Menjaga Rezeki di Bawah Lampu Kota: Kisah Maun dan Sri, Perantau Asal Surakarta Yang Tak Pernah “Menutup Pintu”
Pacitan,Liputan 68.com-Di bawah cahaya lampu kota yang temaram, di sisi timur Pendopo Pemkab Pacitan, ada sebuah sudut kecil yang tak pernah benar-benar terlelap.
Warung makan sederhana dan bengkel tambal ban itu berdiri tenang, seperti pelita kecil yang setia menyala bagi siapa saja yang membutuhkan.
Siang itu, mentari menyapa dengan cahaya yang lembut. Tak jauh dari arus lalu lintas yang sesekali melintas, seorang pria paruh baya tampak membungkuk menambal ban sepeda motor tua yang kempes.
Tangannya cekatan, geraknya terlatih. Namun dari sorot matanya, tersisa lelah akibat berjaga semalaman.
Ia adalah Bambang Maryanto atau karib disapa Maun, seorang perantau asal Surakarta, Jawa Tengah, yang puluhan tahun lalu memilih Pacitan sebagai rumah keduanya.
Tanpa papan nama mencolok, tanpa iklan berisik, Maun menjalani hari-harinya dengan satu keyakinan, rezeki tak perlu dikejar dengan tergesa, cukup dijaga dengan kejujuran.
Di balik bengkel kecil itu, istrinya, Tukidjem atau yang akrab disapa Mbak Sri, nampak sibuk melayani pelanggan warung. Aroma kopi dan masakan rumahan menguar perlahan, menyatu dengan suara kompresor dan gemerisik jalanan. Mereka berbagi peran, berbagi lelah, dan berbagi harapan.
Bertahun-tahun lamanya, pasangan ini menggantungkan hidup dari warung makan yang buka setiap hari. Dari dapur sederhana itulah, tiga anak mereka tumbuh dan disekolahkan.
Anaknya yang sulung kini telah berkeluarga. Anak kedua merantau bekerja di Semarang. Sementara si bungsu, bersiap menapaki bangku sekolah menengah atas.
“Alhamdulillah, Mas,” ujar Maun pelan, sembari mengusap keringat yang jatuh dari dahinya. “Rezeki mungkin nggak banyak, tapi cukup. Yang penting anak-anak bisa sekolah.”
Keputusan membuka bengkel tambal ban di depan teras warung lahir dari kepekaan sederhana. Meski berada di tengah kota, Maun kerap melihat pengendara motor menuntun kendaraannya jauh hanya demi menemukan tambal ban. Dari situ, ia tergerak.
Dengan tabungan seadanya, Maun membeli kompresor kecil, alat bakar, dan perlengkapan tambal ban.
Ia pun meniatkan satu hal yang jarang dilakukan, membuka bengkel selama 24 jam, tanpa mengenal waktu, di sebuah petak tanah yang ia sewa dari warga sekitar dan menyatu dengan bangunan kayu dari warung miliknya yang sudah lebih lama berdiri.
Bukan semata mencari nafkah, tetapi sebagai bentuk kehadiran. Bengkel itu menjadi tempat singgah bagi mereka yang tertimpa kesialan di jalan, ban kempes di tengah malam, hujan turun tiba-tiba, atau perjalanan yang hampir terhenti.
Yang membuatnya berbeda, tak ada tarif berlipat. Tak ada aji mumpung. Bahkan di tengah malam, Maun hanya menambah sedikit biaya, sekadar pengganti waktu istirahat yang tertunda.
“Tengah malam pun kalau ada yang butuh, monggo… ketuk saja pintu,” katanya mantap. “Hujan atau tidak, tetap saya layani.”
Di kota yang kian cepat berlari, Maun dan Sri memilih berjalan pelan. Menjaga rezeki dengan kejujuran, menjemput hari dengan kesabaran.
Di sudut kecil Pacitan, mereka membuktikan bahwa ketulusan, meski sederhana, selalu menemukan jalannya untuk menghidupi, menguatkan, dan menghangatkan hati sesama.(Red/yun)

Tinggalkan Balasan