampaikan Dukacita Mendalam Atas Meninggalnya Agung Prabowo

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian