Liputan BERITA

Berjuang Besarkan Partai, Namun Ditempatkan Di Nomor Urut Sandal Jepit. Pengamat Politik Di Pacitan: Awas, “Perselingkuhan Politik” Bisa Terjadi

Ditulis oleh Liputan68 pada 1 Juni 2023 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan- Jika benar sistem pemilu akan berubah menjadi proporsional tertutup, tidak menutup kemungkinan “perselingkuhan politik” akan berlangsung.

Fenomena ini diduga akan dialami oleh bakal calon petahana, yang tidak mendapatkan perhatian dari parpol pengusungnya.

Mereka yang berharap ada di nomor urut atas, namun kenyataannya, mereka di tempatkan di nomor urut sandal jepit, karena kehadiran bakal calon baru yang mungkin dipandang lebih memiliki popularitas atau ada kedekatan dengan elite parpol.

Salah seorang pengamat politik di Pacitan Hadi Subowo mengatakan, anomali aturan dalam penyelenggaraan pemilu, membuat peta politik kian carut-marut. Demikian juga loyalitas kader semakin bias dan samar.

Maka, lanjut dia, tak salah apabila ritme politik serong kanan, serong kiri akan mewarnai tahapan kepemiluan. “Selain urban politik, mungkin perselingkuhan politik juga bisa terjadi. Loyalitas tak lagi menjadi prioritas, namun cuan politik yang lebih mendominasi,” kata purna bakti ASN lingkup Pemkab Pacitan ini, Kamis (1/6).

Perselingkuhan politik, lanjut Hadi Subowo, mungkin akan menjadi salah satu jurus balas dendam bagi para bacaleg yang kecewa, karena diposisikan pada urutan sandal jepit. “Ya bisa saja seperti itu. Karena kecewa, berjuang namun hasilnya masih spekulatif, bisa jadi mereka akan melakukan kong kalikong dengan parpol lain.

Suatu misal basis massa mereka akan diserahkan ke parpol lain dengan bargaining tertentu. Serong kanan dan serong kiri seperti itu tak menutup kemungkinan akan berlangsung ketika nanti MK memutuskan perubahan sistem pemilu ke proporsional tertutup,” jelasnya.

Menurut Hadi Subowo, identitas figur atau figur. Id, bukan lagi menjadi pertimbangan karena didominasi rasa kecewa yang berujung dendam politik. “Ya mungkin dibenak mereka, hanya cuan dan cuan, bukan lagi sebuah idiologi kepartaian. Sebab perjuangan mereka selama ini tidak mendapat apresiasi dari parpol karena kehadiran calon baru yang mungkin dipandang lebih populis atau ada kedekatan dengan elite partai,” pungkasnya. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian