Pilpres 2024, Pengamat Perkirakan Ada Potensi Besar untuk 3 Paslon
Jakarta – Liputan68.com – Peta konstelasi pemilihan umum serentak 2024 semakin terang. Pada Kamis malam, 12 Mei 2022, tiga partai koalisi pemerintah Jokowi, yakni PPP, PAN dan Golkar menggelar pertemuan dan silaturahmi di Rumah Heritage, Jakarta. Usai pertemuan, Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto menegaskan Golkar, PPP, dan PAN akan bekerja sama. Ketiga partai memiliki satu visi soal budaya baru politik Indonesia.
Dosen politik dari Universitas Telkom, Dedi Kurnia Syah menilai, kehadiran koalisi Golkar-PPP-PAN justru menjadi alat buat Airlangga meneguhkan posisinya di partai berlambang pohon beringin. Bagi Airlangga, koalisi tiga partai akan membuat posisinya di Golkar tidak diganggu isu keretakan internal Golkar dan bisa menjamin tiket keterusungan dalam Pemilu 2024. Ia juga menilai wajar PPP dan PAN merapat karena jumlah kursi mereka lebih kecil dari Golkar.
“Dilemanya, koalisi ini tidak punya tokoh potensial, termasuk Airlangga sekalipun masih cukup kuat diragukan, jika Golkar dihantam isu perpecahan di dalam sebelum masa penentuan kandidasi, maka koalisi ini terancam pecah,” kata Dedi.
Potensi koalisi pecah pun semakin menguat jika ada upaya menggaet partai baru seperti Nasdem, Demokrat, PKB atau PKS. Sebab, kata Dedi, partai sisa memiliki kandidat yang jauh lebih kuat dibandingkan Airlangga.
“Untuk itu, koalisi Golkar ini belum cukup konfirm bersama hingga waktu mendatang. Terlebih jika Golkar memaksa mengusung Airlangga,” tegas Dedi. Dedi melihat, komposisi Pilpres 2024 sudah mengarah pada 3 poros. Poros pertama adalah PDIP-Gerindra, poros Golkar dan dua partai (PPP dan PAN), serta poros Nasdem yang diprediksi akan bersama Demokrat. Untuk Pilpres, koalisi PDIP kemungkinan akan melirik Prabowo bersama Puan Maharani di 2024.
Poros Nasdem ini kemungkinan bisa mengusung Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, AHY, Sandiaga Uno atau nama lain yang lebih potensial dari Airlangga. Masuknya nama Sandiaga tidak menutup kemungkinan karena kuatnya figur Prabowo sehingga Menparekraf itu bergeser ke partai lain, kata Dedi. Dua partai lain, kata Dedi, PKB dan PKS pun diprediksi tidak bergabung ke gerbong PDIP-Gerindra.
“PKB bisa merapat ke Golkar dengan asumsi suara PKB jauh lebih besar dari PPP dan PAN, sekaligus memungkinkan adanya tawaran sebanding dengan Muhaimin Iskandar, sementara PKS punya kecenderungan merapat pada siapa Anies akan diusung. Karena bagaimanapun PKS punya catatan sendiri dengan Anies sejak Pilgub DKI,” kata Dedi.
Dedi menilai, kursi capres bakal semakin menarik jika poros Golkar tidak mampu mendorong Airlangga. Sebeb, tidak menutup kemungkinan capres potensial di kubu lain akan “dibajak” demi memenangkan koalisi ini.
“Jika elektabilitas Airlangga tak kunjung menjanjikan, maka bukan tidak mungkin mereka akan ambil tokoh d luar koalisi, itu jauh lebih baik. Andai saja semisal secara mengejutkan membajak Ganjar Pranowo, ini akan sangat baik untuk mereka,” kata Dedi.
Hal senada diungkapkan analis politik Indostrategi, Arif Nurul Imam. Ia menilai kehadiran koalisi Golkar-PPP-PAN adalah upaya ancang-ancang partai menghadapi Pemilu 2024. Ia mengingatkan kondisi tiga partai tersebut sulit bergerak sendiri untuk pemilihan 2024.
“Tiga partai itu harus berkoalisi karena mereka kalau berdiri sendiri-sendiri tidak memenuhi syarat untuk mengajukan pasangan capres-cawapres. Itu bisa dilihat sebagai gerak politik untuk menyeimbangkan capres-cawapres lainnya yang melakukan capres maupun poros politik lain yang melakukan konsolidasi,” kata Imam.
Imam mengatakan setidaknya sudah ada poros yang dipastikan maju di 2024. Pertama adalah sinyal Gerindra mengusung Prabowo dan upaya komunikasi Prabowo dengan PDIP. Sementara itu, PDIP tengah melihat langkah apakah akan memajukan Puan atau Ganjar. Di sisi lain, upaya Nasdem yang akan menentukan capres dalam rakernas juga dinilai bisa membawa poros politik. Langkah tiga partai akan membuat tensi politik meninggi, membentuk terang poros dan membentuk poros koalisi.
“Maksimal 3 poros,” tegas Imam. Imam memprediksi Nasdem akan membuat poros sendiri bersama PKS dan Demokrat. Golkar-PPP-PAN sudah satu klaster. PDIP-Gerindra akan berada dalam satu klaster. Ia beralasan, Nasdem menjadi poros sendiri karena kesiapan Nasdem sudah kuat.
PKB akan mulai berkalkulasi ulang untuk menentukan dukungan bersama satu dari tiga poros yang ada seperti yang dilakukan sejak 2009 bila Muhaimin gagal maju. “PKB partainya realistis. Cenderung yang bisa mengakomodasi kepentingan politik dan yang memiliki probabilitas politik kemenangan tinggi. Untuk sementara PKB ingin mengusung Muhaimin Iskandar. Jika itu mentok misalnya tidak maju, tentu PKB akan melakukan kalkulasi politik berdasar kemanfaatan politik dari pertimbangan-pertimbangan taktis politik,” tutur Imam.
Sementara itu, nama capres-cawapres dari tiap poros bisa diprediksi. Kubu Gerindra jelas ingin Prabowo maju sebagai capres. Jika Gerindra bersama PDIP jadi maju bersama, Prabowo kemungkinan besar menjadi capres. Ia diprediksi bersama Puan atau bersama Ganjar.
Nama Ganjar bisa saja pergi dari PDIP jika gagal dapat tiket nyapres. Ganjar bisa merapat ke poros Golkar atau poros Nasdem. Selain Nasdem juga tengah santer dikabarkan akan mengusung Anies Baswedan. Hal itu tidak terlepas dari kalkulasi politik partai demi memenangkan Pemilu 2024.
“Kalau kemudian Ganjar tidak diusung oleh PDIP, kemungkinan ditangkap Nasdem disandingkan dengan Erick Tohir atau Sandiaga Uno,” kata Imam.
“Nasdem bisa sama Anies, Ganjar diambil oleh Golkar. Kemungkinannya kalau Ganjar tidak dapat perahu politik, dia bisa masuk Golkar-PAN-PPP,” tegas Imam. Imam mengatakan nama-nama dan koalisi bisa berubah di last minute. Hal tersebut tidak terlepas dari karakter PDIP yang kerap mengumumkan capres di menit akhir.
Sementara itu, partai menengah akan berkoalisi, sementara waktu sambil berkalkulasi kemenangan koalisi. Namun saat ini ia menduga kuat akan terbentuk tiga poros.
“Potensi besar untuk 3 kutub politik,” tutur Imam.(sumber : tirto.id/SS)

Tinggalkan Balasan