Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA)
A. Daya Magis Gunung Pananggungan.
Dalam lintasan sejarah gunung Pananggungan disebut dengan gunung Jamurdipa. Kalangan penghayat Kejawen memberi nama Gunung Perwita.
Nama perwita mengingatkan lakon Dewaruci. Raden Werkudara mendapat tirta perwita sari. Yakni ngelmu kasampurnan. Gunung Pananggungan juga tempat memperoleh kawruh sangkan paraning dumadi.
Hakikat hidup ini yang dijalani Tribuana Tunggadewi. Raja Majapahit tahun 1328- 1350 melakukan lara lapa tapa brata di Gunung Pananggungan. Diikuti segenap abdi dalem Purwo Kinanthi yang membawa sesaji uba rampe. Dupa, ratus, rasamala, sekar wangi tersedia sebagai perlengkapan upacara.
Dengan ketinggian 1672 m, hawa gunung Pananggungan terasa sejuk. Raja Putri Tribuana Tunggadewi duduk bersila memimpin upacara. Berkenan membaca doa yaitu Empu Prapanca. Pujangga Majapahit ini membuka lembaran mantra yang ditulis dalam kitab Negara Kertagama.
Abdi dalem Purwo Kinanthi Kraton Majapahit bertugas untuk ngobong dupa. Dilakukan di delapan puncak sekitar gunung Pananggungan. Yaitu puncak Wangi, Bendo, Sarahklapa, Jambe, Bekel, Gambir, Gajahmungkur, Kemuncup. Puncak gunung ini dianggap keramat suci sakral wingit.
Yang Mulia raja Putri Tribuana Tunggadewi sendiri berdoa di tengah Candi Kendhalisada. Pertapan Resi Mayangkara ini sebagai sarana tolak balak. Terutama untuk menyingkirkan gangguan angkara Raksasa Dasakumara yang beristana di Karaton Tawang Gantungan.
Empu Tantular bersama juru nujum Karaton Majapahit melakukan tata cara ritual di berbagai tempat kawasan Gunung Pananggungan. Misalnya di puncak Pucangan, Sampud, Rupid, Pilan, Jagadita, Butun. Kukuse dupa kumelun. Ngeningken tyas sang apekik.
Tata cara ritual Kerajaan Majapahit juga dilakukan dengan siram jamas. Terlebih dulu tapa kungkum di Patirtan Belahan. Telaga bening ini berguna untuk menghilangkan sukerta. Begitulah cara untuk mendapat keselamatan negeri yang berlangsung di wilayah antara gunung Arjuno dan Gunung Welirang.
Candi Kama menjadi tempat semedi para taruna. Candi Bayi untuk keselamatan anak. Candi putri untuk pemujaan para wanita. Candi Pura untuk meditasi pejabat negara. Candi Genthong untuk permohonan para petani. Tempat ritual ini berada di daerah Trawas lereng Gunung Pananggungan.
Daerah Kedungudi gunung Pananggungan tempat lelaku. Untuk permohonan bagi aparat desa di Candi Lurah. Candi Carik digunakan oleh para juru tulis. Candi Sinta untuk melatih kesetiaan. Candi Naga sebagai lambang murah rejeki. Kerajaan Majapahit punya tradisi ritual yang lengkap.
Tribuana Tunggadewi sukses memimpin Kerajaan Majapahit. Garis kepemimpinan priyayi diwariskan oleh sang ayah. Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit tahun 1293. Ayah Tribuana Tunggadewi bergelar Sinuwun Prabu Brawijaya I.
Ibu Tribuana Tunggadewi bernama Gayatri. Ratu Ageng Majapahit ini mengajari sang putri untuk menjalankan lelaku di Gunung Pananggungan. Tribuana Tunggadewi memang narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.
Garwa Tribuana Tunggadewi yaitu Pangeran Cakradhara Kartaeardhana. Beliau putra Prabu Kameswara raja Jenggala Manik. Seorang suami yang bijak bestari, menguasai unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa.
Untung sekali selama memerintah, Tribuana Tunggadewi didampingi patih cakap setia. Yaitu Mahapatih Gajahmada. Pada tahun 1334 Gajahmada mengucapkan Sumpah Palapa.
Lelaku di Gunung Pananggungan menjelang Ekspedisi Pamalayu. Diplomasi kenegaraan Majapahit dilakukan Gajahmada pada tahun 1347. Adityawarman raja Pagaruyung Sumatera Barat bersahabat erat dengan Gajahmada. Terjalin diplomasi yang hebat bermartabat.
B. Trah Majapahit Lelaku di Gunung Pananggungan.
Laku spiritual di gunung Pananggungan dilakukan oleh semua raja Majapahit. Prabu Hayamwuruk, Ratu Suhita, Kencono Wungu menjalankan acara tradisi warisan leluhur.
Pada masa kerajaan Demak Bintara yang berdiri tahun 1478, lelaku di gunung Penanggungan tetap berlangsung. Raden Patah, Adipati Unus, Sultan Trenggana, Sunan Prawata dan Ratu Kalinyamat adalah pewaris Kerajaan Majapahit.
Demikian pula Joko Tingkir yang menjadi raja Pajang sejak tanggal 1 Juli 1546. Keturunan Kraton Majapahit dari garis Pengging ini hadir di gunung Pananggungan untuk laku lara lapa tapa brata.
Tradisi lelaku di gunung Pananggungan dilestarikan oleh raja Mataram. Mulai dari Panembahan Senapati, Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati dan Sultan Agung. Mereka Trah Majapahit yang sadar akan arti penting mesu budi.
Pada tanggal 9 Mei 1654 Bupati Surabaya, Adipati Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari berkunjung ke daerah Japan. Beliau mengajak cucunya, Gusti Raden Mas Rahmat. Anak kecil yang cerdas, ramah, tampan dan luhur budi ini adalah putra raja Mataram, Kanjeng Sinuwun Amangkurat Tegal Arum. Sejak lahir Raden Rahmat tinggal di Surabaya bersama eyangnya.
Dalam lintasan sejarah daerah Japan pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Majapahit. Pangeran Pekik beserta pegawai Kadipaten datang ke Japan untuk mengenang perjuangan Raden Wijaya yang mendirikan kerajaan Majapahit pada tanggal 9 Mei 1293. Bupati Surabaya memang memberi pendidikan sejarah kepada Gusti Raden Mas Rahmat. Jasmerah, jangan sekali sekali meninggalkan sejarah. Raden Rahmat adalah putra mahkota kerajaan Mataram. Pengetahuan tentang antropologi, sosiologi, ekonomi, pemerintahan, sastra, bahasa dan etika diajarkan kepada Raden Rahmat.
Kunjungan ini sekaligus menjadi tonggak historis. Ratu Pandansari mengusulkan nama Japan menjadi Mojokerto. Ratu Pandansari adalah adik Sultan Agung yang mahir dalam ilmu kesusasteraan. Mojokerto berasal dari dua kata, Mojo dan Kerto. Kata dasar Mojo yaitu Wojo atau baja, lambang tekad kuat. Kerto berarti kerja, usaha, berjuang, karya, makmur, sejahtera. Dengan demikian Mojokerto mengandung makna filosofis yang tinggi. Mojokerto adalah tekad kuat dalam bekerja untuk mewujudkan negeri yang makmur sejahtera lahir batin.
Nama Mojokerto semakin populer, arum kuncara. Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari mengadakan upacara wilujengan, dengan sesaji jenang abang. Kyai Abdul Karim, pengasuh pondok pesantren Mojoanyar memimpin doa. Turut diundang warga dari Dawanblandong, Kemlagi, Jetis, Gedeg, Sooko, Bangsal, Puri, Trowulan, Jatirejo, Dlanggu, Mojosari, Pungging, Ngoro, Kutorejo, Gondang, Trawas, Pacet.
Setahun kemudian, tanggal 20 Juli 1655 Bupati Surabaya datang lagi ke Mojokerto. Ternyata Raden Rahmat sangat krasan tinggal di Mojokerto. Penduduknya ramah tamah, suka gotong royong, punya toleransi tinggi. Demi masa depan cucunya ini, Bupati Surabaya Adipati Pangeran Pekik membangun tiga pesanggrahan, yang berguna untuk proses pendidikan, pelatihan, perkumpulan dan peristirahatan.
1. Pesanggrahan Hargomanik.
Dibangun di daerah Mojosari Claket Pacet. Tempatnya asri, indah, elok menawan. Hawanya sejuk. Waktu malam digunakan untuk tirakatan, belajar kitab Jawa klasik karya Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Darmaja, Empu Prapanca, Empu Tantular dan Empu Kanwa. Penduduk sekitar beternak kambing. Petani menanam jagung, padi, uwi, kentang, wortel, kubis, bayem, kangkung. Pisang raja, gedang kapok, pepaya rasanya manis-manis. Raden Rahmat belajar agrobisnis langsung pada peternak dan petani.
2. Pesanggrahan Hastrowulan.
Pesanggrahan Hastrowulan berbentuk limasan joglo dara gepak. Ruangan terbuka luas. Terbuat dari kayu jati Randublatung Cepu. Tukangnya diambil dari juru ukir Jepara terpilih. Dilengkapi pula kolam renang. Bagian kanan kiri dan belakang tersedia bangunan dengan kamar yang berjejer-jejer. Raden Rahmat dan rombongan mengadakan acara diskusi tata praja. Pakar dari Bang Wetan, Bang Kulon dan pesisir bertukar pikiran tentang ilmu pemerintahan di Pesanggrahan Hastrowulan.
3. Pesanggrahan Langenasri.
Adipati Pangeran Pekik membangun Pesanggrahan Langenasri di Mojodadi Pungging. Daerah ini terkenal dengan ternak sapi. Penduduknya kaya raya. Sebagai pemimpin di daerah Bang Wetan, Bupati Pangeran Pekik turut melancarkan usaha pemasaran. Peternak selalu beruntung karena Pangeran Pekik selalu membuka tempat marketing. Ternak sapi dari Mojodadi Pungging dijual sampai ke India, Cina, Arab, Afrika dan Malaka. Raden Rahmat secara langsung belajar marketing agrobisnis. Rakyat merasa ayem tentrem.
ilmu iku kelakone kanthi laku. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Pada tanggal 13 Juli 1677 Gusti Raden Mas Rahmat dinobatkan menjadi Raja Mataram. Raden Rahmat bergelar Kanjeng Sri Susuhunan Amangkurat Amral. Warga Mojokerto diundang dalam upacara jumenengan. Sebagian terharu sampai meneteskan air mata. Teringat ketika Raden Rahmat datang di Randu Genengan Dlanggu untuk menanam pohon kakao.
Sri Susuhunan Amangkurat Amral bertahta di kraton Mataram yang beribukota di Kartasura. Pada tahun 1678 setelah pengetan tingalan jumenengan, Raden Rahmat atau Sinuwun Amangkurat Amral datang ke Mojokerto. Beliau melakukan siram jamas di Sendang Tanjungan Kemlagi. Malam harinya semedi di Batu Blorok Jetis. Sebelum pulang ke Mataram, selalu ritual di Candi Bajangratu, Wringin Lawang, Brahu, Gentong. Beliau selalu menjalankan lelaku.
Kanjeng Sinuwun Amangkurat Mas melanjutkan perjuangan Sinuwun Amangkurat Amral. Pada tahun 1703 beliau mahas ing ngasepi, anelasak wana wasa, tumuruning jurang terbis. Bersemedi di Gunung Penanggungan. Selama kunjungan ini Sinuwun Amangkurat Mas tinggal di Pesanggrahan Hastrowulan. Keesokan harinya dilanjutkan dengan ritual di Gunung Welirang dan Gunung Anjasmara. Sedhakep saluku tunggal amepet babahan hawa sanga, sajuga kang sinidhikara.
Tata cara kejawen ini diteruskan oleh Sinuwun Amangkurat Jawi pada tahun 1723. Beliau semedi di puncak gunung Pundak, gunung Siwur, gunung Krapyak, gunung Watu Jengger dan gunung Semar Gondang. Raja Mataram ini gemar lara lapa tapa brata. Tapa ngeli di Kali Brantas, Kali Ketintang, Kali Bangsal, Kali Ledeng. Perjalanan spiritual itu dalam rangka menjaga ketentraman seluruh warga kerajaan Mataram, terutama demi keselamatan rakyat Mojokerto.
B. Tata Cara Wilujengan Kenegaraan di Gunung Pananggungan.
Tata cara wilujengan kenegaraan di gunung Penanggungan terjadi sejak jaman Majapahit. Sampai saat peresmian kadipaten Mojokerto.
Peresmian Kabupaten Mojokerto sebagai sarana untuk mewujudkan kewibawaan negeri.
Mojokerto resmi menjadi kabupaten terjadi tanggal 9 Mei 1811, jaman Sinuwun Paku Buwana IV. Proses pembentukan kabupaten Mojokerto atas usulan Raden Ajeng Sukaptinah atau Ratu Handoyowati. Beliau adalah putri Bupati Pamekasan, Adipati Cakraningrat. Ibunya cucu Bupati Madura Pangeran Pekik. Setelah menjadi garwa prameswari Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV, beliau bergelar Kanjeng Ratu Kencono Wungu.
Permaisuri raja karaton Surakarta Hadiningrat sangat peduli pada wilayah Mojokerto. Pada tahun 1812 ibu-ibu dari Daworblandong, Kemlagi, Jetis Gedeg, Mojoanyar, Sooko, Bangsal diundang ke Laweyan untuk belajar batik. Ibu-ibu dari Puri, Trowulan, Jatirejo, Dlanggu, Mojosari, Pungging diberi kesempatan untuk belajar kuliner sego liwet di Baki. Ibu-ibu dari daerah Kutorejo, Ngoro, Gondang, Trawas, Pacet diberi kesempatan untuk belajar industri jamu di Nguter. Rombongan ini dipimpin oleh istri Adipati Prawirodirjo.
Biaya perjalanan ditanggung oleh Kanjeng Ratu Kencono Wungu. Maklum beliau pengusaha garam di Pamekasan, pemilik industri sarden di Kriyan dan Komisaris pelabuhan Tanjung Emas dan Tanjung Perak. Istri raja Surakarta Hadiningrat ini memang kaya raya. Putri Madura berdarah Surabaya menjadi permaisuri raja kraton Surakarta Hadiningrat. Pemuda-pemuda Mojokerto dikirim ke Bekonang untuk belajar membuat gamelan. Sebagian belajar industri perak di Kotagedhe.
