oleh

Sebuah Catatan Dari Ekspedisi Batu Nipe di Pakpak Bharat

Oleh: Prof Dr Sri Minda Murni MS

(Wakil Ketua TP PKK Pakpak Bharat dan Guru Besar Universitas Negeri Medan)

Nipe dalam bahasa Pakpak bermakna ular. Di dalam mitos Pakpak ada cerita tentang pertempuran nipe dan wangkah (babi hutan) selama 7 hari 7 malam.

Nipe seekor ular jadi-jadian milik Marga Solin di Delleng Simpulur di Desa Tumba sedangkan wangkah adalah seekor babi hutan jadi-jadian milik Marga Berutu di Delleng Sikucapi di Desa Pega.

Mengapa kedua makhluk bertempur? Alasannya karena para perbobah (pembawa barang dagangan) dari Tumba menuju Subulussalam tidak pernah kembali, diduga dimangsa wangkah.

Marga Solin di Daerah Tumba memutuskan untuk membunuh wangkah dengan mengirimkan nipe. Selama pertempuran terjadi langit terus menerus gelap, mengguyurkan hujan, disertai guntur dan petir.

Liputan JUGA  Prediden Jokowi Apresiasi Pakpak Bharat Atas Capaian Vaksinasi Tertinggi di Sumut

Di akhir pertempuran keduanya mati dan menjadi batu.

Ekspedisi Batu Nipe adalah ekspedisi gagasan Bapak Wakil Bupati Pakpak Bharat Dr. H. Mutsyuhito Solin, M.Pd beserta tim Marga Solin. Sejumlah 35 orang termasuk penunjuk jalan memulai perjalanan dari rumah dinas Wakil Bupati pada hari Minggu 26 September 2021 pukul 08.30 pagi

Rute yang ditempuh adalah Salak – Lae Ikan berbelok ke kiri ke Desa Pega. Setelah melewati jembatan Lae Kombih, jalur yang ditempuh adalah jalur berbatu penuh tanjakan dan tikungan tajam. Perjalanan dengan mobil ditempuh sekitar 2 jam.

Selanjutnya perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki, masuk hutan. Masuk dan keluar Pergi melalui jalur yang sama dan memerlukan 5 jam perjalanan: mendaki 1 delleng kemudian menurun menuju sungai, mendaki delleng kedua kemudian menurun menuju sungai kedua, mendaki delleng ketiga kemudian menurun menemukan sungai ke 3. Delleng keempat merupakan delleng dimana batu nipe berada.

Liputan JUGA  Babad Mangkunegara VII

Untuk menemukan kepalanya diperlukan perjalanan 1 km lg ke puncak delleng, dan untuk menemukan ekornya diperlukan perjalanan meniti Lae Ordi ke Desa Tumba yang belum ada jembatannya.

Sebagian tim ekspedisi berhasil mendaki delleng keempat dimana Batu Nipe ditemukan. Sisanya menunggu di tepi sungai ketiga sambil beristirahat dan sholat jamak qashar Dzuhur dan Ashar.

Air sungai Masya Allah mengalahkan jernihnya air botol kemasan. Kami meminumnya tanpa rqgu, mencuci muka dan berwudhu’, penuh rasa syukur atas keindahan ciptaan Allah Swt di bumi, bercampur rasa bahagia karena berhasil mengalahkan pendakian yang penuh tantangan serta mensyukuri keberhasilan tim menuruni bukit yang licin dan memerlukan kerjasama dan kewaspadaan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.