Kisah Memiriskan Salah Seorang ASN Pacitan Saat Bertugas Di Papua. Berjalan Kaki Tiga Hari Tiga Malam Demi Jalankan Tugas Negara
Pacitan- Ternyata bukan hal yang mudah melaksanakan tugas-tugas sebagai seorang aparatur sipil negara (ASN). Apalagi mereka yang ditugaskan di daerah konflik dan terpencil.
Namun begitu, mereka harus tetap tegar melaksanakan sumpah jabatan sebagai seorang abdi negara. Seperti yang pernah dialami Hanif Tri Adianszah, salah seorang staf pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Pacitan.
Dulu jauh sebelum di mutasi ke Pacitan, awal kali diangkat sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS), pria kelahiran Desa Sukodono, Kecamatan Donorojo tersebut mendapatkan penugasan di Kabupaten Wamena, Papua. “Awal kali diangkat sebagai CPNS pada Tahun 2010, saya ditugaskan di Wamena.. Kemudian dimutasi di Lanijaya, Puncak Jaya dan juga pernah di Kenyam, Duga,” kata Hanif, saat di hubungi awak media, Jum’at (14/7).
Selama hampir belasan tahun bertugas di daerah konflik, suka duka banyak ia alami. Meski tak jarang, nyawa nyaris melayang ketika tengah melaksanakan tugas.
Ia mengungkapkan, secara umum masyarakat Papua diakuinya sangat baik. Malah kepekaan sosialnya, bisa dibilang lebih dari masyarakat Jawa. Akan tetapi juga tak sedikit mereka yang beringas dan tak pandang bulu. Ketika privasi mereka terusik, nyawapun jadi taruhannya.
“Dulu sekitar tahun 2019, sempat terjadi gejolak hingga terjadi aksi pembakaran beberapa rumah dan gedung perkantoran di Wamena. Persoalan tersebut dipicu oleh suara, yang mengatakan ada salah seorang guru sebuah sekolah menengah atas (SMA) yang mengatai muridnya seperti monyet.
Persoalan tersebut akhirnya berujung ricuh. Anak-anak SMA turun ke jalan dan membuat keributan hingga ada aksi pembakaran beberapa fasilitas vital,” kata Hanif mengenang cerita masa lalunya yang cukup memiriskan itu.
Namun usut demi usut, kasus yang sempat membuat tempat kosnya menjadi arang itu, diduga ditunggangi oleh beberapa oknum mahasiswa yang sengaja hendak memancing kericuhan di bumi Cendrawasih tersebut. “Awalnya kami curiga, anak SMA tapi kok wajahnya sudah begitu dewasa dan ada yang sudah nampak tua. Usut demi usut ternyata aksi demo yang berujung cheos itu ditunggangi sekelompok mahasiswa dari kabupaten lain di Papua,” tuturnya.

Cerita miris lainnya yang pernah Hanif alami saat bertugas di Papua, seperti misalnya Operasi Papua Merdeka (OPM) dan di era pemerintahan Presiden Jokowi menjadi istilah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Gerakan kelompok tersebut, kata Hanif, memang tak bisa dianggap enteng. Mereka tak pandang bulu.siapapun yang kelihatan berseberangan dengan misi mereka, pasti dihabisi. Hukum seakan tak berlaku bagi mereka. “Saya pernah mengalami saat tugas didesa terpencil di wilayah Duga. Untuk menuju lokasi, kita harus berjalan kaki selama tiga hari tiga malam menembus hutan, naik turun gunung dan lembah curam. Tak jarang kita bertemu dengan kelompok KKB. Ya kita menyapa dan seakan-akan ada di kelompok mereka.

Kalau tidak begitu, mungkin pulang tinggal nama,” kata Hanif yang saat ini bertugas sebagai staf di Bidang Pemberdayaan Lembaga Desa, Dinas PMD Pacitan.
Masih dikesempatan yang sama, Hanif juga menceritakan kuatnya hukum adat yang berlaku di Papua. Apalagi sampai melukai penduduk adat, bencana pasti akan diterimanya. “Misalnya ada penduduk adat yang mencuri dan pemilik rumah tau, sebaiknya kita diamkan. Pernah suatu ketika, ada pencuri masuk ke rumah dan diberi bogem mentah sama adik ipar yang seorang anggota Brimob. Eh malah keesokan harinya, keluarga kami di kenai denda oleh ketua adat. Sebab si pencuri mengalami luka,” beber Hanif.
Belum lagi saat menjelang perayaan HUT Kemerdekaan, para kelompok adat hampir bisa dipastikan meminta jatah uang. Alasan mereka untuk perayaan bersama masyarakat adat. “Mau nggak mau yang harus kita beri agar tidak terjadi permasalahan,” jelasnya.
Dari beberapa kisah memiriskan yang pernah dialaminya itu, Hanif sangat berharap segera ada langkah tegas dari pemerintah terhadap gerakan KKB yang hampir saban hari memakan korban jiwa. Baik dari kalangan penduduk sipil maupun perangkat negara. Seperti TNI dan Polri.
“Kasihan mereka demi melaksanakan tugas negara, nyawa jadi taruhannya. Meskipun saya juga tidak menampik bila bertugas di Papua, dari sisi kesejahteraan memang sangat luar biasa dibanding dengan daerah lainnya,” pungkas Hanif. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan