MEDAN – LIPUTAN68.COM – Satu tahun penutupan sekolah berdampak pada menurunnya partisipasi belajar secara tajam. Survei Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) menemukan hampir 50 persen pelajar tidak mengikuti PJJ selama 14 hari setiap bulannya. Survei ini dilakukan pada Februari 2021 dengan melibatkan 200 anak sponsor GNI di Medan dan Deli Serdang.
“Kami melakukan survei secara periodik untuk melihat partisipasi belajar anak-anak yang kami sponsori, sekaligus memitigasi potensi penurunan kemampuan belajar atau learning loss yang mereka alami,” tutur Manajer GNI Medan, Anwar Situmorang kepada wartawan di Medan, Minggu (21/03).
Anwar mengatakan, dua kali survei dilakukan GNI yang dilakukan pada September 2020 dan Februari 2021, menunjukkan trend memburuknya partisipasi belajar seiring selanjutnya PJJ. Sekalipun kepemilikan akses belajar seperti hp android dan kuota internet terus meningkat, namun tingkat kehadiran anak mengikuti PJJ terus menurun. Pada survei September 2020, GNI menemukan dari 125 siswa yang memiliki hp android, hanya 29,60 persen yang aktif belajar setiap hari. Angka itu berkurang drastis menjadi 13 persen pada survei Februari 2021.
“Ternyata semakin lama PJJ ini berlangsung, tingkat partisipasi anak dalam mengikuti PJJ tidak lebih baik,” katanya.
Lebih lanjut Anwar mengatakan, salah satu faktor yang membuat rendahnya tingkat partisipasi belajar adalah proses dan materi belajar yang membosankan. Survei ini mencatat siswa mengeluh karena masih mendapatkan tugas yang berat dari guru. Metode belajar satu arah, interaksi yang minim antara siswa dengan guru, dan materi belajar yang berat, menjadi alasan utama anak-anak bosan mengikuti PJJ.
“Temuan kami 66% siswa mengatakan tugas yang diberikan guru tidak selalu diikuti dengan penjelasan. Dan ketika kita tanyakan kepada anak-anak ini, apa harapan mereka dalam mengikuti belajar dalam situasi PJJ ini, mereka mengatakan guru harus memberi penjelasan sebelum membagi soal, dan jangan beri soal-soal yang berlebihan” tambahnya.
Anwar mendorong Pemko Medan dan Pemkab Deli Serdang untuk melakukan pemetaan sejenis yang lebih luas agar bisa mendapat angka pasti, tingkat partisipasi belajar siswa selama pandemi. Ia menekankan bahwa learning loss sudah di depan mata, sehingga dibutuhkan pemetaan yang akurat agar pemda bisa membuat kebijakan yang tepat. Seiring masifnya vaksinasi yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah, maka terbuka peluang untuk memulai pembelajaran tatap muka (PTM) dalam waktu dekat.








