Dirut BUMD Termuda Indonesia Siap Bangkitkan Ekonomi Bali Timur
Denpasar, Liputan68.com — Direktur Utama PT Pusat Kebudayaan Bali (Perseroda), I Putu Hendika Permana,S.Kom., M.M., membawa arah baru dalam pengelolaan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali.
Ia siap mendorong kawasan tersebut tidak hanya menjadi pusat pelestarian budaya, tetapi juga penggerak ekonomi baru bagi Bali Timur.
Kawasan Pusat Kebudayaan Bali berada di Kabupaten Klungkung dan mencakup wilayah lima desa, yakni Desa Gunaksa, Desa Tangkas, Desa Gelgel, Desa Jumpai, dan Desa Sampalan Kelod.
“Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat kegiatan kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, perdagangan, dan investasi”. ungkap Hendika
Pusat Kebudayaan Bali merupakan proyek ambisius Gubernur Bali I Wayan Koster untuk membangun pusat peradaban Bali yang representatif.
Proyek ini sekaligus membawa misi pemerataan pembangunan dengan memperkuat potensi ekonomi Kabupaten Klungkung dan wilayah Bali Timur.
Di bawah kepemimpinan Putu Hendika, PT Pusat Kebudayaan Bali (Perseroda) memegang peran penting dalam menerjemahkan visi besar tersebut menjadi kawasan yang produktif,
berkelanjutan, dan memiliki nilai ekonomi. Perseroda tidak hanya bertanggung jawab terhadap pengelolaan kawasan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang mampu menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, serta membuka peluang bagi pelaku ekonomi lokal.
Putu Hendika dipercaya memimpin perusahaan setelah menempati peringkat pertama dalam seleksi calon direksi PT Pusat Kebudayaan Bali (Perseroda) tahun 2026.
Ia memperoleh nilai 8,72 dari akumulasi ujian tertulis, presentasi, dan wawancara dalam proses uji kelayakan dan kepatutan.
Berusia 38 tahun, Hendika menjadi representasi generasi muda dalam kepemimpinan BUMD.
Ia memiliki latar belakang di bidang teknologi informasi,manajemen, perbankan, kewirausahaan, serta pengelolaan perusahaan daerah.
Sebelum memimpin PT Pusat Kebudayaan Bali (Perseroda), Putu Hendika pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan Perumda Kerthi Bali Santhi. Ia juga memiliki pengalaman membangun dan memimpin sejumlah usaha yang bergerak dalam bidang teknologi dan bisnis
digital. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mengembangkan Pusat Kebudayaan Bali sebagai kawasan yang adaptif terhadap perkembangan industri.
Tantangan Perseroda bukan sekadar mengelola fasilitas kebudayaan, tetapi juga memastikan kawasan memiliki model bisnis yang kuat, tata kelola yang sehat, dan mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Upaya membangkitkan ekonomi Bali Timur akan dilakukan dengan menghubungkan kegiatan kebudayaan dengan sektor pariwisata, pameran, pertemuan berskala besar, ekonomi kreatif, perdagangan, dan promosi produk lokal. Kerja sama dengan pihak ketiga juga menjadi bagian penting dalam menghadirkan investasi yang sesuai dengan peruntukan dan karakter budaya kawasan.
Kawasan ini juga diharapkan mendorong pergerakan wisatawan menuju Bali Timur. Meningkatnya aktivitas kebudayaan, pameran, perdagangan, dan pariwisata akan membuka peluang usaha bagi masyarakat, mulai dari sektor akomodasi, transportasi, kuliner, kerajinan, hingga jasa pendukung lainnya.
Dengan pengalaman di bidang bisnis dan teknologi, Putu Hendika dihadapkan pada tugas untuk membangun sistem pengelolaan kawasan yang profesional dan terintegrasi. Digitalisasi operasional, pengembangan model bisnis, serta kerja sama investasi yang selektif menjadi instrumen penting agar Pusat Kebudayaan Bali tidak hanya ramai ketika kegiatan besar berlangsung. Keberhasilan Pusat Kebudayaan Bali nantinya tidak hanya diukur dari keberadaan fasilitas yang dibangun. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan kawasan tersebut dalam menjaga kebudayaan Bali, menghidupkan kegiatan sepanjang tahun, membuka lapangan kerja, serta menciptakan perputaran ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Di titik inilah kepemimpinan Putu Hendika akan diuji. Sebagai Direktur Utama, ia harus memastikan visi besar Gubernur Bali I Wayan Koster dapat diterjemahkan menjadi tata kelola dan kegiatan usaha yang nyata, tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi dasar pembangunan kawasan.
Pusat Kebudayaan Bali membawa peluang besar untuk mengubah arah pertumbuhan ekonomi Bali. Dari Klungkung, pusat kebudayaan dan kegiatan ekonomi baru dapat berkembang sekaligus memperkuat posisi Bali Timur dalam peta pembangunan Pulau Dewata.(Eko)

Tinggalkan Balasan