Sejarah Sunan Giri Pit Banjarnegara
Oleh: Dr Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347)
A. Sesepuh Kabupaten Banjarnegara.
Sejak berdirinya Kerajaan Pajang tahun 1546, wilayah Banjarnegara mendapat perhatian utama. Beliau mengutus Sunan Giri Pit untuk melakukan pembinaan masyarakat.
Sunan Giri Pit putra Sunan Giri Merape. Dua saudaranya yaitu Sunan Wasiat dan Nyi Sekati. Dalam sejarahnya Nyi Ageng menikah Ki Karang Kobar. Beliau juga bergelar Syekh Karang Kobar.
Peristiwa historis telah berukir indah. Sebanyak 150 abdi dalem karaton Surakarta Hadiningrat diwisuda oleh GKR Dra Wandansari Koes Moertiyah M.Pd. Ketua Lembaga Dewan Adat dan Pangageng Sasana Wilapa ini datang di Balai Budaya Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Acara diselenggarakan pada tanggal 12 Desember 2020.
Pengurus Paguyuban Abdi Dalem karaton Surakarta Hadiningrat atau PAKASA Cabang Banjarnegara dipimpin KRAT Eko Budiarto Tirto Rumekso. Dengan alamat Jl Garuda no 61 Rt 02 Rw 03 kel parakancanggah Banjarnegara. Sebelah utara terdapat Gunung Lawe atau Gunung Pawinihan. Jaman Kraton Pajang tahun 1547 Ki Ageng Pawinihan diutus untuk membina sekitar Gunung Dieng.
Pelantikan pamong PAKASA Cabang Banjarnegara dilantik KPH Dr Wirobhumi SH. Ketua PAKASA Punjer beralamat di kantor Badan Pengelola Kori Kamandungan Baluwarti Karaton Surakarta. Pakasa yang berdiri di bermacam macam tempat, selalu berkoordinasi. Demi kelancaran Paguyuban.
Organisasi PAKASA berdiri tahun 1931, saat Sinuwun Paku Buwana X memeribtah. Ketua PAKASA pertama dijabat KGPH Suryo Hamijoyo. Kelak beliau aktif sebagai anggota BPUPKI atau Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Perwakilan PAKASA menduduki posisi penting di berbagai organisasi kemasyarakatan. Wuryaningrat memimpin Budi Utomo, Parindra atau Partai Indonesia Raya. Sosrodiningrat anggota PAKASA yang menjabat eksekutif kepatihan. Dr Radjiman Wedyadiningrat mewakili PAKASA dalam pergerakan. Nanti juga sebagai anggota dan ketua BPUPKI.
Pada masa pemerintahan Republik Indonesia, Prof Dr Notonagoro adalah warga PAKASA yang menjadi penafsir Dasar Negara Pancasila. Juga Jenderal KGPH Jatikusumo merupakan warga PAKASA yang pernah menjabat sebagai KSAD dan Menteri Pariwisata. Begitulah warga Pakasa dalam berbagai kegiatan.
Dari Kabupaten Banjarnegara PAKASA bersemi di sebelah Gunung Sindoro, gunubg Sumbing, Gunung Dieng dan Gunung Slamet. Deretan gunung ini memberi rerenggan Kabupaten Banjarnegara. Di tengah kota mengalir Kali Serayu. Lantas ingat lelagon Serayu.
Lagu Serayu.
Adhuh segere banyune ing sendang, ilang kesele wis mari le mriyang, banyune Bening nyegerake ati, kudu sing eling mring tindak kang suci.
Sejak hari kamis 10 Desember 2020 warga Pakasa tampak sibuk. Spanduk sudah dipasang. Gladhi resik prosesi wisudan. Perizinan dari polri telah beres. Koordinasi dilakukan begitu teliti rapi.
Persiapan acara dengan semangat gotong royong. Makan siang pakai suguhan bakso kupat. Opak tela, rengginang, kerupuk bunder. Tak lupa teh anget manda manda. Kota Banjarnegara memang terkenal dengan makanan tradisional yang edi mirasa. Di mana mana orang mengenal dawet ayu. Sawab spiritual guru spiritual menyebabkan bisnis kuliner laris manis.
B. Guru Spiritual di Kaki Gunung Lawe.
Lereng Gunung Lawe menjadi tempat mengasah ketajaman spiritual. Tiap malam jumat, warga Banjarnegara melakukan tapa brata. Mereka manekung ing ngarsanipun Hyang Maha Agung.
Perjalanan budaya spiritual ke arah gunung Lawe. Rute ini sama dengan jalan wisata Gunung Dieng. Kanan kiri bisa tembus Kabupaten Wonosobo, Purbalingga dan Pekalongan. Lereng gunung Lawe dibangun waduk Mrican. Berguna untuk pengairan dan pembangkit tenaga listrik.
Lewat daerah penting, yakni Banjar Petambakan dan Banjar Mangu. Ada tokoh besar, yaitu Ki Ageng Giri Pit dan Ki Ageng Karang Kobar. Beliau tokoh spiritual Kabupaten Banjarnegara. Mereka merupakan guru utama jamab Karaton Pajang yang ditugaskan mengajar di Padepokan sejati tahun 1549.
Peradaban Banjarnegara berhubungan dengan kisah Watu Lembu. Ada peninggalan purbakala berupa batu dan patung lembu. Maka disebut daerah Watu Lembu. Peninggalan sejarah dikelola dinas kebudayaan.
Kali Mrawu bermata air dari Gunung Lawe. Selamanya aliran sungai Mrawu selalu keruh. Jadi perlambang, agar Sunan Giri Pit berjuang terus menerus. Perjuangan tidak boleh berhenti. Begitulah wasiat Kanjeng Sunan Giri. Ajaran Sunan Giri Pit menjadi pelita alam.
Hadirnya Sunan Giri Pit atas restu sesepuh Banjarnegara. Namanya Ki Ageng Sela Manik. Beliau seorang Sakti mandaguna. Dari sambutan yang sangat penting ini kiprah Sunan Giri Pit menjadi gancar lancar.
Generasi muda perlu memahami cikal bakal pelopor berdirinya Kabupaten Banjarnegara. Nilai kearifan lokal warisan Sunan Giri Pit sebagai sarana untuk membangun peradaban besar.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan