Liputan BERITA

Tinjau Pasar Pon Pacitan, Staf Ahli Bupati, Prayitno Serap Aspirasi Pedagang Sapi di Tengah Lesunya Perdagangan

Ditulis oleh Yuniardi Yuniardi pada 13 Oktober 2026 • ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan68.com-Aktivitas perdagangan di Pasar Pon Pacitan, Desa Semanten, Kecamatan Pacitan, menjadi ruang bagi pemerintah daerah untuk mendengar langsung denyut perekonomian masyarakat.

Pada Selasa (13/10), Staf Ahli Bupati Pacitan Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Prayitno, meninjau pasar hewan tersebut sekaligus menyerap aspirasi para pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kunjungan ini tidak sekadar melihat geliat transaksi di pasar, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memahami berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menjalankan roda usaha, khususnya di sektor perdagangan hewan ternak.

Pasar Pon selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas jual beli ternak, terutama sapi dan kambing. Namun, denyut ekonominya tidak berhenti pada transaksi hewan. “Di antara keramaian pedagang dan pembeli, pasar ini juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk mengais rezeki melalui beragam komoditas, mulai dari bibit tanaman, peralatan pertanian seperti sabit, cangkul dan pisau, burung, pakaian, hingga aneka kuliner,” kata Prayitno.

Beragam aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pasar tradisional memiliki peran lebih luas daripada sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar menjadi simpul ekonomi rakyat yang menghubungkan banyak mata pencaharian sekaligus menggerakkan perputaran uang di tengah masyarakat.

Margin Menipis, Pedagang Sapi Hadapi Tantangan

Dalam kunjungannya, Prayitno berdialog langsung dengan Arif, pedagang sapi asal Desa Pringkuku. Percakapan tersebut menjadi ruang untuk menggali kondisi riil perdagangan sapi yang belakangan dirasakan semakin menantang.

Arif mengungkapkan, aktivitas jual beli sapi saat ini cenderung kurang menggairahkan. Selisih harga beli dan harga jual yang relatif tipis membuat keuntungan pedagang semakin terbatas. Situasi ini menuntut pedagang untuk lebih cermat dalam memperhitungkan modal, harga pasar, serta risiko usaha.

Bagi pedagang sapi, transaksi yang berhasil belum tentu berbanding lurus dengan keuntungan yang memadai. Ketika margin perdagangan semakin sempit, keberlangsungan usaha pun menjadi tantangan tersendiri.

Persoalan tersebut menggambarkan dinamika yang dihadapi pelaku usaha di pasar hewan. Di balik aktivitas tawar-menawar yang berlangsung, terdapat harapan agar perdagangan tetap berjalan sehat dan mampu memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor tersebut.

Regenerasi Peternak Jadi Perhatian

Selain persoalan margin perdagangan, keberlangsungan sektor peternakan juga menghadapi tantangan dari sisi sumber daya manusia. Berkurangnya jumlah peternak serta belum optimalnya regenerasi menjadi salah satu persoalan yang patut mendapat perhatian.

Sebagian generasi muda kini cenderung memilih bekerja di sektor industri, perdagangan, jasa, maupun mencari pekerjaan di luar daerah yang dinilai menawarkan peluang pendapatan lebih pasti.

Kecenderungan ini menjadi tantangan bagi keberlanjutan usaha peternakan, yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat perdesaan. Tanpa regenerasi yang memadai, keberlangsungan usaha peternakan dan ketersediaan pasokan ternak dalam jangka panjang berpotensi menghadapi tekanan.

Padahal, sektor peternakan memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan pangan, aktivitas perdagangan, serta sumber penghasilan masyarakat. “Karena itu, upaya menjaga keberlanjutan sektor ini perlu memperhatikan bukan hanya aspek produksi, tetapi juga daya tarik usaha bagi generasi penerus,” tegas mantan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian Pacitan ini.

Pasar Tradisional, Ruang Aspirasi dan Penggerak Ekonomi Rakyat

Melalui kunjungan tersebut, Prayitno berharap aspirasi yang disampaikan para pedagang dapat menjadi bahan perhatian dalam mendorong penguatan sektor peternakan, meningkatkan daya saing UMKM, serta membuka peluang usaha yang lebih menarik bagi generasi muda.

Dialog langsung dengan pelaku usaha menjadi salah satu cara untuk memahami persoalan ekonomi dari sudut pandang masyarakat yang mengalaminya setiap hari. Masukan dari lapangan diharapkan dapat memperkaya perhatian dan upaya pemerintah daerah dalam mendukung aktivitas ekonomi lokal.

Pasar Pon Pacitan pun menjadi gambaran bahwa ekonomi kerakyatan bertumpu pada banyak unsur yang saling berkaitan. Perdagangan ternak, usaha kecil, hingga aktivitas jual beli kebutuhan sehari-hari membentuk ekosistem ekonomi yang menopang kehidupan masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan, keberadaan pasar tradisional tetap memiliki arti penting sebagai ruang bertemunya potensi, mata pencaharian, dan peluang pengembangan usaha lokal. Menjaga keberlangsungannya berarti turut merawat denyut ekonomi masyarakat sekaligus membuka jalan bagi tumbuhnya usaha yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (Red/yun).

Ditulis oleh Yuniardi Yuniardi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian