Liputan KEAGAMAAN

Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu

Ditulis oleh Liputan68 pada 15 September 2022 ⏱️ 2 Menit Baca

Liputan68.com

Oleh : Selwa Raja, Mbp

OM SWASTIASTU,

OM Awignam Astu Namo Sidham,

OM Sidhirastu Tad Astu Svaha,

OM Anno Badrah Kratvo Yantu Visvatah.

Mimbar Hindu kali ini mengangkat tema “Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu”. Ajaran Agama Hindu dapat dibagi menjadi tiga bagian yang dikenal dengan “Tiga Kerangka Dasar”. Bagian yang satu dengan lainnya saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang bulat untuk dihayati dan diamalkan guna mencapai tujuan tertinggi dalam agama Hindu, yaitu: Jagadhita dan Moksa.

Tiga Kerangka Dasar tersebut adalah:

  1. Tattwa (Filsafat)
  2. Susila (Etika)
  3. Yadnya (Upacara)

Tattwa (Filsafat)

Sebenarnya agama Hindu mempunyai kerangka dasar, dan kebenaran yang sangat kokoh karena masuk akal dan konseptual. Konsep pencarian kebenaran yang hakiki di dalam Hindu diuraikan dalam ajaran filsafat yang disebut Tattwa.

Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya dengan keyakinan kepada Shang Hyang Widhi Wasa. Oleh sebab itu, ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur.

Susila (Etika)

Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari- hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. Susila juga menyangkut hubungan social antara sesame manusia dakam menjalani kehidupan dengan tidak meninggalkan norma – norma kesusilaan. Menjaga hubungan dan interaksi dan pergaulan sosial dalam masyarakat.

Yadnya (Upacara)

Yadnya atau bagian dari Upacara adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Veda). Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Memberikan persembahan suci kepada ista Dewata juga termasuk Yadnya.

Generasi Muda Hindu yang millenial patut berpedoman pada ajaran ini jika ingin mencapai kebahagian lahir dan batin. Pertanyaannya, bagaimana menjaga tradisi  yang telah ada, tanpa mengurangi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Dalam Bhagawad Gita, Bab IX, 26 di jelaskan:

Patram Puspam Phalam Toyam. Yo Me Bhaktya Prayacchati. Tad Aham Bhakty-Upahrtam. Asnami Prayatatmanah

(Siapapun yang dengan sujud bhakti mempersembahkan kepadaKu sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan dan setetes air, Aku terima persembahan itu dengan penuh kasih dari orang yang berhati suci).

Dari sini, bisa dipahami bahwa Tuhan tidak mempersulit manusi dalam memuja-Nya. Yang dibutuhkan adalah ketulusan hati. Dalam menjalankan Swadharma, dibutuhkan pemikiran yang baik serta menyesuaikan situasi dan kondisi (Desa Kala Patra).  Konsep Ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu inilah yang menjadi landasan dalam berbakti kepada Tuhan serta menjaga tradisi Hindu Nusantara. Dengan demikian, generasi milenial Hindu tidak mudah tergoyahkan oleh apapun.

Dari pesan Dharma ini, dapat disimpulkan bahwa generasi muda Hindu patut menjaga tradisi leluhur dimanapun berada dengan mengedepankan pengetahuan dan budi pekerti. Umat Hindu tentu harus melaksanakan Yadnya atau Upacara dengan ketulusan hati yang suci. Dengan demikian, kebahagian yang hakiki dapat dicapai.

Demikianlah Mimbar Agama Hindu kita kali ini semoga penjelasan yang singkat ini dapat menambah wawasan keagamaan kita.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.(SR)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian