Liputan DAERAH

Ketua DPRD Ngada Romi Juji Turun Langsung, Keracunan MBG Kembali Terulang di Inerie

Ditulis oleh Editor NTT pada 4 Maret 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

NTT, Liputan68.com- Kasus keracunan yang diduga akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mengguncang Kabupaten Ngada.

Setelah insiden pada 26 November 2025 yang sempat memicu sorotan publik, peristiwa serupa kembali terjadi di Kecamatan Inerie, Selasa sore, 3 Maret 2026.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, puluhan anak mendadak mengalami muntah-muntah dan lemas usai menyantap menu MBG. Mereka langsung dilarikan ke Puskesmas Inerie untuk mendapatkan penanganan medis.

Data sementara menyebutkan jumlah korban mendekati 50 anak, bahkan ada yang mengalami muntah-muntah setelah mengonsumsi menu telur dan tahu dengan balado tomat.

Dapur MBG Waebela, Kecamatan Inerie, kini menjadi sorotan karena diduga menjadi sumber makanan yang dikonsumsi para korban.

Insiden berulang ini menimbulkan pertanyaan serius: mengapa kasus serupa kembali terjadi setelah kejadian November lalu? Apakah evaluasi dan pengawasan sudah benar-benar dilakukan?

Ketua DPRD Ngada: “Saya Bergerak ke Dapur, Ini Tidak Boleh Terulang”

Ketua DPRD Ngada, Romi Juji, saat dikonfirmasi media ini menyatakan dirinya langsung bergerak untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.

“Saat ini saya sementara menuju dapur untuk melihat secara langsung apa penyebab keracunan massal ini,” tegas Romi (4/3/2026).

Ia juga mengaku telah mengunjungi fasilitas kesehatan untuk melihat kondisi para korban.

“Tadi malam saya sudah mengunjungi anak-anak yang dirawat untuk memastikan mereka mendapat penanganan maksimal,” ujarnya.

Romi menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi evaluasi serius. Program MBG yang digagas untuk mendukung generasi emas seharusnya menjamin keamanan dan kualitas makanan, bukan sebaliknya.

Sejumlah pihak menilai jenis makanan yang rentan basi atau berisiko alergi seharusnya tidak disajikan tanpa pengawasan ketat. Penentuan menu dan waktu memasak disebut sebagai tanggung jawab tenaga ahli gizi, bukan semata urusan teknis dapur.***

Ditulis oleh Editor NTT

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian