Liputan KOLOM

Sistem Pendidikan yang Tidak Fokus Menghasilkan Sumber Daya Manusia Unggul

Ditulis oleh Liputan68 pada 27 Mei 2022 ⏱️ 2 Menit Baca

Liputan68.com – Pada 21 Mei 1998, Soeharto lengser dari kekuasaan, setelah Jakarta dilanda kerusuhan hebat serta gagal membentuk Kabinet Reformasi. Tumbangnya Orde Baru yang berkuasa 32 tahun menerbitkan harapan terbangunnya kondisi bangsa yang lebih baik.

Kebijakan Soeharto yang represif, korup, dan otoriter berakhir tragis. Setelah 24 tahun berlalu, sampai di mana harapan itu dapat diwujudkan ?

Benar, demokratisasi sudah lebih baik. Kebebasan berpendapat jauh lebih terbuka. Namun, masih banyak yang belum dapat diwujudkan. Salah satu amanat reformasi yang sangat mendasar adalah memberantas korupsi, kolusi, nepotisme (KKN).

MPR melakukan amendemen UUD 1945 yang sebelumnya terkesan disakralkan. Dalam lima tahun, amendemen berlangsung empat kali. Hal itu menunjukkan cukup banyak masalah fundamental yang mesti disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Berbagai lembaga dibentuk dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang kredibel, memiliki landasan berpijak kokoh tetapi tetap terkontrol. Parlemen yang pada masa Orba sering disindir sebatas mengiyakan kehendak pemerintah diberi wewenang lebih luas.

Tujuannya, agar kekuasaan tak terpusat pada satu pihak. Kini, setelah hampir seperempat abad berlalu, tidak sedikit yang menyuarakan rasa kecewa. Parlemen yang diharapkan akan memberi kontrol lebih kuat terkesan melangkah ke arah yang berbeda.

Di balik jargon koalisi, langkah-langkah kompromistis beberapa kali membuat kita terheran-heran. Pencurian uang rakyat, alih-alih dapat diberantas, malah semakin menjadi-jadi. Sangat banyak pejabat dan anggota parlemen yang dijebloskan ke bui.

Bangsa ini patut merasa sedih. Menjelang masa-masa akhir kekuasaan Soeharto, tidak sedikit cendekiawan yang mengemukakan kritik mendasar terhadap pemerintahan yang sedang berlangsung.

Salah satu kritik diarahkan pada sistem pendidikan yang tidak menghasilkan sumber daya manusia unggul. Sebaliknya, bangsa ini dikesankan sangat konsumtif tanpa memiliki bekal pendidikan cukup.

Belakangan ini mengemuka berbagai pendapat yang menimbulkan polemik tentang rancangan sistem pendidikan nasional. Polemik tersebut menunjukkan bahwa kita belum memiliki sistem pendidikan yang mantap.

Menyedihkan sebenarnya, mengapa sistem pendidikan nasional masih terus menuai kontroversi, padahal bangsa ini sudah hampir seabad merdeka.

Jika polemiknya sebatas berkaitan dengan beberapa elemen, masih dapat dimaklumi. Namun, kalau berurusan dengan prinsip-prinsip yang funfamental, sungguh bukan sesuatu yang terpuji.

Tidak bisa ditawar lagi kita mesti fokus ke sana. Sistem pendidikan harus dibenahi secara sungguh-sungguh.

Kita bandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang telah menjadi bangsa maju karena pendidikannya berkembang sedemikian rupa.

Kalau membaca ulang langkah-langkah sebagai perwujudan amanat reformasi, bangsa ini tampaknya sangat terfokus pada masalah politik.

Partai politik terus bertambah tetapi implikasinya terhadap proses pemajuan bangsa masih kecil sekali.

Opini politik sangat riuh tanpa menawarkan program yang mendasar. Salah satu capaian dari sitem pendidikan yang baik adalah munculnya kader-kader pemimpin bangsa yang punya wawasan komprehensif.

Jika selama ini cukup banyak yang berkeluh kesah karena tidak adanya pemimpin berwawasan kenegarawanan, seperti itulah hasil pendidikan yang diselenggarakan tanpa konsep matang.

Sejarah menunjukkan hal itu. Para pendiri bangsa adalah mereka yang berasal dari kalangan terpelajar. Soekarno, Hatta, untuk menyebut beberapa nama, adalah bangsa pribumi yang berhasil meraih pendidikan berkualitas.

Meski sangat terpelajar, mereka tidak kehilangan idealisme sehingga memilih jalan sempit meraih kemerdekaan ketimbang menikmati fasilitas kolonial yang serba berkecukupan.

Idealisme seperti itulah yang tampaknya kurang dimiliki para pemimpin bangsa saat ini. Lulusan perguruan tinggi terkesan kurang peka terhadap kondisi bangsanya.

Mesti kita akui, berbagai gerakan mahasiswa merasa terpanggil oleh kondisi yang dialami bangsanya. Namun, hanya sebatas itu.

Ketika di antara mereka mendapat amanah memiliki jabatan tinggi, idealismenya seolah luntur begitu saja. Sumber daya manusia yang unggul akan mengantarkan bangsa ini ke arah kondisi yang lebih baik, lebih maju, dan lebih unggul.

Orientasi yang selama ini sangat mengandalkan kekayaan alam mesti diarahkan pada orientasi mencetak manusia unggul.(sumber : pikiran-rakyat.com/SS)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian